Jakarta, IDN Times - Hashim Djojohadikusumo memaparkan latar belakang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada peraih Nobel Ekonomi 2024, Prof. James A. Robinson, dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Dia menjelaskan, gagasan program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut berawal dari kekhawatiran terhadap kualitas pendidikan dan gizi anak-anak Indonesia.
Adik Prabowo itu mengatakan, gagasan itu bermula ketika Prabowo memanggilnya ke kantor saat dia sedang berada di Indonesia untuk menjenguk ibu mereka yang sakit. Kala itu, Hashim masih tinggal di Eropa.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan kekhawatirannya terhadap kualitas pendidikan dan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah angka stunting atau tengkes yang saat itu disebut mencapai 30 persen pada anak-anak Indonesia.
"Saat itu saya tidak tahu apa itu stunting. Anda tahu, saya seorang pengusaha, saya suka membaca tetapi saya pebisnis, jadi saya tidak tahu apa itu stunting. Beliau (Presiden Prabowo) meluangkan waktu sekitar setengah hingga 1 jam untuk menjelaskan apa itu stunting," kata Hashim dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di The Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut penjelasan yang diterimanya, persoalan gizi tidak selalu berarti anak-anak mengalami kelaparan. Mereka bisa saja makan setiap hari, tetapi asupan yang dikonsumsi tidak memiliki kandungan gizi yang cukup. Pola makan anak-anak saat itu didominasi nasi, dengan sedikit garam atau lauk seadanya.
