Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Badan Pangan PBB Dorong Investasi Inovasi Sistem Pangan Global
ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (Makaristos, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • FAO menyerukan peningkatan investasi pada inovasi, teknologi, dan generasi muda untuk mengatasi penurunan produktivitas pertanian, hilangnya keanekaragaman hayati, serta tekanan sumber daya air.
  • Qu Dongyu menilai kecerdasan buatan, perangkat digital, ilmu pengetahuan, model bisnis, dan kerja sama internasional penting bagi pertanian berkelanjutan; jaringan World Food Forum telah menjangkau lebih dari 100 cabang pemuda nasional.
  • FAO mencatat komitmen investasi Hand-in-Hand Initiative senilai 7,88 miliar dolar AS, sementara Italia menyoroti 645 juta orang kelaparan dan mendorong kemandirian pangan Afrika melalui Mattei Plan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemimpin Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Qu Dongyu, menyerukan peningkatan investasi dalam bidang inovasi, teknologi, dan generasi muda untuk mentransformasi sistem pangan global di tengah tantangan lingkungan dan pertanian yang kian meningkat. Seruan tersebut disampaikan Qu saat berpidato pada pembukaan World Food Forum 2026 di Roma, Italia, pada Senin (12/10/2026).

Qu menekankan perlunya percepatan langkah nyata guna mengatasi penurunan produktivitas pertanian, hilangnya keanekaragaman hayati, dan peningkatan tekanan terhadap sumber daya air. Dilansir Anadolu Agency, Qu menyatakan bahwa transformasi sistem pangan membutuhkan penguatan inovasi pada teknologi, model bisnis, dan kerja sama internasional.

1. Fokus inovasi teknologi dan kepemimpinan perempuan muda

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu (Xuthoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Dalam pidatonya, Qu menyoroti peran penting kecerdasan buatan, perangkat digital, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Seluruh sektor tersebut dinilai menjadi instrumen penting dalam mengembangkan berbagai solusi pertanian yang berkelanjutan.

"Kita harus berbuat lebih banyak dan lebih baik dalam skala besar," kata Qu seperti dikutip Anadolu Agency. Qu juga menekankan pentingnya berinvestasi pada generasi muda, khususnya perempuan muda, demi memperkuat partisipasi serta kepemimpinan mereka dalam sistem pangan.

Keterlibatan generasi muda tersebut tercatat terus meluas secara global. Qu memaparkan bahwa jaringan World Food Forum kini telah berkembang hingga menjangkau lebih dari 100 cabang pemuda nasional.

2. Inisiatif investasi FAO kantongi 7,88 miliar dolar AS

ilustrasi mata uang dolar AS (pexels.com/John Guccione www.advergroup.com)

Selain menyoroti aspek teknologi, Qu memaparkan perkembangan forum investasi Hand-in-Hand Initiative yang dikelola oleh FAO. Forum investasi tersebut diselenggarakan guna mendukung pembangunan sektor pertanian dan perekonomian pedesaan.

Qu mengungkapkan bahwa inisiatif tersebut saat ini telah mencatat komitmen dan perundingan investasi sebesar 7,88 miliar dolar AS atau setara Rp141,15 triliun. Jumlah tersebut mencakup pendanaan yang telah disepakati maupun komitmen modal yang masih berada dalam tahap negosiasi.

3. Meloni sebut 645 juta orang di dunia alami kelaparan

ilustrasi antrean penerimaan makanan gratis (unsplash.com/Michael Ali)

Dalam forum yang sama, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni turut menyampaikan pandangannya melalui sebuah pesan video. Meloni menyebut persoalan ketahanan pangan sebagai salah satu tantangan global terbesar saat ini. Dia juga memperingatkan bahwa perang telah membuktikan betapa pentingnya ketahanan pangan bagi stabilitas nasional sebuah negara.

Meloni memaparkan bahwa sebanyak 645 juta orang di seluruh dunia saat ini masih menderita kelaparan. Dari jumlah tersebut, porsi terbesar masyarakat yang mengalami kelaparan berada di benua Afrika.

4. Rencana Mattei Italia dorong kemandirian pangan Afrika

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (governo.it, CC BY 3.0 it, via Wikimedia Commons)

Meloni menyoroti program Mattei Plan milik Italia yang bertujuan mengurangi malnutrisi di Afrika. Inisiatif tersebut juga dirancang untuk menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda sekaligus memperkuat sektor pertanian yang berdaya tahan terhadap iklim. Dia menekankan pentingnya kemitraan antara Eropa dan Afrika guna mendongkrak produksi pangan lokal serta swasembada.

"Italia merasakan tanggung jawab untuk mempromosikan hubungan antara Eropa dan Afrika melalui kemitraan yang didasarkan pada timbal balik dan pertumbuhan bersama," ujar Meloni. Meloni menegaskan esensi ketahanan pangan bagi setiap bangsa. "Ketahanan pangan bukan sekadar tentang memproduksi pangan, melainkan tentang memberdayakan bangsa-bangsa untuk memproduksi, mengolah, dan mendistribusikannya secara mandiri," tegasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article