IHSG Tunjukkan Pemulihan, Modal Asing Mulai Masuk?

- IHSG menunjukkan pemulihan sejak awal Juli 2026, didorong oleh penguatan saham perbankan besar, konglomerasi, dan energi serta meningkatnya minat investor menjelang laporan keuangan kuartal II.
- Arus modal asing mulai berbalik positif dengan net buy Rp442,05 miliar sepekan terakhir, didukung sentimen optimistis terhadap valuasi saham Indonesia dan rekomendasi positif untuk BBRI.
- Stabilitas rupiah menjadi faktor kunci keberlanjutan pemulihan IHSG, di tengah risiko eksternal seperti harga minyak tinggi dan potensi kebijakan ketat The Fed.
Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tanda-tanda pemulihan sejak awal Juli 2026. Di awal pekan ini, Senin (20/7/2026), IHSG berhasil mengakhiri pergerakan dengan menguat 48,94 poin atau 0,79 persen ke 6.224,48.
Pagi tadi, Rabu (22/7), IHSG menguat 25,99 poin atau 0,41 persen ke 6.366,01. Meski di penutupan perdagangan sesi I hari ini IHSG melemah 24,47 poin atau 0,39 persen ke level 6.315,55, dalam 1 bulan terakhir terjadi perbaikan, di mana IHSG menguat 98,5 poin atau 1,58 persen.
Menurut pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, pemulihan IHSG didorong oleh kebangkitan saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BBNI, saham konglomerasi, dan saham sektor energi.
“Selain itu, mulai meningkatnya volume transaksi dan rotasi sektor menjelang musim publikasi laporan keuangan kuartal II-2026 menjadi indikasi bahwa minat investor terhadap pasar saham domestik perlahan kembali pulih,” ucap Hendra dikutip dari analisisnya.
1. Arus modal asing mulai masuk

Sentimen positif terhadap IHSG juga tercermin dari perubahan arus dana investor asing. Setelah berbulan-bulan terus melakukan aksi jual, investor asing akhirnya mencatatkan aksi beli bersih atau net buy sepekan kemarin (13-17 Juli 2026), senilai Rp442,05 miliar.
Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing masih membukukan net sell Rp90 triliun. Namun, kondisi tersebut menurutnya layak menjadi perhatian. Sebab, dalam banyak siklus pasar sebelumnya, perubahan tren arus dana asing umumnya diawali oleh akumulasi bertahap, sebelum berkembang menjadi pembelian dalam skala yang lebih besar.
“Di sisi lain, meningkatnya rekomendasi JP Morgan terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turut memberikan sentimen positif, karena menunjukkan mulai munculnya keyakinan investor institusi global bahwa valuasi saham-saham Indonesia kembali menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam,” kata Hendra.
2. Kebijakan kenaikan suku bunga dorong sentimen positif

Dia juga mengatakan, adanya faktor lain yang mendukung peluang berlanjutnya aliran dana asing ke Indonesia. Stabilitas rupiah yang diperkirakan membaik berkat komitmen Bank Indonesia (BI) menjaga nilai tukar, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dibandingkan negara lain, serta ekspektasi membaiknya kinerja emiten pada kuartal II-2026 menjadi kombinasi katalis yang cukup positif.
“Di sisi global, koreksi yang terjadi di sejumlah bursa saham besar, khususnya saham-saham teknologi yang sebelumnya menikmati euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), membuka peluang terjadinya rotasi investasi menuju pasar negara berkembang dengan valuasi yang lebih murah, termasuk Indonesia,” tutur dia.
Selain itu, dia mengatakan, valuasi IHSG yang relatif lebih menarik dibandingkan beberapa pasar regional akan membuat Indonesia berpotensi menjadi salah satu tujuan aliran modal asing. Dengan catatan, kondisi makroekonomi domestik harus tetap terjaga.
3. Pergerakan rupiah jadi penentu

Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko yang masih dapat menghambat proses pemulihan pasar. Hendra pengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah menjadi faktor uta,a.
“Apabila rupiah kembali melemah hingga menembus level psikologis Rp18 ribu per dolar AS, tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi meningkat karena dapat memicu kembali aksi jual investor asing sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi,” ucap dia.
Selain itu, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi, serta potensi kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve yang lebih ketat apabila tekanan inflasi global kembali meningkat, masih menjadi risiko eksternal yang harus dicermati. Oleh
Oleh karena itu, menurutnya, keberlanjutan penguatan IHSG dalam beberapa waktu ke depan akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni konsistensi arus dana asing yang kembali masuk, stabilitas rupiah agar tidak kembali menembus Rp18 ribu per dolar AS, serta kemampuan emiten membukukan kinerja keuangan yang mampu melampaui ekspektasi pasar.
“Jika ketiga faktor tersebut mampu terjaga, peluang IHSG melanjutkan fase pemulihan akan semakin besar,” ujar Hendra.
Dia memprediksi, dari sisi teknikal, tren penguatan IHSG masih berpotensi berlanjut, namun ruang kenaikannya diperkirakan relatif terbatas dengan target menguji area 6.300, sementara level 6.191 menjadi support penting yang harus dipertahankan agar momentum penguatan tidak kembali berubah menjadi tekanan jual.



















