Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonomi Melonjak, Mengapa Pemuda Korea justru Sulit Dapat Kerja?
ilustrasi pemuda, pejalan kaki, Korea Selatan (pexels.com/VANBLV)

Ekonomi Korea Selatan sedang menunjukkan sejumlah tanda positif, terutama setelah pertumbuhan ekonominya terdorong oleh kuatnya ekspor semikonduktor. Namun, kondisi tersebut ternyata belum otomatis membuat anak muda lebih gampang mendapatkan pekerjaan.

Bahkan, tingkat pekerjaan kelompok usia 15–29 tahun justru terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini membuat sebagian pemuda Korea merasa cemas ketika harus bertemu keluarga, terutama saat momen Chuseok karena persoalan pekerjaan sering dibandingkan dengan pencapaian anggota keluarga lain.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja anak muda ternyata gak selalu bergerak beriringan. Lantas, kenapa ekonomi bisa tumbuh sementara pemuda Korea justru semakin kesulitan mencari pekerjaan?

1. Pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang industri padat modal

ilustrasi semikonduktor (unsplash.com/Vishnu Mohanan)

Sekilas, kondisi ekonomi Korea Selatan sebenarnya terlihat cukup menjanjikan. Bank of Korea mencatat produk domestik bruto atau GDP riil tumbuh 0,6 persen secara kuartalan pada kuartal II tahun ini. Sementara itu, GDP nominal meningkat 26,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi kenaikan tahunan terbesar dalam 47 tahun. Pertumbuhan ekonomi tahunan juga diperkirakan mencapai 3,3 persen, level tertinggi dalam lima tahun sejak 2021.

Masalahnya, pertumbuhan tersebut gak otomatis menciptakan banyak pekerjaan baru untuk anak muda. Salah satu sektor yang menjadi mesin pertumbuhan adalah industri manufaktur seperti semikonduktor, tapi sektor ini gak membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah sebesar industri yang lebih padat karya.

Data Bank of Korea melalui tabel input-output 2024 menunjukkan koefisien penciptaan lapangan kerja turun dari 8,2 pada 2023 menjadi 7,8. Sederhananya, setiap pertumbuhan permintaan senilai 1 miliar won pada 2024 menciptakan lebih sedikit pekerjaan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa ekonomi Korea bisa tumbuh cukup kuat, tapi dampaknya terhadap kesempatan kerja, terutama bagi anak muda, gak sebesar yang diharapkan.

2. Angka pengangguran anak muda bergerak berlawanan

ilustrasi cari pekerjaan, pengangguran, loker, lamaran kerja, karier, lowongan (vecteezy.com/Juthamat Yamuangmorn)

Perbedaan antara pertumbuhan ekonomi dan kondisi pasar kerja anak muda terlihat cukup jelas dari data ketenagakerjaan. Tingkat pekerjaan penduduk usia 15–29 tahun pada Agustus berada di angka 44,1 persen dan sudah mengalami penurunan selama 28 bulan berturut-turut. Jumlah pekerja muda juga berkurang 143.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut bahkan sudah berlangsung selama 46 bulan berturut-turut.

Kondisinya terasa semakin kontras jika dibandingkan dengan kelompok usia produktif secara keseluruhan. Jumlah orang yang bekerja pada Agustus justru bertambah 184.000 orang secara tahunan, sementara tingkat pekerjaan usia 15–64 tahun mencapai 70,4 persen. Angka tersebut menjadi tingkat tertinggi untuk bulan Agustus sejak statistik tersebut mulai dihimpun pada 1989. Jadi, persoalannya bukan semata-mata ekonomi Korea Selatan gagal menciptakan lapangan kerja, melainkan kesempatan tersebut belum banyak menjangkau kelompok pekerja muda.

3. AI ikut mengubah kebutuhan perusahaan

ilustrasi AI (magnific.com/DC Studio)

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga menjadi tantangan baru bagi pencari kerja muda. Analisis Bank of Korea menunjukkan sekitar 211.000 pekerjaan untuk anak muda hilang selama periode Juli 2022 hingga Juli 2025. Sebanyak 98,6 persen dari penurunan tersebut terjadi pada industri yang memiliki tingkat paparan tinggi terhadap AI. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perubahan teknologi mulai memberikan dampak nyata terhadap struktur kesempatan kerja.

