Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

BI: Outlook Moody's Tidak Cerminkan Pelemahan Fundamental Ekonomi RI

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia)
Intinya sih...
  • Stabilitas sistem keuangan dipastikan tetap terjaga.
  • Ketahanan eksternal yang tercermin dari neraca pembayaran Indonesia pun dipastikan tetap sehat.
  • Moody's proyeksi pertumbuhan ekonomi RI tetap 5 persen.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan penyesuaian outlook peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody's Investors Service (Moody’s) menjadi negatif tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian nasional.

Moody’s tetap mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada level investment grade Baa2, namun menurunkan outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.

“Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid,” ujar Perry dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/2/2026).

1. Stabilitas sistem keuangan dipastikan tetap terjaga

Screenshot_20260128_105921_YouTube.jpg
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025, Rabu (28/1/2026). (YouTube/BI)

Perry menjelaskan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga dengan baik. Kondisi tersebut ditopang oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang berada pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang terus berkembang, didukung oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat, turut menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Perry menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen, sehingga secara keseluruhan ekonomi nasional tumbuh 5,1 persen sepanjang 2025. Inflasi juga tetap terkendali pada level 2,92 persen, berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Di sisi lain, stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui komitmen kebijakan moneter yang konsisten.

2. Ketahanan eksternal yang tercermin dari neraca pembayaran Indonesia pun dipastikan tetap sehat

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia)

Ia menjelaskan ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kuat di tengah gejolak global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat, ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid. Neraca perdagangan pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS, didukung oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam maupun manufaktur.

Adapun posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"NPI pada tahun 2026 diperkirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dalam kisaran defisit 0,9-0,1 persen yerhadap PDB. Nilai tukar Rupiah diprakirakan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah," ungkapnya.

Dengan demikian, stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah.

Di sisi lain, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan​ di tengah ketidakpastian global yang meningkat, bersinergi erat dengan KSSK dan Program Asta Cita Pemerintah, serta terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar.

3. Moody's proyeksi pertumbuhan ekonomi RI tetap 5 persen

ilustrasi neraca pembayaran seimbang (Freepik.com/user21585500)
ilustrasi neraca pembayaran seimbang (Freepik.com/user21585500)

Sebelumnya, Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran 5 persen dalam jangka pendek hingga menengah, dengan ketahanan ekonomi yang terjaga. Moody's menilai bahwa defisit fiskal diperkirakan tetap akan berada di bawah 3 persen PDB, sementara kebijakan moneter dipandang akan terus mendukung stabilitas inflasi.

Moody's juga memperkirakan bahwa rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers. Meski demikian, Indonesia dinilainya masih akan menghadapi tantangan untuk meningkatkan basis penerimaan, yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Purbaya Ngaku Sudah Lama Tahu Dugaan Safe House di Kasus Bea Cukai

07 Feb 2026, 09:32 WIBBusiness