Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Pertamax Naik, Migrasi ke Pertalite Bisa Picu Subsidi Membengkak

Harga Pertamax Naik, Migrasi ke Pertalite Bisa Picu Subsidi Membengkak
Ilustrasi SPBU Pertamina. (Dok. Pertamina Patra Niaga)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pemerintah menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sebagai langkah realistis untuk mengurangi beban kompensasi dalam APBN.
  • Kenaikan harga ini memperlebar selisih dengan Pertalite hingga Rp3.950 per liter, berpotensi mendorong pengguna Pertamax beralih ke BBM bersubsidi.
  • Perpindahan besar-besaran ke Pertalite bisa membuat subsidi membengkak dan memicu kelangkaan jika kuota tidak ditambah, menimbulkan risiko sosial di masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyoroti kenaikan harga Pertamax yang membuat selisih harga dengan Pertalite semakin lebar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong pengguna Pertamax beralih ke Pertalite.

"Dengan penaikan tersebut menyebabkan disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite semakin menganga, sekitar Rp3.950 per liter," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).

1. Pemerintah dinilai mulai realistis kurangi beban kompensasi

Petugas SPBU Pertamina mengenakan seragam merah putih sedang memegang nozzle bahan bakar dan menunjuk ke mesin pengisian BBM.
Ilustrasi SPBU Pertamina. (Dok. Pertamina Patra Niaga)

Fahmy menilai kenaikan harga Pertamax menunjukkan pemerintah mulai mengambil langkah yang lebih realistis dalam mengelola anggaran negara. Keputusan menaikkan harga dilakukan setelah harga BBM tersebut ditahan selama tiga bulan di level Rp12.300 per liter.

"Pemerintah akhirnya menaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Penaikan ini mengindikasikan bahwa pemerintah mulai realistis untuk mengurangi beban pengeluaran APBN untuk bayar kompensasi," ujar dia.

2. Migrasi ke Pertalite bisa bikin subsidi membengkak

Petugas mengisi BBM jenis Pertalite ke tangki sepeda motor konsumen di salah satu SPBU Pertamina. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
Petugas mengisi BBM jenis Pertalite ke tangki sepeda motor konsumen di salah satu SPBU Pertamina. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Meski demikian, Fahmy menilai pelebaran selisih harga berpotensi memicu perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Dia memperkirakan, perpindahan pengguna Pertamax ke Pertalite dapat meningkatkan beban subsidi BBM yang ditanggung pemerintah.

"Dampaknya, beban APBN untuk subsidi BBM semakin membengkak. Kalau migrasi besar-besaran terjadi, tujuan mengurangi beban APBN tidak tercapai," kata dia.

3. Kuota Pertalite berpotensi meningkat

WhatsApp Image 2025-10-08 at 16.08.28.jpeg
Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Pastikan Ketersediaan Pertalite dan Pertamax di Timika. (Dok/Istimewa).

Fahmy juga mengingatkan potensi meningkatnya kebutuhan Pertalite akibat perpindahan konsumen dari Pertamax. Menurut dia, kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan kebutuhan kuota Pertalite.

"Kalau tidak ada penambahan kuota Pertalite pasca penaikan harga Pertamax, kelangkaan Pertalite akan terjadi hingga antrian di SPBU mengular. Kelangkaan itu bisa memicu masalah sosial, yang mengganggu stabilitas negara," kata dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More