Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dampak Ekonomi Imbas Karhutla yang Merugikan Rakyat dan Negara
ilustrasi asap di perkotaan (magnific.com/teksomolika)
  • Karhutla merusak tanaman pangan, perkebunan, dan hutan, menghilangkan panen serta pendapatan petani dan pelaku usaha, sementara pemulihan lahan membutuhkan biaya dan waktu panjang.
  • Asap berpartikel PM2.5 meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan, mengurangi produktivitas pekerja, serta membatasi kegiatan sekolah dan kerja ketika kualitas udara memburuk.
  • Kabut asap menghambat transportasi, perdagangan, dan pariwisata; pemerintah juga menanggung biaya pemadaman, pemulihan, serta bantuan terdampak. Kerugian 2015 diperkirakan Bank Dunia mencapai US$16,1 miliar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya merusak kawasan hijau, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi di berbagai sektor. Api dapat menghancurkan tanaman, mengganggu kegiatan usaha, dan menghasilkan asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Besarnya kerugian bergantung pada luas kebakaran, lokasi terdampak, serta lamanya aktivitas masyarakat dan dunia usaha terganggu.

Dampak tersebut juga dapat berlangsung setelah api berhasil dipadamkan. Petani mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan tanaman perkebunan, sedangkan pemerintah dan pelaku usaha harus menanggung biaya penanganan serta pemulihan. Berikut beberapa dampak ekonomi imbas karhutla yang merugikan rakyat dan negara.

1. Karhutla merusak tanaman dan mengurangi pendapatan petani

ilustrasi petani (pexels.com/DoDo PHANTHAMALY)

Kebakaran dapat merusak tanaman pangan, perkebunan, dan kawasan hutan yang menghasilkan kayu atau produk lainnya. Kerusakan tersebut membuat petani dan perusahaan kehilangan hasil panen maupun potensi pendapatan dari komoditas yang terbakar. Petani juga dapat menghadapi biaya tambahan untuk membersihkan lahan dan menanam kembali tanaman yang rusak.

Kerugian tidak berhenti ketika api padam karena sejumlah tanaman perkebunan membutuhkan waktu lama untuk kembali berproduksi. Selama masa pemulihan, petani dapat kehilangan sebagian pendapatan yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi. Jika kebakaran juga merusak lahan produktif dalam skala luas, dampaknya dapat meluas ke pasokan bahan baku dan kegiatan usaha yang bergantung pada hasil pertanian.

2. Asap karhutla meningkatkan biaya kesehatan dan mengurangi produktivitas

ilustrasi memakai masker (magnific.com/jcomp)

Asap karhutla mengandung partikel halus seperti PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan sehingga sebagian masyarakat membutuhkan pemeriksaan medis, obat-obatan, atau perawatan di fasilitas kesehatan. Biaya tersebut dapat menambah beban pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan.

Gangguan kesehatan juga dapat mengurangi produktivitas ketika pekerja harus beristirahat atau tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasa. Sekolah dan tempat kerja pun dapat membatasi kegiatan ketika kualitas udara memburuk, sehingga waktu belajar dan jam kerja ikut berkurang. Jika kondisi ini berlangsung di banyak wilayah, akumulasi waktu produktif yang hilang dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih luas.

3. Karhutla mengganggu transportasi, perdagangan, dan pariwisata

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/IslandHopper X)

Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang sehingga mengganggu perjalanan udara, darat, dan laut. Maskapai, perusahaan angkutan, serta pelaku logistik dapat menghadapi keterlambatan, pembatalan perjalanan, atau biaya operasional tambahan. Gangguan distribusi tersebut juga berpotensi memperlambat pengiriman barang dan aktivitas perdagangan.

Sektor pariwisata dapat mengalami penurunan kunjungan ketika asap mengurangi kenyamanan dan keamanan perjalanan. Hotel, restoran, penyedia transportasi, serta usaha kecil di kawasan wisata berisiko kehilangan pendapatan jika wisatawan membatalkan atau menunda perjalanan. Dampak serupa dapat dirasakan pedagang lokal ketika aktivitas masyarakat menurun atau akses menuju pusat perdagangan terganggu.

4. Pemerintah harus menanggung biaya penanganan dan pemulihan

ilustrasi memadamkan kebakaran hutan (unsplash.com/Filippos Sdralias)

Pemerintah perlu mengalokasikan sumber daya untuk memadamkan api, memantau kualitas udara, menangani dampak kesehatan, dan membantu masyarakat terdampak. Setelah kebakaran selesai, pemerintah juga dapat menghadapi kebutuhan biaya untuk memulihkan lahan, memperbaiki lingkungan, dan mendukung pemulihan kegiatan ekonomi. Pengeluaran tersebut dapat menambah tekanan pada anggaran yang juga dibutuhkan untuk layanan publik lainnya.

Besarnya kerugian karhutla pernah terlihat dalam kajian Bank Dunia mengenai kebakaran dan kabut asap Indonesia pada 2015. Kajian tersebut memperkirakan total kerugian ekonomi mencapai sekitar US$16,1 miliar, termasuk dampak pada pertanian, kehutanan, transportasi, perdagangan, pariwisata, dan lingkungan. Angka itu merupakan estimasi untuk peristiwa 2015, sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk menggambarkan kerugian setiap kejadian karhutla pada tahun lainnya.

Dampak ekonomi imbas karhutla yang merugikan rakyat dan negara tak hanya berasal dari lahan dan tanaman yang terbakar, tetapi juga dari gangguan kesehatan, hilangnya produktivitas, serta terhambatnya kegiatan usaha. Sebagian dampak dapat berlangsung lama karena pemulihan lingkungan dan kegiatan ekonomi membutuhkan waktu serta biaya. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan dini penting untuk mengurangi kerugian yang harus ditanggung masyarakat, pelaku usaha, dan negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article