Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal yang Bisa Membuat Harga Gandum makin Mahal pada 2026
ilustrasi gandum (magnific.com/Oleksandr Ryzhkov)
  • Konflik Rusia-Ukraina mengganggu pelabuhan dan pengiriman gandum Laut Hitam, sementara serangan terhadap kapal dagang pada awal Oktober 2026 menambah kekhawatiran kelancaran ekspor.
  • Risiko keamanan meningkatkan ongkos kapal, asuransi, dan penyimpanan; pencarian pemasok alternatif juga dapat menaikkan biaya impor karena jarak, kapal, serta harga berbeda.
  • Cuaca buruk berpotensi memangkas panen, sementara permintaan impor dan distribusi stok global yang tidak merata dapat memperketat pasokan di sejumlah wilayah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Harga gandum dunia kembali menjadi perhatian pasar setelah konflik Rusia dan Ukraina mengganggu pengiriman biji-bijian dari kawasan Laut Hitam. Pada awal Oktober 2026, harga kontrak berjangka gandum Amerika Serikat (AS) kembali menguat setelah sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu. Kondisi ini menunjukkan bahwa harga gandum tidak hanya bergantung pada hasil panen, tetapi juga pada kelancaran perdagangan global.

Gandum merupakan bahan pangan penting yang digunakan untuk membuat roti, mi, pasta, dan berbagai produk lainnya. Ketika pasokannya terganggu, negara yang mengandalkan impor bisa menghadapi biaya pengadaan yang lebih tinggi. Berikut beberapa hal yang bisa membuat harga gandum makin mahal pada 2026.

1. Konflik Rusia dan Ukraina mengganggu ekspor

ilustrasi ekspor (pexels.com/Kai Pilger)

Rusia dan Ukraina merupakan pemasok penting gandum di pasar dunia. Konflik kedua negara telah mengganggu aktivitas pelabuhan dan pengiriman biji-bijian dari kawasan Laut Hitam, sehingga sebagian pembeli kesulitan memperoleh pasokan seperti biasanya. Pada awal Oktober 2026, serangan terhadap kapal dagang di kawasan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai kelancaran ekspor gandum.

Gangguan ini bisa membuat harga gandum naik meskipun stok di sejumlah negara masih tersedia. Pasalnya, gandum yang sudah dipanen belum tentu bisa segera dikirim ke negara pembeli jika jalur pelayaran dan infrastruktur pelabuhan terganggu. Selama pengiriman belum kembali normal, importir berpotensi menghadapi biaya pembelian yang lebih tinggi.

2. Biaya pengiriman membuat gandum lebih mahal

ilustrasi kapal kargo (pexels.com/Tom Fisk)

Harga gandum yang dibeli negara importir tidak hanya ditentukan oleh harga komoditas di bursa. Pembeli juga harus memperhitungkan ongkos kapal, asuransi, penyimpanan, dan biaya lain selama proses pengiriman. Ketika jalur perdagangan menghadapi risiko keamanan, biaya tersebut bisa meningkat dan membuat gandum lebih mahal saat tiba di negara tujuan.

Gangguan di Laut Hitam juga mendorong sebagian pembeli untuk mencari gandum dari negara pemasok alternatif. Namun, perubahan sumber pasokan tidak selalu mudah karena jarak pengiriman, ketersediaan kapal, dan harga dari pemasok lain bisa berbeda. Jika biaya mendapatkan pasokan pengganti lebih tinggi, harga yang harus dibayar importir pun dapat meningkat.

3. Cuaca buruk bisa mengurangi hasil panen

ilustrasi kekeringan (magnific.com/jcomp)

Produksi gandum sangat bergantung pada kondisi cuaca selama masa tanam hingga panen. Kekeringan, gelombang panas, atau hujan berlebihan pada waktu yang tidak tepat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen. Jika gangguan terjadi di negara produsen utama, pasokan yang tersedia untuk pasar internasional bisa ikut berkurang.

Risiko cuaca menjadi perhatian karena perubahan pola iklim dapat memengaruhi produksi pangan di berbagai wilayah. Kekhawatiran terhadap fenomena El Niño juga membuat pelaku pasar mencermati potensi gangguan pertanian, meskipun dampaknya berbeda di setiap negara dan musim tanam. Jika penurunan produksi tidak diimbangi oleh pasokan dari wilayah lain, harga gandum berpeluang mendapat tekanan naik.

4. Permintaan dari negara importir tetap tinggi

ilustrasi gandum (magnific.com/jcomp)

Negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gandumnya sendiri harus mengandalkan pasokan dari luar negeri. Misalnya, Mesir merupakan salah satu pembeli besar gandum dunia, sedangkan sejumlah negara di Asia dan Afrika juga membutuhkan impor untuk memenuhi konsumsi domestik. Ketika kebutuhan tetap tinggi sementara pengiriman terganggu, persaingan untuk mendapatkan pasokan dapat semakin ketat.

Kondisi tersebut bisa mendorong harga naik ketika beberapa negara membeli gandum dari pemasok yang sama. Pada awal Oktober 2026, pembelian gandum dalam jumlah besar oleh Arab Saudi turut mendukung penguatan harga kontrak gandum AS. Meski begitu, permintaan yang tinggi tidak selalu membuat harga naik karena pengaruhnya tetap bergantung pada ketersediaan pasokan dan kondisi perdagangan.

5. Stok dan produksi global tidak selalu merata

ilustrasi gandum (pexels.com/Pixabay)

Produksi gandum dunia yang besar belum tentu membuat pasokan tersedia secara merata di setiap negara. Sebagian hasil panen bisa tersimpan jauh dari pelabuhan, tertahan akibat konflik, atau lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik negara produsen. Karena itu, pasar dapat mengalami kekurangan pasokan di wilayah tertentu meskipun produksi global terlihat mencukupi.

Pelaku pasar juga memperhatikan perkiraan produksi, konsumsi, dan stok yang masih tersisa untuk musim berikutnya. Jika perkiraan ekspor menurun atau persediaan di negara importir semakin tipis, pembeli bisa lebih aktif mengamankan pasokan sebelum harga bergerak lebih tinggi. Sebaliknya, panen yang melimpah dan pulihnya pengiriman dapat meredakan tekanan harga.

Hal yang bisa membuat harga gandum makin mahal pada 2026 dipengaruhi oleh gabungan faktor produksi, cuaca, permintaan, dan kelancaran perdagangan internasional. Konflik di Laut Hitam menjadi salah satu risiko utama yang perlu diperhatikan pada Oktober 2026, tetapi kenaikan harga tidak berlangsung otomatis karena kondisi panen dan pasokan dari negara lain juga berperan. Perkembangan harga gandum penting dipantau karena perubahan biaya impor dapat memengaruhi harga bahan baku bagi industri roti, mi, pasta, dan produk pangan lainnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article