Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bermula dari Kacang Hijau, Lahir Bisnis Minuman Kekinian
ilustrasi kacang ijo (pexels.com/id-id/vie-studio/)
  • Mungbee, dirintis Monica sejak November 2019, mengolah kacang hijau menjadi minuman tanpa santan dan rendah gula, lalu aktif dipasarkan saat pandemik COVID-19.

  • Melihat minimnya minuman kacang hijau di Bali, Mungbee menghadirkan varian Original, Es Doger, Es Teler, dan Choco Cream dengan bahan dasar yang sama.

  • Mungbee telah memiliki buyer di Jeddah dan Jepang, serta memperluas inovasi melalui Ginger Plus, lini cold-pressed juice dan wellness shot yang diluncurkan Februari 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kacang hijau selama ini identik dengan bubur, bakpia, bakpao, hingga onde-onde. Namun, Mungbee mencoba menghadirkan olahan kacang hijau dalam bentuk yang berbeda, yakni minuman sari kacang hijau.

Founder Mungbee, Monica menceritakan pertama kali merintis Mungbee pada November 2019 sebagai usaha rumahan dan melihat peluang yang besar seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap makanan dan minuman yang lebih sehat. Saat itu, produk Mungbee hanya dibuat untuk kalangan terdekat. Bisnis ini kemudian mulai aktif dipasarkan ketika pandemik COVID-19 melanda.

"Kami mulai aktif pemasaran saat pandemik. Mungbee adalah minuman sari kacang hijau berbahan dasar kacang hijau asli, tanpa santan, rendah gula," ungkap Monica kepada IDN Times, Senin (27/9/2026).

1. Alasan memilih kacang hijau sebagai bahan dasar pembuatan Mungbee

Pemilik Mungbee Monica Asri Wulandari. (Dok/Istimewa).

Ia bercerita nama Mungbee berasal dari gabungan kata moong yang berarti kacang hijau dan bee yang berarti lebah. Lebah dipilih karena dianggap memiliki filosofi sebagai hewan yang aktif dan memberikan dampak positif bagi lingkungan. Filosofi tersebut kemudian menjadi harapan agar Mungbee juga bisa memberikan dampak positif bagi konsumen dan lingkungan.

Bagi Monica, perjalanan Mungbee bukan sekadar tentang menghadirkan minuman dengan bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, Mungbee menjadi bukti bahwa sesuatu yang sederhana dapat diolah menjadi sebuah inovasi yang memiliki nilai dan manfaat.

Berawal dari dapur rumah dan diproduksi untuk orang-orang terdekat, Mungbee perlahan tumbuh menjadi sebuah usaha yang membawa semangat untuk mengenalkan kacang hijau dalam cara yang lebih modern dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kisah Mungbee juga menunjukkan bahwa sebuah ide tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Terkadang, keberanian untuk memulai dari hal kecil, konsistensi untuk terus berkembang, dan keinginan untuk memberikan manfaat justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih berarti.

Melalui Mungbee, Monica ingin membuktikan bahwa bisnis dapat tumbuh bukan hanya dengan mengejar keuntungan, tetapi juga dengan membawa nilai positif bagi konsumen, lingkungan, dan masyarakat di sekitarnya.

"Harapan bahwa Mungbee dapat memberikan dampak yang positif untuk customer dan lingkungan," ucapnya.

2. Melihat peluang dari kacang hijau

Produk olahan kacang ready to drink dengan merek Mungbee. (Dok/Istimewa).

Keputusan menggunakan kacang hijau sebagai bahan utama juga berangkat dari kondisi pasar di Bali. Saat memulai usaha, pemilik Mungbee melihat belum banyak pelaku usaha di Bali yang mengolah kacang hijau menjadi minuman.

Padahal, kacang hijau memiliki kandungan nutrisi dan selama ini lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk makanan tradisional. Dari situ, Mungbee mencoba mengemas kacang hijau menjadi minuman yang lebih sesuai dengan tren konsumsi masyarakat.

"Seiring berkembangnya usaha, Mungbee menghadirkan sejumlah varian rasa. Di antaranya Mungbee Original, Es Doger, Es Teler dan Choco Cream. Seluruh varian tersebut tetap menggunakan kacang hijau sebagai bahan dasarnya," jelasnya.

3. Tembus pasar Jeddah dan Jepang

Varian mungbee yang dijual di Jepang. (Dok/Istimewa).

Perjalanan mengembangkan usaha membuat tantangan Mungbee ikut bertambah. Salah satunya adalah tuntutan agar UMKM bisa terus beradaptasi, mengikuti tren, serta menghasilkan produk yang kreatif dan inovatif. Ketika peluang pasar semakin terbuka, Mungbee juga mulai menghadapi kebutuhan modal yang lebih besar.

Saat ini, Mungbee telah memiliki buyer di Jeddah dan Jepang. Namun, pemilik usaha mengaku masih menghadapi tantangan dalam mencari investor untuk memenuhi kebutuhan pengembangan bisnis dan pasar ekspor. Di tengah perubahan selera konsumen, Mungbee terus melakukan inovasi produk agar tetap sesuai dengan kebutuhan pasar.

Dari sisi produksi, kapasitas Mungbee saat ini mencapai 144 ton per hari. Kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya Mungbee memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.

"Dari sisi bahan baku, Mungbee belum bekerja sama langsung dengan petani lokal. Pasalnya, Mungbee membutuhkan kacang hijau kupas dengan kualitas premium. Sementara itu, petani lokal dinilai belum memiliki teknologi untuk menghasilkan kacang hijau kupas sesuai kebutuhan produksi tapi saat ini, pasokan kacang hijau Mungbee masih berasal dari Jawa Timur," tuturnya.

Tak hanya tantangan dari sisi pemenuhan bahan baku, bisnis Mungbee turut menghadapi dampak geopolitik, efisiensi pemerintah, perang, kenaikan nilai tukar dolar AS, kelangkaan BBM hingga kenaikan harga bahan baku. Kondisi tersebut mendorong Mungbee untuk terus mencari peluang baru melalui inovasi produk.

"Kini, produk Mungbee dan inovasi terbarunya telah tersedia di sejumlah healthy store di Denpasar dan Ubud. Mungbee juga telah masuk ke 12 outlet Pepito yang berada di kawasan Canggu, Seminyak dan Ubud.

Dari usaha rumahan yang awalnya hanya menyasar kalangan terdekat, Mungbee kini mulai memperluas pasar hingga ke luar negeri. Di saat yang sama, bisnis ini juga terus mencari cara untuk beradaptasi dengan perubahan tren dan tantangan ekonomi.

4. Inovasi dengan diversifikasi ke minuman wellness

Berbagai varian produk olahan kacang ready to drink dengan merek Mungbee. (Dok/Istimewa).

Perjalanan Monica dalam mengembangkan bisnis tidak berhenti di Mungbee. Sejak Februari 2026, ia kembali mencoba peluang baru dengan menghadirkan Ginger Plus, merek yang menawarkan cold-pressed juice dan wellness shot berbahan dasar jahe, buah-buahan, sayuran segar, dan rempah-rempah.

Ginger Plus hadir dalam lima varian, yakni Orange Spicy, Retinol, Balancing Hormones, Ocean Boost, dan After Party. Kehadiran lini produk baru ini menjadi bagian dari upaya Monica untuk terus berinovasi sekaligus menyesuaikan bisnis dengan perubahan kondisi ekonomi dan kebutuhan pasar.

"Inovasi ini menjadi salah satu strategi bisnis kami untuk menghadapi berbagai perubahan kondisi ekonomi," ujar Monica.

Curated For You

Editorial Team

Related Article