DEN Ingatkan jika Harga Pertamax Mau Dinaikkan Harus Bertahap

- DEN menegaskan penyesuaian harga Pertamax harus dilakukan bertahap dengan perhitungan matang agar dampak sosial dan ekonomi bisa diminimalkan.
- Firman Hidayat mengingatkan risiko perpindahan konsumen ke BBM subsidi jika selisih harga terlalu besar, yang dapat menambah beban subsidi pemerintah.
- Pemerintah dinilai tepat menahan harga BBM dan LPG subsidi karena saat ini kelompok menengah ke bawah menjadi penerima manfaat utama.
Jakarta, IDN Times - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat menyatakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) tidak dapat dilakukan secara drastis layaknya kenaikan harga Pertamax Turbo (RON 98).
Menurut Firman, jika nantinya akan dilakukan penyesuaian harga Pertamax, itu harus dilakukan secara bertahap dan harus dihitung secara cermat dampaknya.
"Kami sih melihatnya harus dilakukan secara bertahap, harus dihitung benar-benar dampaknya," kata dia kepada IDN Times di IDN HQ, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
1. Harus mitigasi dampak sosial

Firman menjelaskan, harus diterapkan secara bertahap, DEN memandang kenaikan harga Pertamax perlu dibarengi dengan persiapan tambahan bantuan sosial. Selain itu, ada sejumlah beban yang mungkin dapat ditanggung oleh pemerintah.
DEN memandang kebijakan tersebut perlu dikaji secara hati-hati dan terus dikalkulasi setiap waktu. Hal tersebut mengingat situasi yang terus dinamis dan perlu dipantau secara ketat.
"Kalaupun ada skenario itu harusnya bertahap dan harus disiapin tambahan bantuan sosial kan, terus ada beban-beban yang mungkin juga bisa ditanggung oleh pemerintah," paparnya.
2. Risiko konsumen pindah ke BBM subsidi

Ada risiko perpindahan konsumen jika terjadi disparitas harga yang terlalu jauh. Dia mencontohkan, jika pemerintah menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite sementara harga Pertamax dinaikkan, masyarakat cenderung akan beralih menggunakan Pertalite.
Akibatnya, beban subsidi pemerintah justru akan meningkat. Hal itu berbeda dengan pengguna Pertamax Turbo yang memiliki spesifikasi kendaraan berbeda sehingga cenderung sulit untuk beralih ke jenis BBM yang lebih rendah.
"Tapi kalau Pertamax ke Pertalite kan sebenarnya relatif bisa gampang berganti. Jadi kita harus hitung benar-benar," kata dia.
3. BBM subsidi tidak dinaikkan sudah tepat

Keputusan pemerintah untuk menahan harga BBM dan LPG subsidi dinilai langkah yang tepat. Dia membandingkannya situasi 10 tahun lalu ketika kelompok menengah ke atas masih banyak yang menikmati subsidi.
Saat ini, kelompok menengah ke bawah justru menjadi pihak yang paling banyak menikmati BBM dan LPG subsidi. Oleh karena itu, di tengah situasi sosial ekonomi masyarakat saat ini, setiap langkah terkait harga BBM harus dihitung secara sangat hati-hati.
"Kita juga melihat pilihan menaikkan BBM emang pilihan yang kompleks ya sekarang. Dan sementara menahan harga BBM itu menurut kami itu sudah pilihan yang tepat," ujar Firman.
















