Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Irak Cari Jalur Ekspor Minyak Alternatif di Tengah Krisis Selat Hormuz
potret bendera Irak (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Penutupan Selat Hormuz memutus jalur laut Irak yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak, menyebabkan kehilangan pendapatan sekitar 60 miliar dolar AS dan mengganggu pembayaran gaji pemerintah.
  • Irak meningkatkan penggunaan pipa Irak-Turki dengan target 750 ribu barel per hari, tetapi kapasitas ini masih jauh di bawah rata-rata 3,4 juta barel per hari sebelum gangguan.
  • Rute Baniyas di Suriah dipakai untuk ekspor minyak bakar dan impor bensin, sementara Irak mengkaji pipa jangka panjang menuju Suriah, Turki, serta Yordania.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times  -  Irak mencari jalur alternatif untuk mengekspor minyak setelah penutupan Selat Hormuz memutus perdagangan lautnya. Irak tidak dapat mengekspor sekitar 90 persen minyaknya melalui Teluk Persia dan kehilangan sekitar 60 miliar dolar AS (setara Rp1.080,26 triliun) pendapatan minyak sejak perang dimulai.

Pendapatan minyak diketahui menyumbang sekitar 90 persen anggaran federal Irak. Dilansir Al Jazeera, penurunan ekspor telah berdampak pada kemampuan pemerintah membayar gaji dan memicu protes di Baghdad.

1. Irak tingkatkan ekspor minyak lewat Turki

lokasi jalur pipa minyak Irak-Turki (commons.wikimedia.org/Amirki)

Salah satu jalur yang digunakan Irak ialah jalur pipa minyak Irak-Turki (ITP). Manajer Basra Oil Company, Bassem Abdul Karim, menyatakan sekitar 250 ribu barel minyak per hari saat ini diangkut melalui jalur darat dari ladang minyak di Irak selatan menuju fasilitas penyimpanan di Kirkuk, Irak utara. 

Berhubung jalur laut masih sebagian besar terblokir, Irak berencana meningkatkan ekspor melalui ITP menjadi 750 ribu barel per hari. Pada Agustus 2026, Irak dan Turki juga menandatangani kesepakatan selama setahun yang dapat diperpanjang untuk mengekspor sedikitnya 750 ribu barel minyak per hari melalui ITP menuju Ceyhan, pelabuhan di pesisir Mediterania Turki. 

Sebagai informasi, target 750 ribu barel per hari masih jauh di bawah rata-rata nyaris 3,4 juta barel per hari yang ditangani pelabuhan-pelabuhan di Irak selatan sebelum adanya gangguan pelayaran di Selat Hormuz. 

2. Jalur Suriah mulai dipakai dua arah

potret Kota Baniyas (commons.wikimedia.org/Dosseman)

Selain Turki, Irak mulai menggunakan Pelabuhan Baniyas di Suriah. Sejak April 2026, Irak mengirim minyak bakar melalui Suriah untuk diekspor dari kawasan Mediterania. Pada September, rute yang sama digunakan untuk mengimpor bensin melalui Baniyas dan mengangkutnya lewat darat menuju Irak, dilansir Noon Post. 

Kargo bensin pertama yang terkonfirmasi melalui Baniyas membawa sekitar 32.800–33.000 ton bensin atau sekitar 37 juta liter. Bensin tersebut lantas diangkut menggunakan truk menuju Irak lewat perlintasan Al-Walid. 

Untuk ekspor, truk membawa minyak bakar dari Irak menuju Baniyas. Minyak tersebut lantas dimuat ke dalam kapal tanker untuk dikirim ke luar kawasan. Pada Juli, data Kpler mencatat tiga kapal tanker membawa minyak bakar Irak menuju Amerika Serikat (AS), Spanyol, dan Mesir. 

Syrian Petroleum Company (SPC) mengatakan telah menyiapkan area tambahan sehingga Baniyas dapat membongkar sekitar 900 truk tanker per hari. Setiap truk membawa sekitar 20 ton produk atau sekitar 135 barel. Jika beroperasi dengan kapasitas penuh, jumlah tersebut setara sekitar 120 ribu barel per hari.

3. Irak siapkan jalur ekspor jangka panjang

Perdana Menteri Irak Ali Falih Al-Zaidi (commons.wikimedia.org/@pmoiraqichannel)

Irak juga menyiapkan jalur ekspor dengan kapasitas lebih besar. Pada Juli, Basra Oil Company bersama Chevron dan UCC Holding mengkaji sejumlah opsi pembangunan pipa, termasuk rute dari ladang minyak di Irak selatan menuju koridor Haditha dan Baniyas di pesisir Suriah. 

Menurut sumber Reuters yang dikutip Noon Post, pembangunan pipa menuju Baniyas diperkirakan butuh waktu sekitar empat tahun dengan biaya sedikitnya 15 miliar USD (setara Rp270,07 triliun).

Irak juga mengkaji jalur lain. Pada Agustus, Perdana Menteri Irak Ali Falih Al-Zaidi menyebut perluasan kapasitas Ceyhan serta pengembangan rute menuju Baniyas dan Pelabuhan Aqaba di Yordania. Baghdad mempelajari pembagian ekspor melalui Baniyas, Ceyhan, dan Aqaba untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Teluk Persia. 

Namun, belum ada jalur alternatif yang dapat segera menggantikan Selat Hormuz. Analis politik dan keamanan Irak, Sarmad Al-Bayati, mengatakan bahwa Irak belum mempunyai solusi cepat untuk mengatasi persoalan ekspor minyak.

"Untuk saat ini, satu-satunya pilihan adalah mengekspor melalui Selat Hormuz," kata Al-Bayati kepada Al Jazeera. Ia menilai rute melalui Suriah atau Turki maupun rencana memperpanjang jalur pipa melalui Yordania tidak realistis dan praktis apabila situasi di Selat Hormuz tetap seperti sekarang. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article