Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekspor Indonesia Januari-Agustus 2026 Tembus US$193,64 Miliar
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
  • Nilai ekspor Indonesia Januari-Agustus 2026 mencapai 193,64 miliar dolar AS, naik 4,74 persen tahunan, ditopang ekspor nonmigas 185,63 miliar dolar AS yang tumbuh 5,48 persen.
  • Industri pengolahan menjadi pendorong utama ekspor nonmigas, terutama produk nikel, kimia, aluminium, dan tembaga; China tetap pasar terbesar dengan nilai 47,44 miliar dolar AS.
  • Pada Agustus 2026, ekspor mencapai 26,61 miliar dolar AS, naik 6,72 persen tahunan; industri pengolahan menyumbang sekitar 87 persen ekspor nonmigas, sementara migas menurun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 193,64 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, peningkatan ekspor tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas.

"Nilai ekspor nonmigas tercatat naik sebesar 5,48 persen dengan nilainya 185,63 miliar dolar AS. Sementara itu, nilai ekspor migas tercatat 8,01 miliar dolar AS atau turun 9,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Kamis (1/10/2026).

1. Rincian komponen penopang peningkatan ekspor nomigas

Ilustrasi neraca perdagangan. (Dok. Antara)

Ia menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas terutama berasal dari komoditas nikel dan barang daripadanya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.

Berdasarkan sektor, kenaikan ekspor nonmigas secara kumulatif terutama berasal dari industri pengolahan yang tumbuh 7,87 persen. Sektor ini juga menjadi pendorong utama kenaikan ekspor nonmigas dengan andil sebesar 6,30 persen.

"Kenaikan ekspor industri pengolahan terutama berasal dari produk olahan nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, aluminium, kimia dasar anorganik lainnya, serta tembaga," ungkapnya.

2. Ekspor ke China meningkat

ilustrasi bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Dari sisi negara tujuan, China masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia. Nilai ekspor nonmigas ke China sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 47,44 miliar dolar AS, naik 17,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Kenaikan ekspor ke China terutama berasal dari nikel dan barang daripadanya, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta bahan bakar mineral," ujarnya.

Selain China, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat (AS), India, dan kawasan ASEAN juga mengalami peningkatan secara kumulatif. Sementara itu, ekspor nonmigas ke Uni Eropa dan sejumlah negara atau kawasan tujuan lainnya mengalami penurunan. Secara keseluruhan, China, AS, dan India menjadi tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Ketiganya menyumbang 44,50 persen terhadap total ekspor nonmigas sepanjang Januari-Agustus 2026.

Ekspor nonmigas ke AS tercatat 22,41 miliar dolar AS. Komoditas utamanya adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya dengan porsi 15,42 persen. Namun, nilainya turun 8,63 persen secara kumulatif.

Sementara itu, ekspor nonmigas ke India mencapai 12,77 miliar dolar AS. Ekspor ke negara tersebut didominasi bahan bakar mineral dengan porsi 32,07 persen dan tumbuh 11,17 persen secara kumulatif.

3. Nilai ekspor per Agustus capai 26,61 miliar dolar AS

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Khusus pada Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 26,61 miliar dolar AS atau meningkat 6,72 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 7,23 persen menjadi 25,62 miliar dolar AS. Sementara itu, ekspor migas turun 5,10 persen menjadi 0,99 miliar dolar AS.

Ateng mengatakan, kenaikan ekspor nonmigas pada Agustus 2026 terutama berasal dari nikel dan barang daripadanya, besi dan baja, serta aluminium dan barang daripadanya. Ekspor nikel dan barang daripadanya tumbuh 51,67 persen secara tahunan dengan andil 1,84 persen terhadap kenaikan total ekspor. Ekspor besi dan baja meningkat 20,38 persen dengan andil 1,79 persen.

"Adapun ekspor aluminium dan barang daripadanya melonjak 206,78 persen secara tahunan dengan andil 1,59 persen," ujarnya.

Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas pada Agustus 2026 terdiri dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 0,53 miliar dolar AS, pertambangan dan lainnya 2,79 miliar dolar AS, serta industri pengolahan 22,29 miliar dolar AS. Dengan nilai tersebut, industri pengolahan menyumbang sekitar 87 persen terhadap total ekspor nonmigas pada Agustus 2026.

Ekspor industri pengolahan tumbuh 12,48 persen secara tahunan dengan andil 9,92 persen terhadap kenaikan ekspor nonmigas. Kinerja tersebut terutama didorong oleh ekspor logam dasar bukan besi, nikel, aluminium, tembaga, serta kimia dasar organik dan lainnya.

Sebaliknya, ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 19,47 persen secara tahunan. Ekspor sektor pertanian juga turun 11,64 persen. Sementara itu, BPS juga mencatat tiga komoditas unggulan, yakni besi dan baja, CPO dan turunannya, serta batu bara, masih memberikan kontribusi besar terhadap ekspor nonmigas Indonesia.

"Ketiga komoditas tersebut menyumbang 28,82 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026. Nilai ekspor besi dan baja naik 4,88 persen secara kumulatif. Ekspor CPO dan turunannya tumbuh 6,57 persen, sedangkan ekspor batu bara meningkat 4,31 persen," tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article