Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Label Harga Coret Bikin Produk Makin Laris? Ini Rahasianya
ilustrasi diskon (pexels.com/Erik Mclean)
  • Price anchoring menampilkan harga acuan, seperti harga lama lebih tinggi, agar harga diskon terasa lebih menguntungkan dan memengaruhi keputusan pembelian pelanggan.
  • Strategi ini dapat meningkatkan penjualan, menguji preferensi konsumen, dan mendorong upselling, tetapi harga awal yang dimanipulasi atau diskon berulang berisiko merusak kepercayaan merek.
  • Bentuk price anchoring mencakup high dan low anchors, tiered pricing, perbandingan harga pesaing, serta bundling untuk membentuk persepsi nilai produk atau layanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Toko suka menunjukkan harga lama yang mahal lalu harga baru yang lebih murah. Orang jadi membandingkan dan merasa senang karena seperti dapat diskon besar. Ini disebut harga jangkar. Toko juga bisa memberi pilihan barang murah dan mahal. Tapi toko harus jujur. Kalau harga lama dibuat terlalu tinggi, pembeli bisa merasa ditipu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pernah melihat sebuah produk yang awalnya memiliki harga tinggi, lalu diberi label harga coret alias diskon dengan harga yang jauh lebih murah? Strategi tersebut merupakan salah satu bentuk price anchoring atau penetapan harga jangkar.

Price anchoring adalah taktik penjualan ketika penjual menampilkan suatu titik harga tertentu untuk membentuk persepsi pelanggan terhadap nilai sebuah produk. Strategi ini bertujuan memengaruhi keputusan pembelian, sehingga pelanggan merasa harga setelah diskon merupakan sebuah keuntungan.

Contohnya dapat ditemukan saat berbelanja pakaian ketika musim diskon. Label harga lama yang lebih tinggi biasanya tetap ditampilkan di samping harga baru yang lebih rendah. Harga awal tersebut menjadi "jangkar" yang membuat pelanggan membandingkan kedua harga dan merasa mendapatkan barang dengan harga lebih murah.

Dilansir Sales Force, dalam praktiknya, price anchoring memiliki beberapa bentuk, seperti high anchors, low anchors, tiered pricing, hingga competitor comparison. Setiap strategi memiliki cara berbeda dalam memengaruhi cara pelanggan melihat nilai suatu produk.

1. Bagaimana price anchoring bekerja secara psikologis?

ilustrasi diskon (pexels.com/Erik Mclean)

Mendapatkan barang dengan harga murah saat diskon sering kali memberikan kepuasan tersendiri bagi pelanggan. Mereka merasa berhasil menemukan penawaran yang menguntungkan setelah menunggu waktu yang tepat.

Fenomena tersebut berkaitan dengan psikologi bias kognitif, yaitu cara otak memproses informasi yang ingin dipercaya seseorang meskipun informasi tersebut belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.

Dalam price anchoring, harga awal yang lebih tinggi menjadi acuan utama pelanggan dalam menilai sebuah produk. Meskipun harga tersebut mungkin berada di luar kemampuan atau anggaran mereka, harga setelah diskon dapat terlihat lebih menarik karena dibandingkan dengan harga awal yang lebih mahal.

Persepsi mengenai mahal atau murahnya sebuah produk bersifat relatif. Ketika pelanggan memiliki banyak pilihan, mereka tidak hanya menilai harga berdasarkan angka sebenarnya, tetapi juga membandingkannya dengan produk atau pilihan lain yang tersedia.

Melalui strategi ini, pelanggan dapat memperoleh produk atau layanan sesuai anggaran, sementara penjual memiliki peluang lebih besar untuk menyelesaikan transaksi.

2. Kelebihan dan risiko menggunakan price anchoring

ilustrasi belanja saat diskon sale (pexels.com/Max Fischer)

Price anchoring dapat membantu bisnis meningkatkan penjualan karena membuat produk terlihat lebih terjangkau dibandingkan harga awal yang ditampilkan.

