Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Asap Karhutla Mengganas, 62.400 Balita Terjangkit ISPA

2 min read
Asap Karhutla Mengganas, 62.400 Balita Terjangkit ISPA
Manggala Agni melakukan pemadaman Karhutla di Kalimantan (dok. Kemenhut)
  • Kemenkes mencatat 277.075 kasus ISPA di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla hingga 12 Oktober 2026, dengan 62.400 kasus dialami balita.
  • Asap karhutla mengandung PM2.5 dan zat berbahaya yang memicu gangguan pernapasan; bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit paru kronis tergolong rentan.
  • Orangtua diminta segera membawa anak dengan sesak napas ke fasilitas kesehatan; warga dianjurkan mengurangi aktivitas luar ruangan dan memakai N95 atau KN95 saat harus keluar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen dialami anak usia 0 sampai 5 tahun.

"Data per 12 Oktober 2026 tersebut terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus sekaligus memperkuat respons kesehatan di wilayah terdampak karhutla," ucap Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, dalam keterangan, Rabu (14/10/2026).

  1. 1. Balita termasuk kelompok rentan

    Balita termasuk kelompok rentan
    Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemantauan intensif, operasi darat dan udara, serta verifikasi langsung terhadap indikasi titik panas (hotspot) di lapangan. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pada pemantauan terbaru. (Dok. Kemenhut)

    Aji menjelaskan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu gangguan pernapasan. Paparan asap tersebut dapat menyebabkan ISPA, batuk, dan sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma.

    "Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia (lansia), dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok yang rentan mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla," terangnya.

  2. 2. Jika sesak nafas segera bawa ke faskes

    Asap Karhutla Mengganas, 62.400 Balita Terjangkit ISPA
    Kabut asap karhutla menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, hingga jarak pandang turun 400 meter pada Kamis (8/10/2026). (Dok/BNPB)

    Kemenkes mengingatkan orangtua agar mewaspadai gejala gangguan pernapasan pada anak, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

    "Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Penggunaan nebulizer harus sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sembarangan secara mandiri," imbaunya.

  3. 3. Gunakan masker berlapis

    Asap Karhutla Mengganas, 62.400 Balita Terjangkit ISPA
    Ria Norsan bantu relawan padamkan api di lahan karhutla. (IDN Times/Teri).

    Aji mengimbau masyarakat terdampak agar mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Namun, jika harus keluar, gunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus.

    "Apabila tidak tersedia masker jenis tersebut, bisa gunakan masker medis atau masker kain secara berlapis agar lebih efektif menyaring udara. Bayi dan balita sebaiknya dilindungi dengan mengurangi paparan asap, bukan mengandalkan masker," imbaunya.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More