Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekspor AI Dongkrak Ekonomi Asia Timur, Bank Dunia Ingatkan Risikonya
ilustrasi AI, chip, semikonduktor (unsplash.com/BoliviaInteligente)
  • Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan Asia Timur dan Pasifik menjadi 4,5% pada 2026, didorong lonjakan ekspor chip, elektronik, dan produk terkait AI.
  • China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam mencatat pengiriman produk AI sekitar US$1,4 triliun dalam 12 bulan hingga April; proyeksi Vietnam naik menjadi 7,4%.
  • Bank Dunia mengingatkan pertumbuhan terlalu bergantung pada AI, sementara perdagangan non-AI lemah; pelemahan belanja teknologi, perlambatan AS, dan pembiayaan private credit berisiko menekan ekonomi serta investasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata ikut mengubah peta pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik. Lonjakan permintaan terhadap chip, perangkat elektronik, dan berbagai produk terkait AI membuat aktivitas ekspor kawasan ini semakin kuat. Kondisi tersebut bahkan mendorong Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan menjadi 4,5 persen pada 2026.

Namun, kamu juga perlu melihat sisi lain dari pertumbuhan tersebut karena ketergantungan terhadap industri AI menyimpan risiko apabila belanja teknologi global tiba-tiba melemah. Situasi ini menjadi perhatian karena negara-negara Asia Timur kini punya peran besar dalam rantai pasok teknologi dunia.

Kalau kamu ingin memahami seberapa besar ketergantungan ekonomi kawasan terhadap AI, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dari tren ekspor dan pertumbuhannya.

1. Ekspor AI jadi pendorong ekonomi Asia

ilustrasi pejalan kaki, perkotaan, Jakarta, Indonesia (unsplash.com/Pradamas Gifarry)

Bank Dunia memperkirakan perekonomian kawasan Asia Timur dan Pasifik akan tumbuh 4,5 persen pada 2026. Angka tersebut naik 0,3 poin persentase dari perkiraan sebelumnya pada April. Pertumbuhan kawasan kemudian diperkirakan sedikit melambat menjadi 4,4 persen pada 2027 dan 4,3 persen pada 2028.

Kawasan Asia Timur dan Pasifik sendiri mencakup 23 negara, termasuk China, Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Kinerja ekspor produk yang berkaitan dengan AI menjadi salah satu alasan utama ekonomi kawasan masih terlihat kuat. Bahkan, lebih dari separuh pertumbuhan ekspor di sebagian besar negara kawasan berasal dari produk terkait AI.

2. Vietnam hingga Indonesia ikut menikmati ledakan AI

ilustrasi penduduk lokal negara Vietnam (pexels.com/Huy Phan)

Vietnam menjadi salah satu negara dengan kenaikan proyeksi pertumbuhan paling besar. Bank Dunia menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Vietnam sebesar 1,1 poin persentase menjadi 7,4 persen pada 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh aktivitas perdagangan dan manufaktur teknologi terhadap perekonomian negara tersebut.

Indonesia juga termasuk negara yang berada dalam rantai perdagangan produk AI di kawasan. Bersama China, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, keenam negara tersebut mencatat pengiriman produk terkait AI senilai sekitar US$1,4 triliun atau sekitar Rp23,2 kuadriliun dalam periode 12 bulan hingga April. Angka tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan AI gak hanya berkaitan dengan perusahaan teknologi, tapi sudah memberikan dampak besar terhadap perdagangan internasional dan industri manufaktur.

3. Korea Selatan menunjukkan betapa kuatnya efek chip

ilustrasi chip, industri teknologi, manufaktur (unsplash.com/Bermix Studio)

Korea Selatan menjadi contoh paling jelas mengenai bagaimana industri AI dapat mengangkat kinerja ekspor sebuah negara. Data Kementerian Perdagangan, Industri dan Sumber Daya Korea Selatan menunjukkan ekspor negara tersebut melonjak 83,5 persen pada September menjadi rekor US$120,9 miliar atau sekitar Rp2.008 triliun. Ekspor chip mencapai US$60,3 miliar, atau hampir separuh dari total ekspor, sehingga semikonduktor menjadi salah satu penggerak utama perdagangan negara itu.

