Investor Tidak Disarankan All-In saat IHSG Tertekan, Ini Strateginya

- Nafan Aji Gusta menilai pelemahan IHSG membuka peluang bagi investor domestik karena banyak saham undervalued, namun strategi terbaik adalah akumulasi bertahap dengan pendekatan defensif dan selektif.
- Investor disarankan menghindari langkah agresif saat volatilitas rupiah tinggi dan aksi jual asing berlanjut, karena pasar masih dalam fase mencari titik dasar atau bottoming-out.
- Strategi buy on weakness direkomendasikan pada saham berkapitalisasi besar yang oversold, dilakukan bertahap untuk memanfaatkan valuasi murah dengan risiko lebih terukur.
Jakarta, IDN Times - Tekanan yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat investor perlu lebih cermat dalam menyusun strategi investasi. Alih-alih masuk secara agresif ke pasar, investor disarankan memanfaatkan momentum koreksi untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, kondisi pelemahan IHSG saat ini justru membuka peluang bagi investor domestik karena banyak saham diperdagangkan pada valuasi yang lebih murah.
“Bagi investor domestik, kondisi koreksi tajam IHSG sebenarnya menyediakan ruang valuasi yang sangat murah (undervalued). Namun, strategi yang paling bijak saat ini adalah gradual accumulation dengan pendekatan defensif-selektif, bukan langsung agresif masuk (all-in),” kata Nafan kepada IDN Times, Minggu (7/6/2026).
Menurut dia, pasar saham Indonesia saat ini masih berada dalam fase pencarian titik dasar atau bottoming-out. Oleh karena itu, investor perlu menghindari keputusan investasi yang terlalu agresif di tengah ketidakpastian pasar.
1. Hindari masuk pasar secara agresif

Nafan juga menilai volatilitas nilai tukar rupiah yang masih tinggi serta aksi jual investor asing yang terus berlanjut menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan.
“Pasar saat ini masih dalam fase mencari landasan (bottoming-out process). Masuk secara agresif saat volatilitas rupiah masih tinggi dan asing masih mencatatkan net sell harian yang besar sangat berisiko (catching a falling knife),” ujarnya.
Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak langsung menempatkan seluruh dana investasi sekaligus saat pasar masih bergejolak.
2. Lakukan pembelian bertahap saat harga melemah

Strategi yang direkomendasikan adalah buy on weakness atau membeli saham secara bertahap ketika harga mengalami pelemahan.
Nafan menjelaskan, investor dapat memanfaatkan momentum koreksi untuk mengakumulasi saham-saham pilihan secara bertahap sehingga risiko pembelian pada harga yang terlalu tinggi dapat diminimalkan.
Pendekatan ini dinilai lebih aman dibandingkan melakukan pembelian dalam jumlah besar pada satu waktu ketika arah pasar belum sepenuhnya stabil.
3. Fokus pada saham besar yang sudah oversold

Selain membeli secara bertahap, investor juga disarankan lebih selektif dalam memilih saham. Nafan merekomendasikan saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah berada pada kondisi jenuh jual atau oversold.
“Tactical strategy, lakukan pembelian secara bertahap (buy on weakness) pada saham-saham berkapitalisasi besar yang harganya sudah jenuh jual (oversold), terutama ketika indikator teknikal menunjukkan pembalikan arah jangka pendek,” tuturnya.
Nafan menambahkan, investor domestik dapat memanfaatkan modal dalam negeri untuk menyerap pasokan saham yang dilepas investor asing pada harga diskon. Namun, strategi tersebut idealnya dilakukan dengan horizon investasi jangka menengah hingga panjang.
Dengan strategi defensif dan selektif, investor berpeluang memanfaatkan valuasi murah di tengah tekanan pasar tanpa harus mengambil risiko berlebihan.


















