Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
China Raup Keuntungan Besar di Tengah Krisis Energi akibat Perang
ilustrasi China (freepik.com/4045)
  • China meraup keuntungan besar dari krisis energi global karena sudah mendominasi rantai pasok energi terbarukan seperti panel surya, baterai, dan kendaraan listrik.
  • Krisis energi mendorong banyak negara mempercepat transisi ke energi bersih, sehingga permintaan ekspor teknologi hijau China melonjak tajam di pasar global.
  • Peningkatan permintaan luar negeri membantu menyerap kelebihan produksi industri hijau China, mengubah tekanan ekonomi menjadi peluang pertumbuhan baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu membayangkan bahwa di tengah gejolak krisis energi global, justru ada satu negara yang malah meraup keuntungan besar? Ya, itulah China. Saat konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan gas, China diam-diam berada di posisi paling menguntungkan.

Negara ini menguasai hampir seluruh rantai pasok energi terbarukan dunia, mulai dari panel surya, turbin angin, hingga baterai dan kendaraan listrik. Akibatnya, saat negara-negara lain panik mencari solusi energi alternatif, China sudah siap memasok semua kebutuhan itu. Yuk, kita lihat bersama bagaimana China bisa mendapat berkah di balik krisis ini.

1. China sudah siap saat dunia buru-buru pindah ke energi bersih

ilustrasi solar panel (pexels.com/Pixabay)

Keuntungan paling besar datang dari fakta bahwa China sudah lebih dulu mendominasi industri energi terbarukan global. Saat perang membuat pasokan minyak dan gas makin gak stabil, banyak negara langsung mempercepat transisi ke energi bersih. Kebutuhan panel surya, baterai, kendaraan listrik, dan turbin angin pun ikut naik drastis. Di titik inilah China berada di posisi paling siap untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut.

Bukan cuma siap, China juga sudah punya kapasitas produksi dalam skala raksasa. Ekspor teknologi energi bersih mereka bahkan sudah naik sejak awal 2026, lalu makin terdorong setelah konflik pecah. Perusahaan seperti CATL, BYD, dan Jinko Solar ikut merasakan kenaikan permintaan dari pasar global. Jadi, ketika negara lain baru mulai mencari jalan keluar, China sebenarnya sudah berdiri di garis depan solusi.

2. Permintaan dari berbagai negara langsung mengalir ke perusahaan China

ilustrasi mobil listrik (commons.wikimedia.org/Alexander-93)

Krisis energi membuat banyak pemerintah sadar bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil sangat berisiko. Indonesia, misalnya, berencana membangun 100 gigawatt tenaga surya dalam dua tahun. Filipina juga mulai mendorong warganya memasang solar panel rumahan lewat skema pinjaman. Komitmen seperti ini otomatis membuka peluang ekspor yang sangat besar bagi China.

Di Eropa, tren serupa juga mulai terlihat makin kuat. Jerman meningkatkan investasi besar untuk tenaga angin sekaligus memberi subsidi kendaraan listrik. Menurut Lin Boqiang, direktur China Center for Energy Economics Research di Xiamen University, perusahaan clean tech China sudah memiliki daya saing absolut dari sisi harga dan kualitas. Pandangan pakar ini menunjukkan kenapa banyak negara akhirnya menjadikan China sebagai pemasok utama saat kebutuhan energi alternatif melonjak.

3. Krisis ini membantu menyerap kelebihan produksi industri hijau China

ilustrasi panel surya di lahan pertanian (ilustrasi panel surya di lahan pertanian)

Sebelum krisis energi memanas, industri energi bersih China sebenarnya sempat menghadapi tantangan besar. Produksi panel surya, baterai, dan kendaraan listrik terlalu banyak, sementara pasar global belum mampu menyerap semuanya. Akibatnya, harga turun dan margin keuntungan tertekan. Kondisi ini bahkan sempat membuat produsen solar mencatat kerugian besar dan memangkas tenaga kerja.

Nah, konflik energi kali ini justru menjadi momentum penyelamat. Naiknya permintaan luar negeri memberi ruang bagi stok produksi yang sebelumnya berlebih untuk terserap pasar. Artinya, masalah overcapacity yang sempat membebani industri kini berubah menjadi peluang ekspor besar. Bagi China, ini jadi momen yang pas untuk mengubah tekanan industri menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.

4. Dunia kini melihat energi bersih sebagai soal keamanan

ilustrasi energi angin (pexels.com/Pixabay)

Menariknya, lonjakan permintaan ini bukan cuma soal harga minyak yang sedang mahal. Banyak negara mulai memandang energi bersih sebagai bagian dari strategi keamanan energi nasional. Yang Biqing, analis China di Ember (lembaga think tank energi berbasis di London), menilai pergeseran ini merupakan tren jangka panjang, bukan sekadar respons sesaat terhadap perang. Energi bersih kini dianggap bisa memperkuat ketahanan ekonomi sebuah negara.

Pandangan ini membuat posisi China semakin strategis. Karena mereka menguasai pasokan teknologi utama, setiap negara yang ingin memperkuat keamanan energi hampir pasti akan berhubungan dengan perusahaan China. Li Shuo, direktur China Climate Hub di Asia Society Policy Institute, juga menilai geopolitik kini sama pentingnya dengan keputusan ekonomi dalam menentukan masa depan sistem energi. Jadi, keuntungan China bukan cuma datang dari dagang, tapi juga dari perubahan arah kebijakan global.

Krisis energi akibat perang memang memicu kepanikan di banyak negara, tapi bagi China situasi ini justru membuka peluang besar. Dominasi pada rantai pasok energi terbarukan membuat mereka jadi pihak yang paling siap saat dunia beralih dari minyak dan gas.

Permintaan global yang meningkat juga membantu menyerap kelebihan produksi industri hijau mereka. Dari sini terlihat jelas bahwa di era sekarang, pemenang krisis sering kali adalah pihak yang lebih dulu siap dengan solusi masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team