Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Dampak Fenomena Downgrade terhadap Bisnis, Bisa Kehilangan Konsumen!

4 min read
3 Dampak Fenomena Downgrade terhadap Bisnis, Bisa Kehilangan Konsumen!
ilustrasi supermarket (Pexels.com/freestocks.org)
  • Saat ekonomi melemah, konsumen cenderung beralih ke pilihan lebih murah atau promosi, membuat merek premium berisiko kehilangan pelanggan jika manfaat tambahannya tidak terasa jelas.
  • Produk value for money berpeluang tumbuh karena konsumen menilai nilai bukan hanya dari harga, melainkan juga kualitas, manfaat, dan pengalaman yang sepadan.
  • Bisnis perlu menyediakan beberapa tingkatan harga, dari ekonomis hingga premium, agar tetap menjangkau konsumen dengan kebutuhan dan daya beli berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat situasi ekonomi turun, masyarakat kerap melakukan trading down atau downgrade, yakni beralih ke pilihan yang lebih murah, mencari promosi, atau mengurangi pengeluaran pada kategori tertentu. Perubahan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku bisnis. Sebab, konsumen kini semakin mempertanyakan apakah harga yang mereka bayar benar-benar sepadan dengan manfaat yang diterima.

Dalam laporan Deloitte, sekitar 4 dari 10 konsumen Amerika Serikat dalam surveinya masuk kategori value seekers, yaitu konsumen yang cenderung sadar biaya, mencari penawaran, atau melakukan trade-down. Deloitte juga menemukan bahwa persepsi nilai konsumen tidak hanya ditentukan oleh harga. Sebanyak 40 persen persepsi terhadap nilai sebuah merek dapat berasal dari faktor selain harga, seperti kualitas dan pengalaman. Lantas, apa saja dampaknya bagi bisnis? Simak penjelasan berikut ini!

  1. 1. Merek premium kehilangan sebagian pelanggan

    ilustrasi merek premium (Pexels.com/Table)
    ilustrasi merek premium (Pexels.com/Table)

    Merek premium menjadi salah satu pihak yang perlu mewaspadai fenomena downgrade. Ketika konsumen mulai mempertimbangkan kembali pengeluarannya, sebagian dari mereka bisa berpindah ke merek yang lebih murah tetapi dianggap mampu memberikan manfaat yang hampir sama. Fenomena ini membuat loyalitas terhadap merek menjadi lebih rentan. Konsumen yang sebelumnya terbiasa membeli produk premium bisa saja berpindah ketika menemukan alternatif yang menawarkan kualitas cukup baik dengan harga lebih rendah.

    Dilansir Deloitte, konsumen semakin berpindah ke merek yang menawarkan lebih banyak nilai dibandingkan harga yang dibayarkan. Bahkan, perilaku mencari nilai tersebut tidak hanya terjadi pada kelompok berpendapatan rendah, tetapi juga pada konsumen berpendapatan tinggi. Bagi merek premium, kondisi ini berarti harga tinggi saja tidak lagi cukup menjadi alasan konsumen untuk bertahan. Merek harus mampu menunjukkan kualitas, layanan, desain, pengalaman, atau keunggulan lain yang benar-benar dirasakan konsumen.

  2. 2. Produk value for money mendapat peluang

    ilustrasi produk lokal (Pexels.com/Ahimsa - OM)
    ilustrasi produk lokal (Pexels.com/Ahimsa - OM)

    Jika merek premium menghadapi risiko kehilangan sebagian konsumen, produk yang menawarkan value for money justru memiliki peluang untuk tumbuh. Produk value for money bukan berarti produk dengan harga paling murah. Konsepnya lebih dekat pada produk yang dianggap memberikan manfaat paling sepadan dengan uang yang dikeluarkan.

    Dilansir Deloitte, hampir separuh konsumen global yang disurvei, yakni 47 persen, masuk kategori value seekers. Deloitte juga menemukan bahwa merek yang mampu memberikan lebih banyak nilai dibandingkan harga yang dibayar konsumen memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan niat pembelian dan pangsa rumah tangga. Hal serupa terlihat dalam laporan NIQ pada Agustus 2026. Sebanyak 69 persen konsumen yang disurvei menilai produk private label memberikan value for money, sementara 68 persen menganggapnya sebagai alternatif yang baik terhadap merek nasional.

    Ini menjadi peluang bagi bisnis yang selama ini bermain di segmen harga terjangkau. Namun, murah saja tidak cukup. Bisnis tetap harus memastikan kualitas dan manfaat produk sesuai dengan ekspektasi konsumen.

  3. 3. Bisnis harus menyediakan beberapa tingkat harga

    ilustrasi local brand (Pexels.com/halilibrahimxq)
    ilustrasi local brand (Pexels.com/halilibrahimxq)

    Fenomena downgrade juga mendorong bisnis untuk tidak hanya mengandalkan satu pilihan harga. Konsumen yang sama bisa memiliki perilaku berbeda tergantung kondisi dan jenis kebutuhannya. Pada satu kesempatan mereka mungkin memilih produk murah. Namun, pada kesempatan lain tetap bersedia membeli produk premium jika manfaatnya dianggap sepadan.

    Karena itu, bisnis dapat menyediakan beberapa pilihan atau price tiers. Misalnya, produk versi ekonomis untuk konsumen yang sensitif terhadap harga, produk reguler sebagai pilihan utama. Kemudian, produk premium untuk konsumen yang menginginkan fitur atau pengalaman tambahan. Dengan menyediakan beberapa tingkatan harga, bisnis memiliki kesempatan untuk menjangkau konsumen dengan kemampuan dan prioritas berbeda tanpa harus kehilangan seluruh pelanggan ketika kondisi ekonomi berubah.

    Fenomena downgrade ini menunjukkan bahwa konsumen tidak serta-merta berhenti membeli ketika ekonomi tidak pasti. Mereka justru menjadi lebih selektif dalam menentukan produk mana yang layak dibayar mahal dan produk mana yang cukup dibeli dengan harga lebih murah. Bagi bisnis, perubahan ini menjadi alarm bahwa persaingan tidak hanya terjadi soal siapa yang menawarkan harga paling rendah. Merek yang mampu memberikan nilai yang jelas, kualitas yang sesuai, dan pilihan harga yang fleksibel justru memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More