Strategi ini juga dapat memberikan informasi mengenai perilaku pembelian pelanggan. Bisnis dapat mengetahui preferensi konsumen dengan menguji berbagai tingkat harga dan melihat respons terhadap harga yang dijadikan acuan.

Selain itu, price anchoring bersifat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan perubahan kondisi pasar maupun perilaku pelanggan.

Strategi ini juga dapat digunakan untuk mendorong upselling, yaitu mengarahkan pelanggan memilih produk dengan harga lebih tinggi karena menawarkan lebih banyak fungsi atau kemampuan dibandingkan pilihan yang lebih murah.

Di sisi lain, price anchoring perlu diterapkan secara jujur dan bertanggung jawab. Jika harga awal sengaja dinaikkan terlalu tinggi agar diskon terlihat besar, pelanggan dapat merasa tertipu. Kondisi tersebut berisiko merusak kepercayaan pelanggan dan reputasi merek.

Penggunaan price anchoring yang terlalu sering juga dapat membuat pelanggan terbiasa dengan harga awal yang tinggi. Selain itu, produk yang terus-menerus dijual jauh di bawah nilai yang dipersepsikan dapat membuat pelanggan mempertanyakan kualitas atau nilai produk tersebut.

3. Beragam bentuk strategi price anchoring

ilustrasi seorang pembeli memeriksa label harga (pexels.com/Proyek Saham RDNE)

Strategi price anchoring memiliki berbagai bentuk yang dirancang untuk memengaruhi persepsi dan keputusan pelanggan. Berikut bentuknya:

High anchors

Strategi ini sering digunakan pada produk mewah. Penjual menampilkan produk premium berdampingan dengan produk yang memiliki harga lebih rendah. Produk dengan harga lebih rendah kemudian terlihat sebagai pilihan yang lebih bernilai dibandingkan produk premium tersebut.

Contohnya, dealer mobil menampilkan mobil sport mewah dengan harga Rp1 miliar di samping sedan kelas menengah seharga Rp300 juta. Harga mobil sport yang tinggi membuat sedan tersebut terlihat lebih terjangkau dan memiliki nilai lebih baik.

Low anchors

Berbeda dengan high anchors, strategi low anchors digunakan untuk mendorong pelanggan memilih produk dengan harga lebih tinggi.

Harga awal yang lebih rendah membuat pelanggan membandingkan fitur dan kemampuan produk. Mereka kemudian dapat melihat pilihan yang lebih mahal menawarkan manfaat lebih banyak.

Contohnya, layanan streaming menawarkan paket dasar seharga Rp50 ribu per bulan dan paket premium seharga Rp100 ribu per bulan dengan fitur tambahan. Harga paket dasar membuat paket premium terlihat lebih bernilai meskipun harganya lebih mahal.

Tiered pricing

Strategi tiered pricing menawarkan beberapa tingkatan produk atau layanan dengan kemampuan berbeda.

Contohnya, perusahaan perangkat lunak menyediakan paket dasar, pro, dan premium. Paket dasar memiliki fitur standar dengan harga lebih rendah, sedangkan paket pro dan premium menawarkan lebih banyak kemampuan dengan harga yang lebih tinggi.

Reference pricing

Reference pricing dilakukan dengan membandingkan harga produk dengan harga pesaing.

Contohnya, sebuah merek menjual smartphone seharga Rp5 juta dan menyebut produknya lebih murah Rp500 ribu dibandingkan merek lain ketika pelanggan menggunakan kontrak tertentu. Strategi ini tidak hanya mendorong pembelian, tetapi juga dapat membuat pelanggan berpindah pilihan merek.

Bundle pricing

Bundle pricing merupakan strategi menggabungkan beberapa produk atau layanan dalam satu paket dengan harga yang biasanya lebih rendah dibandingkan membeli setiap produk secara terpisah. Strategi ini banyak digunakan dalam berbagai sektor, seperti asuransi hingga makanan cepat saji.

Contohnya, penyedia layanan televisi kabel menawarkan paket yang mencakup internet, telepon, televisi, serta fitur tambahan seperti DVR atau platform streaming dengan harga lebih murah dibandingkan membeli setiap layanan secara sendiri-sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article