Imbas Konflik Global dan El Nino, PBB Peringatkan Harga Pangan Naik

- FAO memperingatkan harga pangan global berpotensi naik pada akhir 2026 dan lebih tinggi tahun berikutnya, meski awal tahun relatif stabil, akibat konflik di Iran dan Ukraina serta El Nino.
- Kenaikan harga minyak dan gas memperbesar biaya pengolahan, pengemasan, transportasi, pupuk, dan operasional pertanian; dampak kenaikan bahan mentah diperkirakan mencapai konsumen dalam tiga hingga enam bulan.
- Gangguan Selat Hormuz dan El Nino menekan produksi serta pasokan pangan: Australia memperkirakan panen musim dingin turun 21 persen, sementara keterlambatan hujan di India mengancam produksi beras.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan potensi kenaikan harga pangan global. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya konflik di Iran dan Ukraina, serta ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino.
Meskipun harga pangan dunia relatif stabil pada awal 2026, FAO menilai kondisi tersebut tidak bertahan lama. Kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok diperkirakan mulai mendongkrak harga pangan pada akhir tahun ini.
1. Biaya energi dorong kenaikan harga pangan global

Ekonom Utama FAO, Maximo Torero, memperkirakan harga komoditas pangan akan meningkat bertahap sebelum dampaknya terasa langsung di tingkat konsumen.
"Harga komoditas mulai naik sekarang dan harga pangan diperkirakan meningkat pada akhir tahun ini, lalu melambung lebih tinggi tahun depan," kata Torero.
Torero menjelaskan, butuh waktu tiga hingga enam bulan bagi kenaikan harga bahan mentah untuk sampai ke produk jadi. Selain itu, harga minyak dan gas sangat menentukan biaya pengolahan, pengemasan, transportasi, hingga pembuatan pupuk.
2. Gangguan rantai pasok tekan produksi pertanian

FAO menilai gangguan pada pasokan energi meningkatkan biaya operasional pertanian di berbagai negara. Salah satunya akibat peran vital Selat Hormuz dalam distribusi bahan bakar dan pupuk dunia.
"Selat Hormuz menjadi jalur krusial yang memengaruhi seluruh pasokan komoditas dan sistem pertanian global," ujar Torero, dikutip dari Daily Star.
Tekanan biaya ini sudah dirasakan para petani di Eropa, Amerika Serikat, Brasil, Asia, hingga Australia. Di Australia, pemerintah memperkirakan produksi tanaman musim dingin bakal anjlok hingga 21 persen akibat tingginya harga bahan bakar dan pupuk.
3. Pengaruh iklim El Nino pada produksi pertanian

Selain konflik dan energi, fenomena El Nino juga berpotensi mengacaukan pola curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan. Kondisi ini mengancam produktivitas pertanian dan memangkas pasokan pangan dunia.
"Fenomena El Nino tahun ini diprediksi cukup kuat dan bakal mengubah pola curah hujan secara signifikan," tulis laporan resmi FAO, dikutip dari Economic Times.
Sebagai contoh, keterlambatan musim hujan di India mulai mengancam produksi beras. FAO khawatir tergerusnya keuntungan petani akan membuat mereka mengurangi luas lahan tanam, sehingga pasokan pangan dunia makin terbatas dalam beberapa tahun ke depan.





















