Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia melaporkan transaksi berjalan mencatat defisit 4,0 miliar dolar AS atau setara Rp70,4 triliun (kurs Rp17.600 per dolar AS). Laju defisit ini setara dengan 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun defisit ini pun lebih lebar dibandingkan realisasi kuartal I sebesar 2,5 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan transaksi berjalan disebabkan oleh lebih rendahnya surplus neraca barang di tengah defisit neraca pendapatan jasa yang menyempit dan surplus neraca pendapatan sekunder.
Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara. Defisit neraca perdagangan migas juga menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga.
"Defisit neraca perdagangan migas juga menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga. Sementara itu, kinerja neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight," tegasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).
