Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Google Rela Bayar Rp16,7 Triliun per Bulan demi Menyewa AI SpaceX
logo perusahaan Google (Lee-Sean Huang from New York, USA, CC-BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Google menandatangani kontrak senilai Rp16,7 triliun per bulan dengan SpaceX selama 32 bulan untuk menyewa 110 ribu GPU Nvidia dan infrastruktur AI guna mendukung layanan Gemini Enterprise.
  • Valuasi SpaceX melonjak hingga diproyeksikan mencapai Rp31.780 triliun saat IPO, didorong investasi besar di sektor AI meski masih mencatat kerugian operasional sebesar Rp45,4 triliun.
  • SpaceX memanfaatkan penyewaan pusat data ke Google dan Anthropic untuk menutup biaya investasi hyperscale data center, sambil menghadapi gugatan hukum terkait penyalahgunaan teknologi Grok.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesGoogle menyepakati kontrak kapasitas komputasi bernilai besar dengan SpaceX. Raksasa mesin pencari itu akan membayar 920 juta dolar Amerika Serikat (AS) per bulan (setara Rp16,7 triliun) selama 32 bulan untuk mengakses infrastruktur kecerdasan buatan atau AI milik SpaceX.

Pengumuman kerja sama tersebut muncul beberapa hari sebelum SpaceX menjalankan penawaran umum perdana (IPO) yang telah direncanakan. Lewat kesepakatan itu, Google memperoleh akses ke sekitar 110 ribu unit Graphics Processing Unit (GPU) Nvidia, sekaligus menyewa prosesor pusat, memori, dan komponen lain yang berada di pusat data SpaceX.

1. Google menetapkan klausul ketat dalam kontrak

ilustrasi mesin pencari Google (pexels.com/Sarah Blocksidge)

Berdasarkan isi perjanjian, tarif penuh akan berlaku mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029. Adapun kapasitas komputasi bakal ditambah secara bertahap hingga September dengan biaya yang lebih rendah.

SpaceX wajib memenuhi jumlah GPU yang telah disepakati paling lambat 30 September 2026. Jika target itu tak tercapai, Google dapat membatalkan kontrak secara langsung atau menerima GPU yang tersedia dengan tarif lebih murah setelah masa tenggang satu bulan. Sesudah tahun pertama, kedua perusahaan juga memiliki hak untuk mengakhiri kerja sama dengan pemberitahuan 90 hari sebelumnya.

Google menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut dibuat untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan pelanggan terhadap layanan AI mereka.

“Untuk memastikan kami memiliki kapasitas jembatan untuk memenuhi permintaan pelanggan yang melonjak untuk platform agen kami, Gemini Enterprise, yang bahkan lebih tinggi daripada yang kami harapkan,” ujar juru bicara Google melalui email kepada CNBC.

Google pertama kali meluncurkan layanan Gemini Enterprise untuk perusahaan skala besar pada Oktober lalu. Sementara itu, bagi SpaceX, kerja sama dengan Google menjadi kesepakatan infrastruktur besar kedua setelah merger dengan xAI, menyusul kontrak yang diumumkan Anthropic untuk menyewa seluruh kapasitas komputasi pusat data Colossus 1 di Memphis, Tennessee, AS.

2. Valuasi SpaceX melonjak dari investasi AI

ilustrasi perusahaan SpaceX (pexels.com/SpaceX)

Hubungan Alphabet sebagai perusahaan induk Google dengan SpaceX sebenarnya sudah berlangsung lama. Alphabet tercatat menanamkan modal di SpaceX pada 2015 ketika valuasi perusahaan itu masih berada di level 12 miliar dolar AS (setara Rp217,9 triliun), sedangkan valuasi yang diproyeksikan saat IPO mencapai 1,75 triliun dolar AS (setara Rp31.780 triliun).

Dalam dokumen IPO, SpaceX menyampaikan bahwa infrastruktur komputasi yang dimiliki memberi keleluasaan dalam mengalokasikan sekaligus memonetisasi kapasitas yang tersedia.

“Kami percaya bahwa infrastruktur komputasi kami dan strategi terkait memberikan kami fleksibilitas yang substansial dalam cara kami mengalokasikan dan memonetisasi kapasitas,” tulis SpaceX, dikutip Euro News.

Laporan keuangan perusahaan menunjukkan belanja modal pada kuartal pertama mencapai 10,1 miliar dolar AS (setara Rp183,4 triliun), lebih dari dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 7,7 miliar dolar AS (setara Rp139,8 triliun) dialokasikan untuk proyek AI.

Segmen AI SpaceX masih membukukan kerugian operasional sebesar 2,5 miliar dolar AS (setara Rp45,4 triliun), sementara pendapatannya hanya mencapai 818 juta dolar AS (setara Rp14,8 triliun) pada periode yang sama. Produk AI milik Elon Musk melalui Grok juga disebut belum mampu merebut pangsa pasar yang signifikan dari OpenAI, Anthropic, maupun Google.

3. SpaceX mencari pendapatan dari pusat data

ilustrasi AI (pexels.com/Pixabay)

SpaceX memanfaatkan penyewaan infrastruktur kepada Google dan Anthropic untuk memperoleh pengembalian modal dari investasi besar pada pusat data skala besar atau hyperscale data center yang sebelumnya dibangun guna mendukung Grok.

Persaingan antarpemain di industri ini berjalan saling bersinggungan. SpaceX berhadapan dengan Google di bisnis internet satelit melalui Starlink, sedangkan di sektor AI mereka juga bersaing dengan OpenAI, Anthropic, Meta, dan Microsoft.

Google turut meningkatkan investasi AI dengan menaikkan proyeksi belanja modal tahun ini menjadi 180 miliar hingga 190 miliar dolar AS (setara Rp3.268 triliun hingga Rp3.450 triliun). Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Alphabet juga berencana melepas saham senilai 85 miliar dolar AS (setara Rp1.543 triliun).

Masuknya SpaceX ke bisnis penyewaan komputasi membuat perusahaan itu sejajar dengan penyedia neocloud seperti CoreWeave dan Nebius. Kondisi tersebut berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika SpaceX justru memilih layanan cloud Google karena kualitas serta jangkauan jaringannya.

SpaceXAI juga menghadapi sejumlah gugatan hukum dan penyelidikan dari pemerintah federal AS maupun regulator luar negeri. Investigasi itu dipicu oleh kemampuan Grok yang sempat digunakan untuk membuat serta menyebarkan konten deepfake pornografi tanpa persetujuan, termasuk yang melibatkan orang dewasa dan anak-anak.

Masalah tersebut turut memicu keluarnya banyak talenta digital dari xAI pada Maret lalu. Setelah itu, Musk menyebut Grok perlu dibangun ulang dari awal dan SpaceX kemudian menyetujui opsi akuisisi terhadap startup pengodean AI Cursor senilai 60 miliar dolar AS (setara Rp1.089 triliun).

Pelanggaran perlindungan data di Inggris yang berkaitan dengan aturan UK GDPR dapat berujung pada sanksi hingga 4 persen dari total pendapatan tahunan global perusahaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article