5 Fakta India Kecanduan Impor China, Defisit Dagang Meroket Tajam

- Defisit dagang India-China pada FY2025–2026 mencetak rekor US$112,16 miliar, setelah impor India mencapai US$131,63 miliar sementara ekspornya hanya US$19,47 miliar.
- Sekitar 98,5% impor India dari China berupa produk industri, termasuk elektronik, mesin, komputer, bahan kimia, baterai kendaraan listrik, dan modul surya yang menopang manufaktur domestik.
- Meski hubungan politik sempat memburuk dan India menerapkan pembatasan, impor China tetap meningkat; India perlu memperkuat manufaktur lokal, rantai pasok, serta ekspor ke China.
India sedang menghadapi persoalan besar dalam hubungan dagangnya dengan China. Di tengah upaya pemerintah mendorong kemandirian manufaktur, impor dari China justru terus meningkat dan membuat defisit perdagangan kedua negara mencapai rekor baru.
Data pemerintah India menunjukkan nilai impor dari China mencapai US$131,63 miliar atau sekitar Rp2.355 triliun pada tahun fiskal 2025–2026. Sementara itu, ekspor India ke China hanya sekitar US$19,47 miliar atau Rp348 triliun. Kondisi tersebut membuat kesenjangan perdagangan India dengan China semakin lebar dan menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan industri India terhadap pasokan dari Negeri Tirai Bambu.
Lantas, apa saja fakta yang menunjukkan betapa besarnya ketergantungan India terhadap China? Simak ulasannya berikut ini.
1. Defisit dagang India-China tembus Rp2.000 triliun

ilustrasi mata uang rupee India (pexels.com/Ravi Roshan) Defisit perdagangan India dengan China sudah mencapai US$112,16 miliar pada tahun fiskal 2025–2026. Jika dikonversikan menggunakan kurs sekitar Rp17.894 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp2.007 triliun. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi dan jauh lebih besar dibandingkan defisit sekitar US$44,02 miliar atau sekitar Rp788 triliun pada FY2020–2021.
Kenaikannya terlihat semakin jelas jika melihat nilai impor dan ekspor secara terpisah. Impor India dari China melonjak dari US$65,21 miliar pada FY2020–2021 menjadi US$131,63 miliar pada FY2025–2026, atau naik lebih dari dua kali lipat. Dalam rupiah, nilai impor tersebut meningkat dari sekitar Rp1.167 triliun menjadi Rp2.355 triliun. Sebaliknya, ekspor India ke China justru hanya berubah dari US$21,19 miliar atau sekitar Rp379 triliun menjadi US$19,47 miliar atau sekitar Rp348 triliun.
Artinya, masalah India bukan sekadar karena perdagangan dengan China semakin besar. Pertumbuhan tersebut sangat gak seimbang karena barang yang masuk ke India jauh lebih banyak dibandingkan produk yang dikirim India ke China. Data resmi Kedutaan Besar India di Beijing bahkan menunjukkan China menjadi negara dengan defisit perdagangan terbesar bagi India.
2. China memasok kebutuhan penting industri India

ilustrasi industri tekstil, buruh pabrik, karyawan pabrik, manufaktur (vecteezy.com/Roman Bulatov) Ketergantungan India terhadap China juga terlihat dari jenis barang yang diimpor. Data yang dikutip Global Trade Research Initiative menunjukkan sekitar 98,5 persen impor India dari China pada 2025 merupakan produk industri. China memasok berbagai kebutuhan seperti komponen elektronik, mesin, komputer, bahan kimia organik, baterai kendaraan listrik, modul surya, serta bahan baku industri lainnya. Kondisi ini membuat hubungan perdagangan tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas manufaktur India.
China bahkan memasok sekitar 30,8 persen kebutuhan impor industri India. Pada beberapa sektor, ketergantungannya jauh lebih tinggi, termasuk sekitar 43 persen impor elektronik, 40 persen impor mesin dan komputer, serta 44 persen impor bahan kimia organik. Sekitar 66 persen impor India dari China atau senilai US$82,6 miliar berasal dari kelompok elektronik, mesin, komputer, dan bahan kimia organik. Nilai US$82,6 miliar tersebut jika dikonversikan berada di kisaran Rp1.478 triliun.
Situasi ini menjelaskan kenapa India gak bisa begitu saja menghentikan impor dari China. Sebagian barang tersebut bukan sekadar produk akhir untuk dikonsumsi masyarakat, tapi merupakan komponen dan bahan yang dibutuhkan perusahaan untuk memproduksi barang di dalam negeri. Jika pasokan tersebut terganggu secara tiba-tiba, dampaknya bisa merembet ke kegiatan manufaktur India.
3. Hubungan politik memburuk, perdagangan malah membesar

