Comscore Tracker

Jurus Ampuh Startup Direct-to-Consumers Lewat Optimasi Data

Sebuah pandangan East Ventures pada startup D2C

East Ventures sebuah perusahaan modal ventura yang berpengaruh di Asia Tenggara percaya pada founders startup Direct-to-Consumers (D2C) yang sangat gigih membangun brand yang fokus pada pelanggan dan inovatif.

Mengapa demikian? Stacy Oentoro, VP of Investment di East Ventures menjelaskan, "Singkatnya dilihat dari sisi makro, konektivitas global yang tinggi, dan adanya tumbuhnya generasi cakap digital seperti millennial dan Gen Z ternyata merubah perilaku konsumen secara signifikan. Menurut laporan McKinsey, perilaku Gen Z dalam membeli sesuatu penuh dengan keinginan dan ekspresi personal. Tentu para pebisnis perlu beradaptasi dengan hal ini."

Bagaimana dengan startup D2C? Simak lebih lengkapnya di bawah ini.

1. Startup D2C yang dekat dengan generasi baru cenderung punya LTV yang tinggi

Jurus Ampuh Startup Direct-to-Consumers Lewat Optimasi DataIlustrasi Gen Z dan brand yang disukai (Shutterstock/PKStockphoto)

Di Indonesia sendiri, segmentasi pasar milenial dan Gen Z adalah setengah dari total populasi. Artinya ada hampir 21 juta pelanggan digital baru yang muncul dalam dua tahun terakhir. Bahkan, menurut riset dari Bloomberg, Gen Z memiliki US$ 36 miliar untuk dibelanjakan. Sebuah angka fantastis yang membuat banyak brand mencari cara untuk menyasar segmen ini. 

Inilah mengapa para startup D2C yang bisa menjawab keinginan generasi baru ini dengan produk dan gaya komunikasi yang dapat menyentuh mereka cenderung diingat oleh para pelanggan dan memiliki metriks LTV (Life-time Value) lebih tinggi.

Baca Juga: 8 Tahap Pendanaan dalam Membangun Bisnis Startup

2. Startup D2C diuntungkan dengan adaptasi yang cepat

Jurus Ampuh Startup Direct-to-Consumers Lewat Optimasi DataIlustrasi personalisasi produk (Shutterstock/Blue Planet Studio)

Firma konsultan global Capgemini juga menemukan kalau lebih dari 68 persen dari Gen Z dan 58 persen dari millennial melakukan pemesanan langsung ke brand selama enam bulan terakhir, dibandingkan 41 persen dalam rata-rata semua kelompok usia. Hanya 37 persen dari Gen X dan 21 persen dari Boomer yang melakukan pemesanan langsung dari brand selama enam bulan terakhir.

Data itu tentu menarik. Bahkan semua yang langsung melakukan pemesanan pada brand, hampir 60 persennya mengatakan bahwa pengalaman berbelanja yang mulus menjadi salah satu alasan untuk membeli langsung dan 59 persen lainnya suka dengan brand loyalty programs. Statistik inilah yang menggambarkan lanskap perubahan perilaku pelanggan. 

Untuk beradaptasi dengan kondisi ini,  sebuah big brands memiliki kekurangan dalam kelincahan. Sementara startup D2C  lebih adaptif dan memiliki kemampuan untuk dekat dengan pelanggan dan bahkan bisa membuat pengalaman berbelanja yang ciamik serta produk yang terpersonalisasi. Bagaimana mereka melakukannya? Simak lebih lanjut di bawah. 

3. Startup D2C memiliki peluang besar karena memiliki dan bisa mengolah data pelanggan

Jurus Ampuh Startup Direct-to-Consumers Lewat Optimasi DataAnalisis data (Shutterstock/Freedomz)

Yup, pengolahan data adalah salah satu jurusnya. Para D2C ini memiliki keuntungan yang besar karena memiliki data pelanggan dan diolah agar menciptakan sebuah produk atau gaya komunikasi terpersonalisasi untuk setiap pelanggan. Tentu saja ini memberikan kedekatan atau intimasi terhadap brand dan pelanggan.

