ilustrasi London, Inggris, Eropa, pejalan kaki (pexels.com/Daria Agafonova)
Walaupun gak ada negara Eropa yang mendekati kekayaan AS dan China, kawasan tersebut tetap punya banyak wakil dalam daftar. Jerman menjadi negara Eropa dengan kekayaan rumah tangga terbesar, yaitu 23 triliun dolar AS atau sekitar Rp405,6 triliun, disusul Prancis 16 triliun dolar AS atau Rp282,2 triliun, Inggris 15 triliun dolar AS atau Rp264,5 triliun, dan Italia 13 triliun dolar AS atau Rp229,3 triliun. Spanyol juga mencatat 11 triliun dolar AS atau sekitar Rp194 triliun, sedangkan Belanda mencapai 6,4 triliun dolar AS atau sekitar Rp112,9 triliun.
Menariknya, beberapa negara Eropa justru termasuk yang mengalami pertumbuhan kekayaan rumah tangga paling cepat pada 2025. Polandia, Irlandia, Spanyol, dan Swedia mencatat pertumbuhan dua digit dalam denominasi dolar AS. Negara-negara dengan nilai lebih kecil seperti Belgia, Swedia, Austria, Denmark, Polandia, Irlandia, Portugal, dan Finlandia juga tetap masuk dalam daftar, menunjukkan bahwa peta kekayaan global gak hanya ditentukan oleh negara dengan ekonomi terbesar.
Data tersebut menunjukkan bahwa kekayaan rumah tangga dunia memang terus bertambah, tapi persebarannya masih jauh dari merata. AS sendiri menguasai 175 triliun dolar AS atau sekitar Rp3.086,3 kuadriliun, setara dengan 30,7 persen dari total kekayaan rumah tangga global. China berada di posisi kedua dengan 75 triliun dolar AS atau sekitar Rp1.322,7 kuadriliun, sehingga keduanya secara bersama-sama menguasai hampir 44 persen kekayaan rumah tangga dunia.
Buat kamu, angka ini juga menunjukkan kenapa melihat pertumbuhan kekayaan global gak cukup hanya dari total nominalnya. Kamu perlu melihat negara mana yang menguasainya dan bagaimana kekayaan tersebut tersebar di dalam masing-masing negara. Sebab, sebuah negara bisa memiliki total kekayaan yang sangat besar, tapi manfaat ekonominya belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.