Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Inflasi Global Diperkirakan Naik, Apa Dampaknya bagi Keuangan?

3 min read
Inflasi Global Diperkirakan Naik, Apa Dampaknya bagi Keuangan?
ilustrasi penurunan ekonomi (magnific.com/magnific)
  • IMF memproyeksikan inflasi global mencapai 4,7 persen pada 2026 sebelum turun menjadi 4,1 persen pada 2027, dipengaruhi tekanan harga energi dan pangan.
  • Kenaikan inflasi berpotensi membuat kebutuhan harian, transportasi, serta biaya pinjaman lebih mahal, terutama bagi pemegang kredit berbunga mengambang dan calon peminjam.
  • Daya beli tabungan dapat tergerus bila inflasi melampaui bunga simpanan, sementara investasi menghadapi perubahan risiko akibat ekspektasi suku bunga dan imbal hasil pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Inflasi global diperkirakan naik seiring meningkatnya harga energi dan pangan yang masih membayangi perekonomian dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi global mencapai 4,7 persen pada 2026 sebelum turun menjadi 4,1 persen pada 2027. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga masih menjadi perhatian meskipun ekonomi dunia tetap tumbuh.

Kenaikan inflasi tidak hanya berkaitan dengan harga barang di pasar. Kondisi ini juga dapat memengaruhi suku bunga, nilai investasi, hingga kemampuan kita menyisihkan uang setiap bulan. Lantas, apa saja dampak inflasi global yang perlu kita pahami untuk mengelola keuangan?

  1. 1. Harga kebutuhan sehari-hari akan semakin mahal

    ilustrasi belanja bulanan
    ilustrasi belanja bulanan (pexels.com/Kampus Production)

    Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai barang. Ketika harga minyak naik, misalnya, ongkos pengiriman barang melalui jalur darat maupun laut berpotensi ikut meningkat. Produsen dan pedagang kemudian dapat meneruskan sebagian kenaikan biaya tersebut kepada konsumen melalui harga jual yang lebih tinggi.

    Dampak ini bisa terasa pada anggaran belanja bulanan kita. Harga bahan pangan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga dapat meningkat sehingga jumlah uang yang sama tidak lagi mampu membeli barang sebanyak sebelumnya. Namun, besarnya dampak bergantung pada kondisi setiap negara, kebijakan pemerintah, dan kemampuan pelaku usaha menyerap kenaikan biaya.

  2. 2. Cicilan pinjaman berpotensi ikut meningkat

    ilustrasi meminjam uang
    ilustrasi meminjam uang (magnific.com/rawpixel)

    Inflasi yang tinggi dapat mendorong bank sentral mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan harga. Ketika suku bunga acuan meningkat, biaya pinjaman di perbankan juga berpotensi naik, meskipun penyesuaiannya bergantung pada kebijakan masing-masing bank dan jenis kredit. Kondisi ini membuat masyarakat perlu memperhatikan perubahan bunga pinjaman.

    Bagi kita yang memiliki kredit dengan bunga mengambang, kenaikan suku bunga dapat membuat cicilan menjadi lebih besar. Sementara itu, orang yang berencana mengambil KPR atau pinjaman kendaraan mungkin menghadapi biaya pembiayaan yang lebih tinggi. Karena itu, sebelum menambah utang, kita perlu menghitung kemampuan membayar cicilan dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan pengeluaran dan pendapatan.

  3. 3. Nilai uang yang disimpan bisa tergerus

    ilustrasi menabung
    ilustrasi menabung (pexels.com/kaboompics)

    Inflasi juga memengaruhi daya beli uang yang kita simpan. Jika harga barang naik lebih cepat daripada bunga tabungan, nilai riil uang tersebut akan berkurang karena kita membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama. Misalnya, uang Rp1 juta yang disimpan hari ini mungkin tidak cukup untuk membeli barang senilai yang sama setelah harga-harga meningkat.

    Situasi ini bukan berarti kita harus menghindari tabungan atau langsung memindahkan seluruh uang ke instrumen investasi berisiko. Dana darurat tetap penting untuk menghadapi kebutuhan mendadak, sedangkan uang untuk tujuan jangka panjang dapat dikelola sesuai kebutuhan dan toleransi risiko. Kita juga perlu membandingkan hasil investasi setelah memperhitungkan inflasi, biaya, dan potensi kerugian.

  4. 4. Investasi bisa menghadapi perubahan risiko

    ilustrasi investasi saham
    ilustrasi investasi saham (pexels.com/RDNE Stock project)

    Inflasi yang meningkat dapat memengaruhi pasar keuangan melalui perubahan ekspektasi suku bunga dan prospek keuntungan perusahaan. Ketika investor memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi, harga saham tertentu dapat tertekan karena biaya pendanaan meningkat atau valuasi perusahaan disesuaikan. Namun, dampaknya tidak selalu sama karena setiap sektor memiliki sensitivitas berbeda terhadap inflasi.

    Harga obligasi juga dapat terpengaruh ketika imbal hasil pasar meningkat. Obligasi lama dengan kupon tetap umumnya mengalami penurunan harga saat imbal hasil yang ditawarkan obligasi baru naik. Oleh sebab itu, kita perlu memahami tujuan investasi, jangka waktu, dan risiko setiap instrumen sebelum mengambil keputusan, alih-alih bereaksi hanya karena berita inflasi.

    Memang betul inflasi global diperkirakan naik, tapi bukan berarti membuat kondisi keuangan setiap orang memburuk. Kendati demikian, memahami pengaruhnya terhadap harga kebutuhan, cicilan, daya beli, dan investasi dapat membantu kita menyusun anggaran yang lebih realistis. Dengan mengevaluasi pengeluaran dan menjaga dana darurat, kita bisa lebih siap menghadapi perubahan ekonomi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More