Panas Bumi Ungaran Dinilai Punya Potensi Jadi Pembangkit Rendah Emisi

- PLTP umumnya menghasilkan emisi gas rumah kaca dan partikulat jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
- Fluida panas bumi dapat membawa gas alami, sementara jumlah emisi bergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit.
- Eksplorasi, keberlanjutan reservoir, dan pengelolaan lingkungan diperlukan untuk menilai potensi panas bumi Gunung Ungaran.
Jakarta, IDN Times - Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Dr. Eng. Agus Setyawan mengatakan pemanfaatan panas bumi di Gunung Ungaran perlu dilihat antara lain dari karakteristik emisi yang dihasilkan.
Agus menjelaskan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) pada umumnya menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat dalam jumlah yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Agus yang memiliki keilmuan di bidang fisika, khususnya geofisika dan geotermal, menjelaskan listrik dari panas bumi dihasilkan dengan memanfaatkan panas yang terdapat di dalam bumi.
“Karakteristik sumber panas dan teknologi yang digunakan menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja pembangkit dan tingkat emisinya,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2026).
1. Panas bumi bawa gas alami dari reservoir

Wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar) Panas bumi, lanjut Agus, berpeluang mendukung penggunaan energi dengan emisi karbon lebih rendah. Sumber energi tersebut juga dapat menambah keragaman sumber listrik sehingga kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit.
Agus menjelaskan fluida panas bumi dari reservoir dapat membawa gas alami seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Namun, jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda.
“Jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan,” ujar dia.
2. Fluida bekas pembangkitan direinjeksikan

Ilustrasi panas bumi (pixabay.com/longdan91) Agus mengatakan pengelolaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengembangan panas bumi. Salah satunya melalui pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan. Fluida yang tidak lagi digunakan akan direinjeksikan ke reservoir. Menurut Agus, cara tersebut dapat mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang berpotensi merusak ekosistem.
Dia menjelaskan pengelolaan reservoir secara berkelanjutan akan menentukan berapa lama sumber panas bumi dapat dimanfaatkan. Dengan pengelolaan yang baik, panas bumi dapat menjadi sumber listrik yang andal sekaligus membantu menekan emisi. Agus merujuk pengalaman pengembangan panas bumi di Kamojang, Jawa Barat.
“Jika PLTP bisa dijaga keberlanjutannya (sustainability) dalam jangka panjang seperti di PLTP Kamojang yang sudah berumur 100 tahun, maka keberadaannya tidak akan mengurangi kualitas udara, minim dampak masalah kesehatan akibat polutan dan dapat mengurangi kontribusi terhadap pemanasan global,” tuturnya.
3. Eksplorasi jadi dasar pengembangan PLTP

Ilustrasi PLTP. (Dok/Istimewa) Untuk Gunung Ungaran, Agus menilai hasil eksplorasi dan kajian yang memadai diperlukan sebagai dasar menentukan langkah pengembangan berikutnya. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai karakteristik sumber panas bumi di bawah permukaan serta potensi pemanfaatannya.
Dengan pendekatan berbasis data, potensi Gunung Ungaran dapat dinilai dari jumlah listrik yang mungkin dihasilkan, kontribusinya terhadap pengurangan emisi, dan pemanfaatan energi rendah karbon.
“Pada saat yang sama, keberlanjutan reservoir dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting agar manfaat energi panas bumi dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” kata dia.

