Pada saat bersamaan, perusahaan juga semakin mempertimbangkan kandidat yang sudah memiliki pengalaman. Situasi tersebut bisa menjadi persoalan bagi lulusan baru karena mereka berada pada posisi membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, tapi perusahaan justru mencari orang yang sudah memiliki pengalaman. Pada kuartal pertama tahun ini, jumlah pekerjaan baru untuk kelompok usia 30 tahun ke bawah tercatat 2,363 juta, menjadi angka terendah sejak data tersebut mulai dikumpulkan pada 2018.

4. Persaingan membuat anak muda memperluas pilihan

ilustrasi pengangguran, loker, lamaran kerja, karier, lowongan (magnific.com/magnific)

Situasi tersebut juga terlihat dari pengalaman Koo, seorang pekerja kontrak berusia 28 tahun di perusahaan besar Korea Selatan seperti dikutip The Korea Times. Kontraknya gak memberikan peluang untuk berubah menjadi pekerja tetap sehingga ia harus kembali mencari pekerjaan ketika masa kontraknya berakhir. Jika sebelumnya ia hanya melamar ke perusahaan yang benar-benar diinginkan, kondisi pasar kerja membuatnya mulai mempertimbangkan perusahaan lain, termasuk startup.

Penurunan jumlah lowongan semakin memperbesar tekanan tersebut. Koo memperkirakan jumlah lowongan pekerjaan tahun ini terlihat sekitar setengah dibandingkan tahun sebelumnya berdasarkan pengamatannya. Tekanan sosial dari keluarga juga membuat proses mencari pekerjaan terasa semakin berat karena ia merasa gak nyaman dibandingkan dengan sepupu yang sudah lebih dulu bekerja. Bahkan, ia merasa enggan pulang saat Chuseok karena khawatir harus menghadapi pertanyaan mengenai pekerjaannya.

5. Pemerintah mencoba memperlebar pintu pekerjaan

ilustrasi Seoul, Korea Selatan, pejalan kaki (pexels.com/Theodore Nguyen)

Pemerintah Korea Selatan sebenarnya sudah mengakui bahwa persoalan pekerjaan anak muda membutuhkan perhatian serius. Melalui Youth Job Recovery Plan, pemerintah berencana melatih lebih dari 300.000 tenaga profesional terampil hingga 2030. Pemerintah juga menargetkan sedikitnya 300.000 pekerjaan melalui kombinasi perekrutan sektor swasta dan publik serta dukungan bagi perusahaan rintisan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperluas pilihan pekerjaan bagi generasi muda.

Selain itu, anak muda menjadi salah satu sasaran Future Response Fund yang dibiayai melalui tambahan penerimaan pajak. Pekerja di perusahaan kecil dan menengah yang berada di wilayah provinsi akan mendapatkan 1 juta won (sekitar Rp11 juta) per bulan selama dua tahun, sementara pengurangan pajak penghasilan bagi pekerja juga diperluas. Pemerintah memperkirakan berbagai kebijakan tersebut dapat menghasilkan sekitar 90.000 pekerjaan pada tahun depan. Namun, sejumlah pengkritik menilai sebagian pendekatan tersebut masih mengandalkan pekerjaan publik jangka pendek dan subsidi perusahaan sehingga keberlanjutan pekerjaan menjadi perhatian.

Pada akhirnya, kondisi pemuda Korea Selatan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi gak selalu terasa sama bagi setiap kelompok masyarakat. Industri strategis seperti semikonduktor memang bisa mendorong GDP dan ekspor, tapi belum tentu menghasilkan pekerjaan dalam jumlah besar untuk pencari kerja muda.

Ditambah perkembangan AI dan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap pekerja berpengalaman, anak muda menghadapi pintu masuk pasar kerja yang semakin sempit. Persoalannya sekarang bukan hanya bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi juga bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut mampu menciptakan jalur pekerjaan yang lebih terbuka bagi generasi muda.

Sumber:

https://www.koreatimes.co.kr/southkorea/20260926/i-feel-sorry-toward-my-parents-youth-job-market-remains-a-needles-eye

https://www.bok.or.kr/portal/bbs/B0000354/view.do?menuNo=400409&nttId=10095207

https://en.yna.co.kr/view/AEN20260909001552320

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article