- Pertama, memperluas adopsi AI melalui penguatan lingkungan bisnis, infrastruktur digital dan energi, akses pembiayaan, serta peningkatan keterampilan pekerja.
- Kedua, mengadaptasi AI sesuai kebutuhan lokal dengan mengembangkan alat AI berbahasa lokal yang terjangkau. Teknologi tersebut dapat diarahkan ke sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, seperti pariwisata dan agribisnis.
- Ketiga, memperkuat peran pemerintah sebagai pengguna sekaligus regulator AI. Peran tersebut mencakup peningkatan layanan publik, penguatan fondasi digital, penyusunan regulasi, serta kerja sama regional.
Bank Dunia Ungkap Tantangan Asia Timur-Pasifik di Tengah Booming AI

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Asia Timur-Pasifik tumbuh 4,5 persen, tetapi laju pertumbuhan tidak merata; Vietnam 7,4 persen, Malaysia 5,1 persen, Thailand 2 persen, dan China 4,4 persen.
Integrasi kuat dalam rantai nilai global memberi EAP peluang memanfaatkan lonjakan AI, namun kawasan perlu mengubah keunggulan produksi barang terkait AI menjadi adopsi teknologi yang lebih luas.
Adopsi AI EAP masih tertahan biaya, keterampilan, keamanan, dan privasi; Bank Dunia mendorong infrastruktur, pembiayaan, keterampilan, AI lokal, serta peran pemerintah sebagai pengguna dan regulator.
Jakarta, IDN Times - Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) mencapai 4,5 persen pada akhir tahun. Meski menghadapi berbagai tantangan global, kawasan ini dinilai masih menunjukkan ketahanan ekonomi.
Bank Dunia dalam laporan pembaruan ekonomi terbaru untuk kawasan EAP menyebut pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut tidak berlangsung merata antarnegara maupun sektor. Di sisi lain, meluasnya adopsi akal imitasi (AI) membuka peluang baru bagi produktivitas dan pasar tenaga kerja.
1. Pertumbuhan ekonomi Vietnam diproyeksikan 7,4 persen di akhir tahun

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern) Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Carlos Felipe Jaramillo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Vietnam pada 2026 sebesar 1,1 poin persentase menjadi 7,4 persen. Proyeksi pertumbuhan Malaysia juga dinaikkan 0,7 poin persentase menjadi 5,1 persen, sedangkan Thailand naik 0,7 poin persentase menjadi 2 persen.
Sementara itu, negara-negara kepulauan Pasifik diproyeksikan tumbuh 2,2 persen pada 2026. Angka tersebut 0,5 poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
"Faktornya karena kawasan tersebut rentan terhadap kenaikan harga bahan bakar dan memiliki ketahanan yang terbatas terhadap tekanan eksternal," kata dia.
Adapun ekonomi China, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di kawasan, diproyeksikan tumbuh 4,4 persen. Pertumbuhan masih tertahan oleh lemahnya pasar tenaga kerja dan penyesuaian yang berlangsung di sektor properti.
2. Integrasi rantai nilai global jadi modal EAP hadapi lonjakan AI

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times) Dia mengatakan, integrasi kawasan EAP yang kuat dalam rantai nilai global membuat kawasan tersebut berada pada posisi yang menguntungkan untuk memanfaatkan lonjakan aktivitas AI global.
"Tantangannya saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas," kata Jaramillo dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
3. Pemanfaatan teknologi AI di kawasan EAP belum merata

Ilustrasi Artificial Intelligence atau AI (Freepik/Rawpixel) Meski sejumlah negara telah menikmati manfaat dari meningkatnya investasi AI global, pemanfaatan teknologi tersebut di kawasan EAP masih belum merata.
Bank Dunia mencatat adopsi AI oleh individu dan perusahaan terus meningkat. Namun, tingkatnya masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Sejumlah kendala yang dihadapi perusahaan antara lain biaya yang tinggi, keterbatasan keahlian, serta persoalan keamanan dan privasi.
Sementara itu, Wakil Presiden Regional IFC untuk Asia dan Pasifik Sarvesh Suri mengatakan, sektor swasta memiliki peran penting dalam mendorong pemanfaatan AI untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih baik. Menurut dia, penguatan infrastruktur digital dan energi, peningkatan akses pendanaan usaha, serta investasi pada keterampilan tenaga kerja dapat mempercepat adopsi AI di berbagai sektor.
4. AI mulai ubah kebutuhan tenaga kerja

ilustrasi artificial intellegence (pexels.com/Tara Winstead) Bank Dunia menyebut, AI belum memberikan dampak signifikan terhadap pekerjaan yang berpotensi diotomatisasi. Namun, teknologi tersebut mulai mengubah kebutuhan perusahaan terhadap keterampilan tenaga kerja.
Perusahaan kini semakin membutuhkan keahlian AI yang dipadukan dengan kemampuan analitis dan keterampilan sosial. AI dinilai lebih efektif untuk mendukung pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir dan penilaian kompleks. Namun, porsi pekerjaan semacam itu di kawasan EAP baru mencapai 13 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 39 persen di negara-negara maju.
Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih produktif, Bank Dunia merekomendasikan tiga langkah utama.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















