Perdana Menteri Irak Ali Falih Al-Zaidi (commons.wikimedia.org/@pmoiraqichannel)
Irak juga menyiapkan jalur ekspor dengan kapasitas lebih besar. Pada Juli, Basra Oil Company bersama Chevron dan UCC Holding mengkaji sejumlah opsi pembangunan pipa, termasuk rute dari ladang minyak di Irak selatan menuju koridor Haditha dan Baniyas di pesisir Suriah.
Menurut sumber Reuters yang dikutip Noon Post, pembangunan pipa menuju Baniyas diperkirakan butuh waktu sekitar empat tahun dengan biaya sedikitnya 15 miliar USD (setara Rp270,07 triliun).
Irak juga mengkaji jalur lain. Pada Agustus, Perdana Menteri Irak Ali Falih Al-Zaidi menyebut perluasan kapasitas Ceyhan serta pengembangan rute menuju Baniyas dan Pelabuhan Aqaba di Yordania. Baghdad mempelajari pembagian ekspor melalui Baniyas, Ceyhan, dan Aqaba untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Teluk Persia.
Namun, belum ada jalur alternatif yang dapat segera menggantikan Selat Hormuz. Analis politik dan keamanan Irak, Sarmad Al-Bayati, mengatakan bahwa Irak belum mempunyai solusi cepat untuk mengatasi persoalan ekspor minyak.
"Untuk saat ini, satu-satunya pilihan adalah mengekspor melalui Selat Hormuz," kata Al-Bayati kepada Al Jazeera. Ia menilai rute melalui Suriah atau Turki maupun rencana memperpanjang jalur pipa melalui Yordania tidak realistis dan praktis apabila situasi di Selat Hormuz tetap seperti sekarang.