ilustrasi bendera negara India (pexels.com/Still Pixels) Ketergantungan tersebut menjadi semakin menarik karena hubungan India dan China sempat memburuk setelah bentrokan militer di Lembah Galwan pada 2020. Reuters mencatat bentrokan tersebut menewaskan sedikitnya 20 tentara India dan empat tentara China. Setelah kejadian itu, India memperketat pengawasan terhadap investasi China, memperketat proses visa bisnis, serta melarang sejumlah aplikasi China.
Pemerintah India juga menggunakan berbagai instrumen perdagangan untuk melindungi industri dalam negeri. Pemerintah sebelumnya menyatakan bahwa sejumlah produk China dikenai bea masuk antidumping, sementara penyelidikan terhadap produk China lainnya juga dilakukan. Pada salah satu kebijakan yang diumumkan pemerintah India, bea antidumping diberlakukan selama lima tahun terhadap lima produk asal China, termasuk beberapa produk aluminium dan bahan kimia.
Meski berbagai kebijakan tersebut diterapkan, perdagangan India-China tetap berkembang. Data pemerintah India menunjukkan impor dari China justru meningkat dari US$65,21 miliar pada FY2020–2021 menjadi US$131,63 miliar pada FY2025–2026. Jadi, hubungan politik yang sempat memburuk gak otomatis membuat ketergantungan ekonomi India terhadap China ikut berkurang.
4. India memang makin mandiri, tapi belum lepas dari China

ilustrasi pasar tradisional di India, crowd (pexels.com/Deepak ghoran) India sebenarnya sudah berusaha mengurangi ketergantungan terhadap barang jadi dari luar negeri. Salah satu contoh yang cukup menonjol adalah industri smartphone, termasuk produksi iPhone di India. Namun, peningkatan produksi dalam negeri gak selalu berarti seluruh komponen yang digunakan juga dibuat di India. Masalahnya terletak pada rantai pasok. Banyak perusahaan di India masih membutuhkan komponen, mesin, bahan kimia, dan berbagai input lain dari China untuk menjalankan proses produksi. Global Trade Research Initiative menilai ketergantungan pada produk industri China masih sangat kuat, terutama karena beberapa barang tersebut sulit digantikan dalam skala besar.
Pola ini membuat upaya India mencapai kemandirian manufaktur menjadi lebih rumit. Negara tersebut bisa saja meningkatkan jumlah produk yang dirakit atau diproduksi di dalam negeri, tapi sebagian nilai produksinya tetap bergantung pada komponen impor. Dengan kata lain, label "Made in India" gak selalu berarti seluruh rantai produksinya sudah bebas dari ketergantungan terhadap China. Kondisi tersebut juga membuat gangguan pasokan dari China berpotensi memberikan dampak lebih luas. Ketika industri elektronik, energi bersih, farmasi, hingga kendaraan listrik membutuhkan komponen atau bahan dari China, perubahan hubungan dagang dapat ikut memengaruhi biaya dan kelancaran produksi di India.
5. India perlu memperbesar ekspor dan memperkuat industri lokal

ilustrasi industri tekstil, buruh pabrik, karyawan pabrik, manufaktur, India (pexels.com/EqualStock IN) Memperkecil defisit perdagangan tentu gak cukup hanya dengan mengurangi impor. India juga perlu meningkatkan kemampuan perusahaan lokal untuk memproduksi komponen dan bahan baku yang saat ini masih banyak didatangkan dari China. Pada saat yang sama, perusahaan India membutuhkan akses pasar yang lebih besar agar bisa meningkatkan ekspor ke China.
Persoalan akses pasar menjadi salah satu tantangan karena ekspor India ke China masih relatif kecil. Kedutaan Besar India di Beijing mencatat bahwa produk ekspor utama India ke China dalam beberapa tahun terakhir antara lain bijih besi, light naphtha, p-xylene, udang, dan minyak jarak. Sementara itu, impor India dari China banyak berupa mesin, elektronik, komputer, komponen telekomunikasi, baterai lithium-ion, dan pupuk.
Ada peluang untuk memperbaiki kondisi tersebut karena hubungan kedua negara mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada 12 September 2026, Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT BRICS di New Delhi. Kedua pemimpin menekankan perlunya mengatasi ketidakseimbangan struktural dalam perdagangan, persoalan rantai pasok, serta menciptakan akses pasar yang lebih bermakna dan dapat diprediksi.
Namun, mempersempit defisit hingga sekitar Rp2.007 triliun tentu bukan pekerjaan singkat. India perlu membangun kapasitas manufaktur lokal, memperkuat rantai pasok domestik, sekaligus mencari peluang ekspor yang lebih besar ke China. Jika ketiga hal tersebut berjalan beriringan, India punya peluang untuk mengurangi ketergantungannya tanpa harus mengorbankan pertumbuhan industrinya.























