Dana Kelolaan Reksadana BCA Tumbuh 50 Persen, Pasar Uang Jadi Andalan

- Dana kelolaan reksadana BCA tumbuh 50 persen secara tahunan pada 2026, mendorong AUM wealth management naik dari Rp139 triliun pada 2022 menjadi Rp339 triliun per Juni 2026.
- Obligasi pemerintah tetap dominan, sementara BCA memperluas akses investasi lewat myBCA dengan pembelian reksadana mulai Rp10.000 dan obligasi pemerintah mulai Rp1 juta.
- Reksadana pasar uang menjadi favorit nasabah konservatif karena fluktuasinya lebih rendah dan potensi imbal hasilnya menarik, di tengah tekanan IHSG pada reksadana berbasis saham.
Jakarta, IDN Times - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat pertumbuhan dana kelolaan reksadana sebesar 50 persen secara tahunan pada 2026. Produk pasar uang menjadi penopang utama pertumbuhan investasi nasabah BCA.
Direktur BCA Haryanto T. Budiman mengatakan, bisnis wealth management perseroan terus berkembang. Hal ini tercermin dari nilai aset kelolaan atau asset under management (AUM) yang meningkat dari Rp139 triliun pada 2022 menjadi Rp339 triliun pada Juni 2026.
Secara tahunan, AUM BCA tumbuh sekitar 15 persen hingga 16 persen.
"Kalau kita lihat pertumbuhannya, year on year kenaikannya 15-16 persen. Tapi kalau kita lihat yang menarik adalah reksa dana naiknya 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini yang menjadi fokus kita sebenarnya," ujar Haryanto dalam konferensi pers Runvestasi 2026 di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
1. BCA juga memperluas akses investasi melalui aplikasi myBCA

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern) Meski obligasi pemerintah masih menjadi instrumen investasi yang dominan di kalangan nasabah BCA, pertumbuhan reksadana menunjukkan peningkatan minat terhadap produk investasi tersebut.
BCA juga memperluas akses investasi melalui aplikasi myBCA. Nasabah dapat membeli reksadana dengan nominal mulai dari Rp10.000, sedangkan investasi pada obligasi pemerintah dapat dimulai dari Rp1 juta.
2. Reksadana pasar uang relatif sesuai bagi nasabah konservatif

ilustrasi reksadana (pexels.com/TabTrader.com) EVP Wealth Management BCA Indrawan mengatakan, obligasi masih menjadi produk investasi yang paling diminati nasabah melalui myBCA. Adapun di kategori reksadana, produk pasar uang menjadi pilihan favorit.
Menurut Indrawan, reksadana pasar uang relatif sesuai bagi nasabah konservatif karena fluktuasi nilainya cenderung lebih rendah dibandingkan reksadana pendapatan tetap, campuran, maupun saham.
"Penyebabnya macam-macam, salah satunya ekuitas kita juga turunnya cukup dalam. Di IHSG cukup dalam turunnya, dan tentunya di reksadana yang berbasis ekuitas itu juga turun, secara nilai juga turun semua," beber Indrawan.
Pertumbuhan reksadana BCA juga berbeda dengan kondisi industri secara keseluruhan. Pelemahan pasar saham yang tercermin dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut menekan nilai investasi pada reksadana berbasis saham.
3. Reksadana pasar uang diminati karena menawarkan potensi imbal hasil yang menarik

ilustrasi reksadana (pixabay.com/nattanan23) Indrawan menambahkan, reksadana pasar uang diminati karena menawarkan potensi imbal hasil yang menarik dibandingkan sejumlah instrumen konservatif lain, seperti deposito.
Produk ini juga memiliki risiko yang relatif lebih terukur karena portofolionya umumnya terdiri dari instrumen pasar uang dan surat utang berjangka pendek, termasuk surat berharga pemerintah.ilai kelolaan industri secara keseluruhan tetap tertekan.
"Perkembangan di industri sendiri sebenarnya money market juga naik, cuma mungkin secara keseluruhan turun karena tiga jenis reksadana lainnya agak sedikit tertarik turun angka-angkanya," kata Indrawan.





















