Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Di WEF Davos 2026, Dirut BRI: Pembiayaan Berkelanjutan Harus Sasar UMKM

7(1).jpg
Dirut BRI Hery Gunardi menghadiri Indonesia Pavilion di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, 20 Januari 2026 (Alya Dwi Achyarini/IDN Times)
Intinya sih...
  • Pembiayaan berkelanjutan harus menyasar UMKM.
  • Kepercayaan berbasis data untuk akses pembiayaan mikro dan UMKM.
  • BRI sebagai penghubung dalam pembiayaan berkelanjutan di emerging market.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pembiayaan berkelanjutan kerap dibicarakan belakangan ini, mulai dari target transisi hijau hingga pembiayaan baru. Namun, bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), tantangan terbesar justru ada pada eksekusinya.

Dari panggung Panel: Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Selasa (21/01/2026), Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan keberhasilan transisi hijau dan pertumbuhan inklusif di emerging market tak akan pernah tercapai bila jutaan pelaku mikro dan UMKM dibiarkan berada di pinggir sistem keuangan.

“Ketika kita berbicara tentang sustainability di emerging market, persoalannya bukan tentang ambisi, tapi tentang eksekusi,” tutur Hery.

Baginya, narasi sustainable finance tidak boleh berhenti pada produk-produk yang terdengar besar, melainkan harus menjelma menjadi pembiayaan yang benar-benar bekerja untuk perekonomian riil.

Sejak awal paparannya, Hery membawa audiens ke konteks paling mendasar, yakni skala dan mandat BRI. Dengan jangkauan dan basis nasabah yang besar, pendekatan BRI terhadap keberlanjutan menurut Hery bukan sekadar program tambahan, melainkan juga bagian dari DNA.

“Bagi kami, sustainability bukan niche inisiatif, tetapi strategi pasar yang terdiri dari bagaimana kita meminjamkan jutaan pengusaha setiap hari. Ini adalah DNA dari BRI,” kata dia.

Pernyataan itu sekaligus menjadi benang merah utama diskusi, yakni pembiayaan berkelanjutan di emerging market tak bisa semata mengejar proyek-proyek besar yang hanya dapat diakses sebagian kecil pelaku ekonomi. Di Indonesia dan banyak negara emerging, struktur ekonomi digerakkan oleh UMKM, tetapi akses pembiayaannya sering tertinggal.

“Di seluruh emerging market, UMKM menghasilkan lebih dari 19% untuk bisnis. Mereka menciptakan pekerjaan, menjaga perubahan, dan memunculkan komunitas. Namun, mereka selalu hilang dari perbicaraan kesejahteraan global,” ucap Hery.

Karena itu, Hery menolak dikotomi yang memisahkan agenda hijau dari agenda inklusi. Ia menyampaikan, “Tidak ada transisi hijau dan perkembangan inklusif yang berhasil tanpa UMKM dan pelaku usaha mikro yang bergerak bersama.”

1. Kepercayaan berbasis data

5(1).jpg
Dirut BRI Hery Gunardi menghadiri Indonesia Pavilion di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, 20 Januari 2026 (Alya Dwi Achyarini/IDN Times)

Lalu, bagaimana caranya membuat pembiayaan berkelanjutan benar-benar “masuk” ke segmen mikro dan UMKM yang selama ini kerap dianggap unbankable?

Hery menyebut salah satu hambatan paling besar adalah persepsi terhadap risiko. “Jadi, salah satu barier terbesar bagi sustainable finance adalah percaya bahwa UMKM dapat mengakses bank,” ujarnya. Namun, ia menekankan, BRI berupaya membalik persepsi lama yang terlalu bergantung pada jaminan fisik. 

“Di BRI, kita telah berubah ke kepercayaan berdasarkan data,” kata Hery.

Perubahan itu, menurutnya, dimungkinkan oleh digitalisasi dan pemanfaatan data transaksi. “Melalui penggunaan digital, … dan data transaksional, juga ekosistem bisnis berdasarkan kluster, kita dapat mengubah risiko tidak dengan ‘mengeluarkan’ UMKM, tetapi dengan memahami mereka lebih baik,” ucapnya. 

Pada titik ini, Hery menegaskan bahwa pendekatan risk management yang lebih presisi justru membuka ruang pembiayaan yang lebih luas, termasuk untuk sektor-sektor yang relevan dengan agenda keberlanjutan.

Ia memberi gambaran bahwa model tersebut membuat bank bisa mendorong aktivitas UMKM dari rantai bisnis berbasis sumber daya hingga sektor ekonomi hijau. 

Bagi Hery, inilah definisi keberlanjutan yang paling substantif, yakni dampaknya nyata pada ekonomi rakyat. “Sustainable finance tidak harus berhenti pada bond hijau atau proyek infrastruktur besar,” kata dia.

2. BRI sebagai penghubung

Salinan IMG_9981(1).heic
Indonesia Pavilion di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, 20 Januari 2026 (Alya Dwi Achyarini/IDN Times)

Meski minat global terhadap ESG meningkat, Hery menilai modal saja tidak cukup untuk menggerakkan transformasi di emerging market. Ada kebutuhan akan kapasitas eksekusi di level domestik, di mana bank lokal memainkan peran kunci.

“Kita membutuhkan kemampuan eksekusi di lokal,” ucap Hery. Ia pun menempatkan BRI sebagai penghubung yang menjembatani arus modal, kebijakan, dan kebutuhan pelaku usaha.

“Pada dasarnya, BRI berperan sebagai bank yang berangkat, bekerja sama dengan pemerintahan, dan institusi keuangan untuk menyalurkan keuangan ke UMKM,” kata Hery. 

Ia pun mengatakan bahwa tanpa pilar domestik yang kuat, pembiayaan berkelanjutan rawan berhenti di level konsep. “Tanpa keuangan lokal, sustainable finance tetap teoretis,” ujarnya.

3. Institusionalisasi sebagai kunci percepatan

WhatsApp Image 2026-01-20 at 22.04.01 (1).jpeg
Indonesia Pavilion di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, 20 Januari 2026 (Alya Dwi Achyarini/IDN Times)

Saat moderator menutup sesi tanya jawab dan menanyakan perubahan apa yang bisa mempercepat arus modal berkelanjutan ke emerging market dalam lima tahun ke depan, Hery kembali ke isu kepastian jalur pendanaan yang berkelanjutan dan sistematis.

“Yang saya pikir, perubahan yang paling berkuasa adalah untuk institutionalisasi. Itu yang pertama,” kata Hery. Menurutnya, ketika pemerintah, MDB, dan DFI mendorong arus modal berkelanjutan secara sistematis, bank lokal akan lebih percaya diri menyalurkan pembiayaan.

Pada akhir pernyataannya, Hery merangkum posisi BRI, yakni keberlanjutan dan profitabilitas tidak perlu dipertentangkan, selama arsitektur pembiayaan dibangun dengan memahami pelaku usaha dan konteks lokal.

Dari panggung Davos, pesan Dirut BRI Hery, bila emerging market ingin menangkap peluang transisi hijau sekaligus pertumbuhan berkualitas, maka pembiayaan berkelanjutan harus mengalir ke jutaan pengusaha mikro dan UMKM dan ditopang eksekusi domestik yang kuat, berbasis data, serta terinstitusionalisasi. (WEB)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ezri Tri Suro
EditorEzri Tri Suro
Follow Us

Latest in Business

See More

Buah Manis Transformasi, BRI Dinobatkan sebagai Bank of The Year 2025

21 Jan 2026, 17:19 WIBBusiness