ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)
Ardy menjelaskan pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen global dan terutama domestik. Dari global, pasar menghadapi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS) dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Inflasi indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada September tercatat 3,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan 0,6 persen secara bulanan (month on month/mom), di atas ekspektasi pasar sebesar 3,6 persen. Sementara itu, indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) naik 1,3 persen secara bulanan dan 6,3 persen secara tahunan.
Kenaikan tersebut mencerminkan tekanan harga yang berpotensi berlanjut ke tingkat konsumen. Kondisi ini memperkuat ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer, bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan untuk mengendalikan inflasi.
Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 1,11 persen ke 7.718,94 dan Nasdaq melemah 1,88 persen ke 26.692,87 pada Rabu akibat tekanan pada saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pada Kamis, S&P 500 berbalik menguat 0,33 persen ke 7.744,06, Nasdaq naik 0,08 persen ke 26.713,03, sedangkan Dow Jones menguat 1,08 persen ke 52.177,69 seiring peralihan investor ke saham defensif.
Dari sisi geopolitik, harga minyak Brent menyentuh 110 dolar AS per barel pada Jumat setelah Iran meningkatkan serangan di sekitar Selat Hormuz. Arus minyak yang melewati selat tersebut turun menjadi 11,6 juta barel per hari, sekitar 68 persen dari tingkat sebelum perang sebesar 17,1 juta barel per hari. Setidaknya 12 serangan terhadap kapal tercatat dalam sepekan hingga 16 Oktober.
Iran juga menargetkan pangkalan militer AS, pusat energi, dan pelabuhan utama di kawasan Jazirah Arab. Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Turki, dan Yordania menghadapi potensi serangan baru. Kelompok Houthi turut menyerang infrastruktur di Arab Saudi. Kenaikan harga minyak menjadi sentimen positif bagi sebagian emiten energi, tetapi berisiko menambah tekanan inflasi dan pelemahan rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada pengumuman MSCI. Lembaga penyedia indeks saham global tersebut menilai klasifikasi Emerging Market tidak lagi tepat bagi Indonesia, sedangkan kategori Frontier Market belum mencerminkan persoalan yang ada. MSCI menyoroti struktur kepemilikan saham yang kurang transparan, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta reformasi pasar modal yang dinilai belum konsisten.
Konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Pengumuman tersebut muncul lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, yakni November.
Ardy memperkirakan potensi arus modal keluar mencapai Rp105 triliun hingga Rp132 triliun atau 5,8 miliar dolar AS hingga 7,3 miliar miliar dolar AS jika reklasifikasi diterapkan. Saham BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII dinilai paling rentan terdampak.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjatuhkan denda total Rp2,1 triliun kepada pihak terkait perdagangan saham DSSA sebesar Rp1,5 triliun, BREN Rp500 miliar, dan CUAN Rp100 miliar. Sejak Januari 2026, OJK juga telah menindak 835 pihak dengan total sanksi lebih dari Rp390 miliar.
BEI akan meminta klarifikasi kepada MSCI dan mengimbau investor tetap rasional. Sementara itu, Danantara menyatakan siap melakukan akumulasi pada saham dengan fundamental kuat.