Cadev Turun Tipis, Ekonom: Bukan Sinyal DHE SDA Tak Optimal

- Cadangan devisa Indonesia September 2026 turun 200 juta dolar AS menjadi 146,3 miliar dolar AS, namun dinilai belum mencerminkan lemahnya kebijakan DHE SDA.
- Evaluasi DHE SDA masih terlalu dini karena fasilitas Pasal 18A baru berjalan sejak 1 September; dari 537 NPWP dipadankan, baru 64 memenuhi kriteria.
- Tantangan eksternal lebih terkait surplus perdagangan yang menyusut dan defisit migas; cadev akhir tahun diproyeksikan berada di kisaran 144-148 miliar dolar AS.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times - Penurunan cadangan devisa Indonesia pada September 2026 menjadi 146,3 miliar dolar AS atau turun 200 juta dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya, belum cukup untuk menyimpulkan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) berjalan tidak optimal.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, implementasi kebijakan DHE SDA masih terlalu dini untuk dievaluasi hanya berdasarkan pergerakan cadangan devisa Bank Indonesia (BI).
"Penurunan cadangan devisa pada September sebaiknya belum dibaca sebagai tanda posisi eksternal mulai melemah," ujar Yusuf kepada IDN Times, Rabu (7/10/2026).
1. Dari 537 NPWP yang dipadankan, baru 64 yang penuhi kriteria

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times) Menurutnya, kewajiban repatriasi DHE sebesar 100 persen memang sudah berjalan. Namun, fasilitas penempatan DHE melalui Pasal 18A baru mulai digunakan sejak 1 September 2026 dan sifatnya masih opsional.
Dari 537 NPWP yang telah dipadankan, baru 64 yang memenuhi kriteria. Selain itu, daftar pengawasan ekspor untuk September baru dijadwalkan terbit pada pekan kedua Oktober.
"Jadi, satu bulan pertama masih terlalu singkat untuk melihat dampak penuh kebijakan tersebut," katanya.
2. Efektivitas naik turunnya cadev, tak bisa hanya diukur dari posisi cadev

Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat) Menurutnya, DHE tidak serta-merta identik dengan cadangan devisa yang dikelola BI. Dana hasil ekspor yang ditempatkan pada rekening khusus di bank devisa dapat meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri dan membantu meredakan tekanan di pasar spot. Namun, dana tersebut tidak otomatis tercatat sebagai tambahan cadangan devisa BI.
Dengan demikian, dampak awal kebijakan DHE justru lebih mungkin terlihat dari sisi likuiditas valas dan stabilitas nilai tukar rupiah. Efektivitas kebijakan tersebut pun tidak semestinya hanya diukur dari naik atau turunnya cadangan devisa BI dalam satu bulan.
3. Tak terkait dengan sisi neraca eksternal

Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti) Selain DHE, tekanan eksternal Indonesia juga perlu dilihat dari perkembangan neraca perdagangan. Neraca barang pada Agustus 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,55 miliar dolar AS.
Namun, secara kumulatif Januari-Agustus 2026, surplus perdagangan hanya mencapai 7,25 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 29,35 miliar dolar AS. Tekanan juga datang dari sektor migas. Neraca perdagangan migas pada Agustus masih mencatat defisit sebesar 2,54 miliar dolar AS.
"Harga minyak yang tinggi membuat impor energi menyerap sebagian surplus nonmigas, sementara jasa dan pendapatan investasi juga cenderung defisit," jelas Yusuf.
Menurut dia, tantangan eksternal Indonesia saat ini lebih berkaitan dengan mengecilnya surplus eksternal ketimbang cadangan devisa yang terkuras secara besar-besaran.
4. Cadangan devisa tahun ini diperkirakan capai 144-148 miliar dolar AS

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat) Dengan posisi cadangan devisa saat ini, Yusuf memperkirakan cadangan devisa hingga akhir tahun masih berada di kisaran 144 miliar dolar AS hingga 148 miliar dolar AS, dengan skenario dasar sekitar 146 miliar dolar AS.
Risiko penurunan akan meningkat jika harga minyak dunia bertahan tinggi, pembayaran utang luar negeri meningkat, atau kebutuhan stabilisasi rupiah bertambah akibat penguatan dolar AS.
Sebaliknya, ruang kenaikan cadangan devisa akan lebih terbuka apabila dana DHE benar-benar mengendap di dalam negeri dan arus modal kembali membaik.
"Angka di bawah 143 miliar dolar AS baru perlu mendapat perhatian lebih jika surplus perdagangan kembali mendekati posisi yang sangat tipis seperti pada Juli," ujar Yusuf.








![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)

![[QUIZ] Dari Hobi Kak Ros Upin & Ipin, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20260605/1000015303_08eeceec-948c-41d5-b90f-1a0d319b372d.jpg)










