Kapal perang Amerika Serikat sedang berlayar di Selat Hormuz. (flickr.com/Official U.S. Navy via commons.wikimedia.org/Official U.S. Navy)
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar, gangguan rantai pasok dari Timur Tengah berdampak langsung pada kenaikan harga energi di Jepang. Situasi di area Selat Hormuz menjadi pantauan utama karena jalur laut tersebut berstatus vital bagi distribusi minyak dan gas global.
"Walaupun situasi di Timur Tengah masih belum pasti, kami akan berusaha maksimal agar kehidupan sehari-hari masyarakat dan kegiatan ekonomi tidak terganggu," kata Wakil Kepala Sekretaris Kabinet, Masanao Ozaki.
Lebih dari 80 persen gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz dikirim ke negara-negara Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Situasi ini memaksa negara-negara tersebut bersaing mendapatkan pasokan gas dengan harga yang lebih tinggi. Meski ada tekanan pasokan, pemerintah Jepang belum meminta warga melakukan pembatasan penggunaan listrik secara ketat pada musim panas ini.
"Karena pasokan bahan bakar yang kita butuhkan sudah aman di dalam negeri, kita belum perlu meminta penghematan energi yang lebih ketat dari biasanya," kata Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa.