ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
Ia menambahkan, kebijakan tidak menaikkan harga BBM telah berhasil menjaga konsumsi masyarakat pada kuartal I 2026 tetap kuat, tumbuh di atas 5 persen, lebih tinggi dibanding kuartal I 2025 yang berada di kisaran 4,8–4,9 persen.
“Kalau konsumsi masyarakat di atas 5 persen, artinya cukup kuat,” ungkapnya.
Meski demikian, Juda tak menampik bahwa menjaga harga BBM menimbulkan konsekuensi fiskal, sehingga pemerintah perlu mengendalikan belanja lain melalui refocusing anggaran.
“Kalau harga BBM dilepas, inflasi akan meningkat, daya beli turun, dan pertumbuhan ekonomi bisa melambat. Oleh karena itu, pengendalian belanja lain menjadi penting,” jelasnya.
Mengacu data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen masih didorong konsumsi rumah tangga yang memberikan kontribusi terbesar hingga 54,36 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sedangkan konsumsi rumah tangga memiliki pertumbuhan 5,52 persen yoy.
Konsumsi rumah tangga tumbuh seiring momentum hari besar keagamaan dan peningkatan mobilitas masyarakat. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada pengeluaran untuk kelompok restoran dan hotel, yang meningkat 7,38 persen, sejalan dengan meningkatnya kegiatan wisata selama liburan, yang tercermin dari peningkatan perjalanan wisatawan nusantara.
Selain itu, konsumsi transportasi dan komunikasi juga tumbuh tinggi, mencapai 6,91 persen, didorong oleh mobilitas masyarakat yang meningkat, tercermin dari jumlah penumpang angkutan rel, laut, dan udara.