Danantara Ungkap Alasan China Dominasi Pemenang Tender WTE

- Pemerintah menetapkan delapan pemenang proyek PSEL, dengan enam perusahaan asal China mendominasi tender dibanding dua perusahaan dari Prancis dan Jepang.
- Danantara menjelaskan dominasi China karena teknologi mereka cocok untuk karakteristik sampah Indonesia yang tercampur dan bisa dibakar tanpa proses pemilahan.
- Teknologi insinerator dari perusahaan China dinilai menghasilkan udara lebih bersih serta membuat konversi sampah menjadi energi listrik lebih efisien.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah telah menetapkan delapan perusahaan yang memenangkan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE).
Dari delapan perusahaan pemenang tender, sebanyak enam perusahaan berasal dari China, yakni Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd, Wangneng Environment Co., Ltd, dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd. Lalu, SUS Indonesia Holding Limited, China Conch Venture Holding Limited, dan PT Jinjiang Environment Indonesia.
Kemudian, dua perusahaan lainnya adalah perusahaan asal Prancis yakni Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd, dan perusahaan asal Jepang yakni Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering.
Danantara Indonesia sebagai pengelola tender membeberkan alasan mengapa China mendominasi.
1. China punya karakteristik sampah yang sama dengan Indonesia

MD Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas mengatakan China memiliki karakteristik sampah yang sama dengan Indonesia. Sehingga, teknologi yang dimiliki cocok untuk mengolah sampah di Indonesia yang tercampur, atau tidak dipilah.
“Jadi mereka bagus karena sampahnya sejenis kita. Banyak, ada bantal-guling juga di dalam situ, kurang lebih seperti itu lah ya,” kata Rohan dalam media briefing di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Dia mengatakan, teknologi yang digunakan oleh perusahaan China pemenang tender bisa melakukan pembakaran semua jenis sampah secara langsung tanpa membutuhkan proses pemilahan.
“Jadi pabriknya tuh desainnya telen semua. Dengan energi panas sekian, lumer semualah tuh sampah basahnya ikut langsung kering,” ujar Rohan.
2. Hasil pembakaran lebih bersih

Lead of Waste-to-Energy/Director of Investment at Danantara Investment Management, Fadli Rahman mengatakan, udara dari hasil pembakaran insinerator milik perusahaan penyedia teknologi dari China lebih bersih.
“Setelah pembakaran pun itu kan ada uap-uap, ada abu, abu yang abu dasar maupun abu terbang. Itu akan ditangkap dan sisa dari abu tersebut akan disaring berkali-kali lipat, sehingga udaranya keluar itu justru akan lebih bersih dari mohon maaf, dari udara di beberapa lokasi kita,” ucap Fadli.
3. Proses pengolahan sampah jadi listrik lebih efisien

Kembali ke Rohan, teknologi yang disediakan pemenang tender dari China juga membuat proses pengolahan sampah menjadi listrik lebih efisien.
“Secara teknis juga mereka rasio antara bakar sama dapat energinya itu cukup bagus,” tutur Rohan.

















