ilustrasi energi angin (pexels.com/Pixabay)
Menariknya, lonjakan permintaan ini bukan cuma soal harga minyak yang sedang mahal. Banyak negara mulai memandang energi bersih sebagai bagian dari strategi keamanan energi nasional. Yang Biqing, analis China di Ember (lembaga think tank energi berbasis di London), menilai pergeseran ini merupakan tren jangka panjang, bukan sekadar respons sesaat terhadap perang. Energi bersih kini dianggap bisa memperkuat ketahanan ekonomi sebuah negara.
Pandangan ini membuat posisi China semakin strategis. Karena mereka menguasai pasokan teknologi utama, setiap negara yang ingin memperkuat keamanan energi hampir pasti akan berhubungan dengan perusahaan China. Li Shuo, direktur China Climate Hub di Asia Society Policy Institute, juga menilai geopolitik kini sama pentingnya dengan keputusan ekonomi dalam menentukan masa depan sistem energi. Jadi, keuntungan China bukan cuma datang dari dagang, tapi juga dari perubahan arah kebijakan global.
Krisis energi akibat perang memang memicu kepanikan di banyak negara, tapi bagi China situasi ini justru membuka peluang besar. Dominasi pada rantai pasok energi terbarukan membuat mereka jadi pihak yang paling siap saat dunia beralih dari minyak dan gas.
Permintaan global yang meningkat juga membantu menyerap kelebihan produksi industri hijau mereka. Dari sini terlihat jelas bahwa di era sekarang, pemenang krisis sering kali adalah pihak yang lebih dulu siap dengan solusi masa depan.