Ketergantungan terhadap industri chip bahkan terlihat di pasar saham Korea Selatan. Bank Dunia mencatat Samsung dan SK Hynix secara gabungan menyumbang sekitar 43 persen dari nilai indeks Kospi pada akhir April. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketika permintaan AI meningkat, perusahaan semikonduktor dan negara yang menjadi pusat produksinya bisa mendapatkan keuntungan besar, tapi pada saat yang sama menjadi lebih rentan ketika siklus teknologi berbalik arah.

4. Ledakan AI berisiko berubah menjadi ketergantungan

ilustrasi AI ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli)

Masalahnya, pertumbuhan ekspor kawasan ternyata gak sepenuhnya mencerminkan peningkatan perdagangan secara merata. Bank Dunia mencatat pertumbuhan perdagangan produk di luar kategori AI tergolong lemah atau bahkan negatif. Artinya, sebagian pertumbuhan ekonomi kawasan saat ini sangat bergantung pada satu mesin utama, yaitu permintaan terhadap teknologi dan perangkat yang berkaitan dengan AI.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena belanja modal AI di Amerika Serikat sudah mencapai sekitar 6 persen dari produk domestik bruto. Bank Dunia menilai laju siklus investasi AI saat ini meningkat lebih cepat dibandingkan siklus investasi teknologi sebelumnya dan masih terus bertambah. Frederic Neumann, kepala ekonom Asia di HSBC, juga menilai terdapat tanda-tanda awal bahwa ledakan tersebut mulai kehilangan tenaga, antara lain melalui penurunan harga sejumlah komponen elektronik serta melemahnya data pesanan dan persediaan.

5. Pelemahan AI bisa berdampak luas ke Asia

ilustrasi Taiwan (unsplash.com/Jiachen Lin)

Neumann menilai pengiriman produk dari Asia mulai mengalami penurunan, baik dari sisi nilai maupun volume, termasuk ekspor chip dari Taiwan. Meski perlambatan tersebut masih tergolong kecil dan bisa saja hanya menjadi gangguan sementara di tengah siklus pertumbuhan AI yang lebih panjang, kondisi itu tetap perlu diperhatikan. Jika siklus perangkat keras AI benar-benar mendingin, ketidakseimbangan ekonomi yang sudah terbentuk di Asia dapat terlihat semakin jelas.

Bank Dunia juga memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi Amerika Serikat sebesar 1 poin persentase dapat memangkas pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang lainnya sekitar 0,6 poin persentase. Dampaknya terhadap investasi bahkan diperkirakan sekitar dua kali lebih besar. Taiwan pun sudah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonominya pada 2026 menjadi 11 persen dari 9,6 persen karena kuatnya permintaan AI, tapi otoritas setempat mengingatkan bahwa tekanan terhadap sektor teknologi tinggi dapat memberikan dampak ekonomi lebih besar dari perkiraan.

Risiko lainnya datang dari pembiayaan. Dari sekitar US$2,9 triliun atau sekitar Rp48.210 triliun belanja modal AI yang direncanakan sepanjang 2025-2028, sekitar US$800 miliar atau Rp13.300 triliun diperkirakan berasal dari private credit. Porsi pinjaman terkait AI dalam aktivitas private credit bahkan meningkat menjadi 34 persen pada 2025, dibandingkan rata-rata 18 persen selama lima tahun sebelumnya.

Bank Dunia menilai pasar private credit memiliki tingkat transparansi yang lebih rendah dan belum benar-benar teruji menghadapi penurunan ekonomi yang berat. Lembaga tersebut juga melihat pengetatan kondisi keuangan global sebagai faktor yang bisa menahan laju investasi AI. Jika belanja teknologi mulai berkurang sementara pembiayaan sudah terlanjur besar, tekanan terhadap perusahaan dan lembaga keuangan dapat ikut meningkat.

Pada akhirnya, ledakan AI memang memberikan peluang besar bagi ekonomi Asia Timur dan Pasifik. Industri chip, manufaktur elektronik, dan perdagangan teknologi berhasil menciptakan pertumbuhan yang kuat, bahkan mendorong revisi positif terhadap proyeksi ekonomi kawasan.

Namun, kamu juga perlu melihat bahwa pertumbuhan yang terlalu bertumpu pada AI bisa menjadi risiko ketika permintaan global berubah arah. Karena itu, tantangan bagi negara-negara Asia bukan sekadar menikmati keuntungan dari booming AI, tapi juga membangun sektor ekonomi lain supaya gak terlalu bergantung pada satu tren teknologi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article