Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi RI Jadi 5,2 Persen pada 2026

3 min read
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi RI Jadi 5,2 Persen pada 2026
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
  • Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2 persen, didorong dampak kenaikan harga energi yang lebih ringan, program pemerintah, investasi terkait negara, dan subsidi energi.
  • Pertumbuhan semester I 2026 mencapai 5,4 persen, ditopang konsumsi, belanja pemerintah, Ramadan-Idul Fitri, THR, gaji ke-13, dan program MBG; aktivitas domestik kemudian melemah.
  • Defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar menjadi 1,5 persen PDB; tekanan pasar memicu intervensi pemerintah-BI, kenaikan suku bunga 100 basis poin, sementara inflasi turun menjadi 3,4 persen pada Juli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bank Dunia (World Bank) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2 persen. Proyeksi tersebut naik 0,5 poin persentase dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 4,7 persen dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update (EAP REU) edisi April 2026.

Kenaikan proyeksi tersebut didorong oleh dampak kenaikan harga energi yang dinilai lebih ringan dari perkiraan sebelumnya.

"Selain itu, aktivitas ekonomi Indonesia turut ditopang peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi," tulis Bank Dunia dalam laporannya, Selasa (6/10/2026).

  1. 1. Pertumbuhan ekonomi jangka menengah dipredikis akan bergantung pada investasi swasta

    Logo World Bank (www.worldbank.org)
    Logo World Bank (www.worldbank.org)

    Tak hanya itu, bauran kebijakan tersebut telah mendukung pertumbuhan dalam jangka pendek, namun juga berkontribusi pada ketidakseimbangan fiskal dan eksternal yang lebih besar. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang seiring dengan proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi 1,5 persen dari PDB pada 2026.

    "Seiring dengan melandainya stimulus fiskal, pertumbuhan ekonomi jangka menengah diproyeksikan akan lebih bergantung pada investasi swasta. Inflasi diperkirakan akan tetap berada di kisaran batas atas target bank sentral," ungkap Bank Dunia.

  2. 2. Pertumbuhan ekonomi semester I lebih banyak ditopang momen Ramadan dan Idul Fitri

    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Bank Dunia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dari 5,1 persen pada 2025 menjadi 5,4 persen pada paruh pertama 2026. Pertumbuhan tersebut merupakan rata-rata dua kuartal terkuat sejak 2022.

    "Penguatan tersebut terutama ditopang konsumsi swasta dan peningkatan belanja pemerintah pada awal tahun. Ramadan dan Idul Fitri yang datang lebih awal, pencairan tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13, serta percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mendorong belanja pemerintah lebih awal dalam siklus fiskal," ungkap Bank Dunia.

    Namun, Bank Dunia melihat aktivitas ekonomi domestik mulai melemah setelah periode tersebut. Hal ini tercermin dari indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur yang turun menjadi 49,3 pada Agustus 2026 dan melemahnya kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada Juli 2026.

  3. 3. Sentimen juga hadir dari data MSCI di awal tahun

    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

    Di sisi fiskal, pelebaran defisit juga memicu kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan peringkat utang Indonesia. Sentimen pasar terhadap Indonesia sempat memburuk pada Januari 2026, kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global serta gangguan pengiriman.

    Arus modal portofolio keluar tercatat sebesar 0,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I-2026.

    "Kekhawatiran terkait kemungkinan Indonesia turun ke status frontier market oleh penyedia indeks saham global MSCI juga sempat menekan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)," tulis Bank Dunia.

    Untuk meredam tekanan tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi serta serangkaian reformasi sektor keuangan. BI juga menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026.

    Sementara itu, kebijakan pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar turut membantu menahan kenaikan harga dan tekanan inflasi. Inflasi tercatat turun dari 4,8 persen pada Februari menjadi 3,4 persen pada Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More