Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lalu Lintas Kapal Dagang di Selat Hormuz Drop, Minyak Dunia Tertekan

Lalu Lintas Kapal Dagang di Selat Hormuz Drop, Minyak Dunia Tertekan
ilustrasi kapal kargo (pexels.com/William Liu)
  • Lalu lintas kapal komoditas terdeteksi di Selat Hormuz turun menjadi 13 kapal pada Sabtu dan empat kapal pada Minggu, di tengah pemeriksaan Iran serta patroli militer AS.
  • Data publik belum sepenuhnya menggambarkan pasokan fisik: lebih dari 80 persen kargo cair memakai jalur pesisir Oman atau mematikan transponder, dengan pengawalan koridor khusus AS.
  • Menjelang sanksi baru AS, Iran mengancam menghentikan seluruh ekspor minyak Teluk Persia dan menganggap negara yang memfasilitasi sanksi sebagai pihak yang melakukan tindakan perang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lalu lintas kapal dagang komoditas yang terdeteksi oleh sistem pelacak navigasi publik di Selat Hormuz dilaporkan menurun drastis menjadi kurang dari 20 armada pada akhir pekan, Sabtu (22/8/2026) dan Minggu (23/8/2026). Penurunan aktivitas pelayaran komoditas energi tersebut terjadi di tengah pengawasan ketat serta aksi blokade ganda yang diterapkan oleh militer Amerika Serikat dan Iran di kawasan perairan vital tersebut.

Kondisi ini menekan jalur distribusi minyak dunia karena Selat Hormuz merupakan pintu gerbang utama lalu lintas pengangkutan energi global. Penyempitan arus pelayaran yang tampak secara publik ini memicu keprihatinan baru di pasar internasional, mengingat ketegangan geopolitik antara Washington dan Tehran terus meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.

  1. 1. Lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz alami penurunan drastis

    Selat Hormuz
    Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Berdasarkan data pemantauan pelayaran Kpler yang dilansir investingLive, hanya empat kapal komoditas yang tercatat melintasi Selat Hormuz pada Minggu (23/8/2026), sementara 13 kapal melintas pada Sabtu (22/8/2026). Angka ini mencerminkan penurunan drastis armada yang menyalakan sinyal transponder publik. Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa data pelacak ini berpotensi membesar-besarkan tingkat gangguan pasokan minyak fisik, mengingat mayoritas kapal tangki kini memilih mematikan sinyal pelacak demi menghindari pencegatan.

    Penyempitan arus lalu lintas kapal dagang ini dipicu oleh kebijakan pemeriksaan ketat yang diberlakukan oleh otoritas Iran serta patroli militer Amerika Serikat. Parlemen Iran baru-baru ini menyetujui rancangan undang-undang yang mengizinkan pemungutan biaya navigasi, lingkungan, serta layanan keselamatan bagi kapal yang lewat. Pihak Otoritas Selat Teluk Persia milik Iran menegaskan bahwa kapal yang melanggar protokol bakal dijatuhi denda, penahanan, hingga penyitaan armada.

    Kondisi keamanan yang memburuk membuat perusahaan pelayaran internasional memilih untuk menunda transit atau memutar arah demi menghindari bahaya penangkapan. Para analis maritim menilai pembatasan ganda dari kedua negara berkonflik tersebut telah mengancam kelancaran pasokan energi dunia secara langsung. Situasi ini memicu kenaikan premi risiko pada perdagangan minyak mentah global jenis Brent dan WTI.

  2. 2. Jalur rahasia Oman dan kapal tanpa transponder tetap beroperasi

    ilustrasi kapal kargo
    ilustrasi kapal kargo (pexels.com/Oleksiy Yeshtokyn,🌻🇺🇦🌻)

    Di balik penurunan angka transit kapal yang terdeteksi secara publik, aktivitas pengiriman minyak dilaporkan tetap berlangsung melalui mekanisme rahasia. Lebih dari 80 persen kargo cair yang melewati Selat Hormuz dalam dua pekan terakhir menggunakan jalur pesisir Oman atau bergerak dengan transponder mati. Langkah menonaktifkan sistem pelacak ini dilakukan oleh para kapten kapal demi menghindari deteksi radar dan pencegatan militer.

    Pihak militer Amerika Serikat dilaporkan telah mengoperasikan koridor khusus di sepanjang pesisir Oman untuk memfasilitasi pergerakan kapal tangki. Koridor yang dikoordinasikan dari Fort Bragg ini membantu mengangkut sekitar 10 juta barel minyak per hari secara diam-diam. Menurut data pejabat AS yang dilaporkan Reuters, operasi pengawalan ini telah membantu mengalirkan kumulatif lebih dari 660 juta barel minyak mentah keluar dari Teluk Persia sejak awal Mei lalu.

    Adanya selisih besar antara jumlah kapal yang tampak pada radar publik dan volume minyak riil yang terangkut menunjukkan bahwa gangguan rantai pasok tidak sepenuhnya melumpuhkan pengiriman fisik. Sebanyak 15 hingga 20 kapal tangki tercatat melintasi saluran selatan pada malam hari di bawah koordinasi gugus tugas militer AS dari Fort Bragg. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya angka pelacakan publik lebih mencerminkan pengalihan rute dan penonaktifan transponder ketimbang penurunan pasokan fisik secara nyata.

  3. 3. Iran ancam hentikan ekspor minyak dan anggap sanksi tindakan perang

    potret Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei
    potret Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei (Sonia Sevilla, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

    Anjloknya jumlah kapal yang terdeteksi bertepatan dengan rencana Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent untuk mengumumkan sanksi ekonomi terbaru yang sangat ketat terhadap Iran. Langkah balasan dari Washington ini disebut-sebut sebagai bagian dari kampanye tekanan ekonomi berskala besar. Respons agresif langsung dilontarkan oleh pejabat tinggi keamanan Tehran menyikapi pengumuman sanksi baru tersebut.

    Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, mengancam akan menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia jika kampanye tekanan ekonomi pihak Barat terus berlanjut. Ia juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang bekerja sama memfasilitasi sanksi baru AS akan dianggap melakukan "tindakan perang" terhadap Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More