Dengan hal itu pun D2C juga memiliki kemampuan untuk menemukan perbedaan dari setiap brand untuk meningkatkan keunggulan kompetitif serta membawa brand yang dibangun menjadi pemimpin pasar. Nah, sejak East Ventures juga menyuntikkan dana ke berbagai startup D2C juga ada banyak insights menarik. Salah satunya adalah D2C ternyata lebih dari sekedar produk yang dibuat, tetapi inti jiwa dari D2C adalah komunitas yang dibangun.

4. Base dan Kasual memetik buah manis dari data-driven strategy

Jurus Ampuh Startup Direct-to-Consumers Lewat Optimasi DataKasual dan Base (Dok. East Ventures)

Salah satu portofolio East Ventures bernama Base, sebuah startup D2C yang membuat produk kecantikan yang higienis, berkelanjutan, dan halal juga memiliki strategi yang keren. Perusahaan ini dipimpin oleh Yaumi Fauziah Sugiharta dan Ratih Permata Sari. Mereka sukses membuat customer base yang loyal terhadap produknya.

Salah satu strategi marketingnya adalah menyesuaikan berbagai segmentasi yang ada dan bekerja sama dengan influencers atau KOLs (Key Opinion Leaders) yang sesuai dengan identitas brand. Strategi ini membantu untuk menjaga kesetiaan pelanggan.

Selain itu juga ada Kasual, sebuah startup D2C di Indonesia yang menawarkan personalized pants wear for men, juga sukses membuat customer base yang memiliki identitas efficient, well-groomed, dan environmentally conscious young professionals. Kasual pun juga memiliki kontrol penuh terhadap rantai pasok dan memberdayakan penjahit lokal untuk menciptakan produk.

Stacy Oentoro juga menjelaskan bahwa pelanggan di vertikal D2C memiliki rasa bangga dan rasa memiliki yang kuat saat mereka membeli dan menggunakan produk dari startup DTC ini. Para pelanggan juga dapat mengidentifikasi pesan dan visi brand dengan mudah.

"Di masa pasca-COVID, hal ini menjadi lebih signifikan karena pelanggan ingin menghubungkan diri mereka dengan brand dan komunitas yang membuat mereka nyaman," pungkasnya.  

5. Memahami pelanggan dan tetap inovatif adalah kunci bertahan jangka panjang

Jurus Ampuh Startup Direct-to-Consumers Lewat Optimasi DataIlustrasi inovasi (Shutterstock/ker_vii)

Karena penetrasi digital terus meningkat dan semakin banyak startup D2C baru yang berkembang di pasar, salah satu faktor penting bagi startup D2C yang sukses dan berkelanjutan adalah kemampuan untuk mengenal pelanggan dan tumbuh bersama mereka. Startup D2C harus tetap inovatif dan beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan mereka.

"Intinya, brand D2C harus mengembangkan dan meluncurkan produk inovatif berbasis data yang sesuai dengan segmen targetnya. Dilengkapi dengan pengalaman belanja online yang unik, startup D2C dapat mengembangkan kampanye, mendorong strategi digital, dan meluncurkan produk yang membantu menciptakan dan mempertahankan kedekatan brand (brand stickiness) dalam jangka panjang," jelas Stacy Oentoro. 

Saat ini, East Ventures memiliki lebih dari delapan portofolio D2C di antara lebih dari 250 portofolio. Ada banyak ruang bagi brand D2C untuk berevolusi dan tumbuh, dan East Ventures berkomitmen untuk terus menjadi yang pertama percaya pada startup yang berada di garis depan inovasi. (WEB)

Baca Juga: East Ventures Luncurkan EV-DCI 2022, Ini Hasil Laporannya

Topic:

  • Bima Anditya Prakasa

Berita Terkini Lainnya