ilustrasi makanan Asia Tengah (freepik.com/KamranAydinov)
Pertumbuhan jaringan makanan Asia di Australia ternyata gak hanya menarik perhatian konsumen lokal. Cindy Chen, seorang warga yang pindah dari Tianjin, China, ke Australia sekitar lima tahun sebelumnya, mengaku awalnya khawatir pilihan makanan yang tersedia hanya berkisar pada fish and chips, burger, dan steak. Namun, pengalaman setelah tinggal di Sydney justru membuatnya melihat semakin banyak pilihan makanan yang mengingatkannya pada tempat asal.
Bagi Chen, hadirnya restoran yang menyajikan makanan atau minuman yang dulu sering dikonsumsi memberikan rasa memiliki dan kedekatan dengan budaya asal. Dia juga merasa senang karena gak perlu bepergian kembali ke China hanya untuk menikmati minuman favoritnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa ekspansi jaringan makanan Asia punya fungsi lain selain menjual makanan, terutama bagi komunitas Asia yang tinggal jauh dari negara asal.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana selera masyarakat Australia terus berkembang. Davis menilai Australia memang memiliki keberagaman kuliner dan masyarakatnya cenderung terbuka terhadap berbagai jenis makanan. Kedekatan geografis dengan Asia serta minat terhadap kuliner yang beragam membuat Australia menjadi pasar internasional pertama bagi sejumlah jaringan makanan Asia.
Fenomena fast food Asia menjamur di Australia menjadi bukti bahwa persaingan restoran gak hanya soal rasa makanan. Maskot yang mudah diingat, kemasan mencolok, merchandise, menu unik, dan strategi media sosial ikut membentuk pengalaman yang dicari konsumen muda. Kalau tren ini terus berlanjut, lanskap fast food Australia kemungkinan akan semakin berwarna dengan perpaduan konsep kuliner, budaya pop, dan pengalaman digital.