Varian mungbee yang dijual di Jepang. (Dok/Istimewa).
Perjalanan mengembangkan usaha membuat tantangan Mungbee ikut bertambah. Salah satunya adalah tuntutan agar UMKM bisa terus beradaptasi, mengikuti tren, serta menghasilkan produk yang kreatif dan inovatif. Ketika peluang pasar semakin terbuka, Mungbee juga mulai menghadapi kebutuhan modal yang lebih besar.
Saat ini, Mungbee telah memiliki buyer di Jeddah dan Jepang. Namun, pemilik usaha mengaku masih menghadapi tantangan dalam mencari investor untuk memenuhi kebutuhan pengembangan bisnis dan pasar ekspor. Di tengah perubahan selera konsumen, Mungbee terus melakukan inovasi produk agar tetap sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dari sisi produksi, kapasitas Mungbee saat ini mencapai 144 ton per hari. Kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya Mungbee memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.
"Dari sisi bahan baku, Mungbee belum bekerja sama langsung dengan petani lokal. Pasalnya, Mungbee membutuhkan kacang hijau kupas dengan kualitas premium. Sementara itu, petani lokal dinilai belum memiliki teknologi untuk menghasilkan kacang hijau kupas sesuai kebutuhan produksi tapi saat ini, pasokan kacang hijau Mungbee masih berasal dari Jawa Timur," tuturnya.
Tak hanya tantangan dari sisi pemenuhan bahan baku, bisnis Mungbee turut menghadapi dampak geopolitik, efisiensi pemerintah, perang, kenaikan nilai tukar dolar AS, kelangkaan BBM hingga kenaikan harga bahan baku. Kondisi tersebut mendorong Mungbee untuk terus mencari peluang baru melalui inovasi produk.
"Kini, produk Mungbee dan inovasi terbarunya telah tersedia di sejumlah healthy store di Denpasar dan Ubud. Mungbee juga telah masuk ke 12 outlet Pepito yang berada di kawasan Canggu, Seminyak dan Ubud.
Dari usaha rumahan yang awalnya hanya menyasar kalangan terdekat, Mungbee kini mulai memperluas pasar hingga ke luar negeri. Di saat yang sama, bisnis ini juga terus mencari cara untuk beradaptasi dengan perubahan tren dan tantangan ekonomi.