Instalasi sumur panas bumi milik PT Geo Dipa Energi di dataran tinggi Dieng Desa Pranten, Bawang, Batang, Jawa Tengah. (ANTARA/Anis Efizudin)
Terkait target penerbitannya, Geo Dipa masih menghitung besaran penerbitan (size) dan harga obligasi. Setelah kajian tersebut rampung, perusahaan akan menyampaikan rencana penerbitan kepada publik.
"Kalau bond kapan (diterbitkan) size-nya berapa, harganya berapa, itu lagi kita bikin perhitungannya. Nanti kalau ada, kami infokan ke teman-teman media," ujarnya.
Adapun, kebutuhan pendanaan baru tersebut sejalan dengan agenda ekspansi Geo Dipa di sektor panas bumi. Di sisi lain, Geo Dipa juga tengah mengembangkan tambahan kapasitas pembangkit di Dieng dan Patuha. Proyek tersebut mencakup Dieng Unit 2 dan Patuha Unit 2 dengan kapasitas masing-masing sekitar 55 megawatt (MW). Asian Development Bank (ADB) juga mencatat proyek tersebut sebagai bagian dari ekspansi kapasitas pembangkitan panas bumi Geo Dipa sebesar 110 MW.
Saat ini, Geo Dipa telah mengoperasikan pembangkit di Dieng dan Patuha. Berdasarkan laporan keberlanjutan 2024, masing-masing unit memiliki kapasitas terpasang 60 MW.
Dengan ekspansi tersebut, kebutuhan pendanaan Geo Dipa akan semakin besar, terutama untuk pengembangan lapangan, pengeboran sumur, pembangunan pembangkit, serta infrastruktur pendukung. Nantinya, penggunaan dana dari penerbitan obligasi masih akan ditentukan berdasarkan struktur dan prospektus yang disiapkan perusahaan.
"Karena sifatnya bond adalah profilnya Geo Dipa, bisa jadi yang kita taruh apa, prospektusnya apa," ujar Yudistian.