ilustrasi industri tekstil, buruh pabrik, karyawan pabrik, manufaktur, India (pexels.com/EqualStock IN)
Memperkecil defisit perdagangan tentu gak cukup hanya dengan mengurangi impor. India juga perlu meningkatkan kemampuan perusahaan lokal untuk memproduksi komponen dan bahan baku yang saat ini masih banyak didatangkan dari China. Pada saat yang sama, perusahaan India membutuhkan akses pasar yang lebih besar agar bisa meningkatkan ekspor ke China.
Persoalan akses pasar menjadi salah satu tantangan karena ekspor India ke China masih relatif kecil. Kedutaan Besar India di Beijing mencatat bahwa produk ekspor utama India ke China dalam beberapa tahun terakhir antara lain bijih besi, light naphtha, p-xylene, udang, dan minyak jarak. Sementara itu, impor India dari China banyak berupa mesin, elektronik, komputer, komponen telekomunikasi, baterai lithium-ion, dan pupuk.
Ada peluang untuk memperbaiki kondisi tersebut karena hubungan kedua negara mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada 12 September 2026, Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT BRICS di New Delhi. Kedua pemimpin menekankan perlunya mengatasi ketidakseimbangan struktural dalam perdagangan, persoalan rantai pasok, serta menciptakan akses pasar yang lebih bermakna dan dapat diprediksi.
Namun, mempersempit defisit hingga sekitar Rp2.007 triliun tentu bukan pekerjaan singkat. India perlu membangun kapasitas manufaktur lokal, memperkuat rantai pasok domestik, sekaligus mencari peluang ekspor yang lebih besar ke China. Jika ketiga hal tersebut berjalan beriringan, India punya peluang untuk mengurangi ketergantungannya tanpa harus mengorbankan pertumbuhan industrinya.