Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BPS Soroti Pergeseran Konsumsi Masyarakat, Sektor Restoran-Hotel Naik

3 min read
BPS Soroti Pergeseran Konsumsi Masyarakat, Sektor Restoran-Hotel Naik
Konferensi Pers Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. (IDN Times/Triyan)
  • BPS mencatat pergeseran konsumsi masyarakat sejak 2025 yang menguat pada semester I 2026, ditandai pertumbuhan sektor restoran dan hotel di atas 6 persen serta transportasi.

  • Pola belanja berubah dari toko fisik ke transaksi elektronik. Pemerintah menilai konsumsi masih positif, didukung tingginya mobilitas, perjalanan, pariwisata, hotel, dan restoran.

  • Aktivitas pembayaran digital meningkat: volume transaksi digital mencapai 6,11 miliar pada Agustus 2026, sementara QRIS tumbuh 67,22 persen secara tahunan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat telah terlihat sejak 2025 dan semakin menguat pada semester I 2026.

Salah satu indikasi perubahan pola konsumsi tersebut terlihat dari pertumbuhan sektor restoran dan hotel yang mencapai lebih dari 6 persen. Sementara itu, sektor transportasi juga mencatat pertumbuhan seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat.

“Dari tahun kemarin kami sudah melihat ada indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat dan ini terlihat menguat di semester I 2026,” ujar Amalia dalam konferensi pers, Senin (12/10/2026).

  1. 1. Pergeseran pola konsumsi masyarakat terlihat dari pola cara berbelanja

    ilustrasi belanja online (pexels.com/Shoper .pl)
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Shoper .pl)

    Menurut Amalia, pergeseran pola konsumsi masyarakat juga terlihat dari perubahan cara berbelanja. Transaksi yang sebelumnya dilakukan secara langsung di toko fisik kini semakin banyak beralih ke kanal elektronik.

    “Kami juga mencermati adanya shifting cara masyarakat berbelanja, yang tadinya belanja offline, sekarang belanja melalui transaksi elektronik itu meningkat besar,” ungkapnya.

  2. 2. Sejumlah aktivitas ekonomi masih menunjukkan peningkatan

    ilustrasi belanja online (pexels.com/Andrea Piacquadio)
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Senada dengan Amalia, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menilai narasi mengenai pelemahan daya beli masyarakat belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat masih tumbuh positif.

    Dradjad mencontohkan sektor transportasi dan pariwisata yang mencatat pertumbuhan tinggi. Meningkatnya mobilitas masyarakat turut mendorong aktivitas konsumsi di sektor hotel dan restoran.

    “Transportasi itu tinggi sekali, karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang jalan-jalan. Dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali. Restoran dan hotel juga, turisme juga meningkat, pariwisata meningkat sekali,” kata Dradjad.

  3. 3. Transaksi QRIS tumbuh lebih dari 100 persen

    Ilustrasi transaksi dengan QRIS (Pexels.com/ iMin Technology)
    Ilustrasi transaksi dengan QRIS (Pexels.com/ iMin Technology)

    Selain sektor pariwisata, Dradjad menyoroti pertumbuhan transaksi pembayaran digital sebagai salah satu indikator aktivitas ekonomi masyarakat. Ia menyebut transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tumbuh tinggi, bahkan lebih dari 100 persen. Namun, angka tersebut perlu diperjelas berdasarkan periode pengukuran yang dimaksud.

    Menurutnya, pertumbuhan transaksi pembayaran digital tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas transaksi masyarakat.

    “Bukti berikutnya, transaksi QRIS itu peningkatannya sampai di atas 100 persen. Ya, kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi. Jadi yang terjadi itu bukan daya beli melemah,” ujar dia.

    Berdasarkan data Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi atau tumbuh 40,36 persen (yoy) pada Agustus 2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital.

    Kemudian volume transaksi melalui internet dan mobile banking masing-masing tumbuh 15,12 persen (yoy) dan 47,08 persen (yoy), termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 67,22 persen (yoy).

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More