ilustrasi Taiwan (unsplash.com/Jiachen Lin)
Neumann menilai pengiriman produk dari Asia mulai mengalami penurunan, baik dari sisi nilai maupun volume, termasuk ekspor chip dari Taiwan. Meski perlambatan tersebut masih tergolong kecil dan bisa saja hanya menjadi gangguan sementara di tengah siklus pertumbuhan AI yang lebih panjang, kondisi itu tetap perlu diperhatikan. Jika siklus perangkat keras AI benar-benar mendingin, ketidakseimbangan ekonomi yang sudah terbentuk di Asia dapat terlihat semakin jelas.
Bank Dunia juga memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi Amerika Serikat sebesar 1 poin persentase dapat memangkas pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang lainnya sekitar 0,6 poin persentase. Dampaknya terhadap investasi bahkan diperkirakan sekitar dua kali lebih besar. Taiwan pun sudah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonominya pada 2026 menjadi 11 persen dari 9,6 persen karena kuatnya permintaan AI, tapi otoritas setempat mengingatkan bahwa tekanan terhadap sektor teknologi tinggi dapat memberikan dampak ekonomi lebih besar dari perkiraan.
Risiko lainnya datang dari pembiayaan. Dari sekitar US$2,9 triliun atau sekitar Rp48.210 triliun belanja modal AI yang direncanakan sepanjang 2025-2028, sekitar US$800 miliar atau Rp13.300 triliun diperkirakan berasal dari private credit. Porsi pinjaman terkait AI dalam aktivitas private credit bahkan meningkat menjadi 34 persen pada 2025, dibandingkan rata-rata 18 persen selama lima tahun sebelumnya.
Bank Dunia menilai pasar private credit memiliki tingkat transparansi yang lebih rendah dan belum benar-benar teruji menghadapi penurunan ekonomi yang berat. Lembaga tersebut juga melihat pengetatan kondisi keuangan global sebagai faktor yang bisa menahan laju investasi AI. Jika belanja teknologi mulai berkurang sementara pembiayaan sudah terlanjur besar, tekanan terhadap perusahaan dan lembaga keuangan dapat ikut meningkat.
Pada akhirnya, ledakan AI memang memberikan peluang besar bagi ekonomi Asia Timur dan Pasifik. Industri chip, manufaktur elektronik, dan perdagangan teknologi berhasil menciptakan pertumbuhan yang kuat, bahkan mendorong revisi positif terhadap proyeksi ekonomi kawasan.
Namun, kamu juga perlu melihat bahwa pertumbuhan yang terlalu bertumpu pada AI bisa menjadi risiko ketika permintaan global berubah arah. Karena itu, tantangan bagi negara-negara Asia bukan sekadar menikmati keuntungan dari booming AI, tapi juga membangun sektor ekonomi lain supaya gak terlalu bergantung pada satu tren teknologi.