Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Impor Minyak Jepang dari Timur Tengah Anjlok ke Rekor Terendah

Impor Minyak Jepang dari Timur Tengah Anjlok ke Rekor Terendah
Ilustrasi kapal tanker minyak. (unsplash.com/Marcus Dall Col)
Intinya Sih
  • Impor minyak mentah Jepang dari Timur Tengah turun lebih dari 67 persen akibat blokade Selat Hormuz, membuat pasokan energi negara itu mencapai level terendah sejak 1979.
  • Pemerintah Jepang mengalihkan sumber energi ke Amerika Serikat dan melepas cadangan minyak darurat untuk menjaga pasokan BBM tetap aman hingga awal 2027.
  • Meskipun krisis energi terjadi, Jepang tetap mencatat surplus perdagangan berkat lonjakan ekspor semikonduktor dan AI, namun sektor otomotif terpukul oleh penurunan ekspor ke Timur Tengah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Impor minyak mentah Jepang dari Timur Tengah anjlok lebih dari 67 persen pada April, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menyentuh level bulanan terendah sejak pencatatan dimulai pada 1979.

Data Kementerian Keuangan Jepang pada 21 Mei 2026, menunjukkan gangguan pasokan parah ini terjadi akibat blokade efektif Selat Hormuz, usai eskalasi konflik kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari lalu.

Berdasarkan laporan statistik perdagangan awal, Jepang hanya mengimpor 3,84 juta kiloliter minyak dari kawasan tersebut pada bulan lalu. Timur Tengah biasanya memasok lebih dari 90 persen kebutuhan energi Jepang, tetapi kini pangsa pasarnya menyusut menjadi 85,8 persen, dilansir Kyodo News.

1. Diversifikasi pasokan dan cadangan nasional

Potret kapal pengangkut LNG. (https://commons.wikimedia.org : Gordon Leggett / Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0)
Potret kapal pengangkut LNG. (https://commons.wikimedia.org : Gordon Leggett / Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0)

Krisis ini juga memukul sektor industri sekunder. Impor produk minyak bumi lainnya, terutama nafta yang menjadi bahan baku plastik dan kemasan, anjlok 79,4 persen. Sementara itu, impor gas alam cair (LNG) dari kawasan Timur Tengah merosot 76,1 persen.

Untuk mengantisipasi kelangkaan, Tokyo mengalihkan jalur logistik dan mengamankan sumber alternatif. Langkah tersebut salah satunya dengan meningkatkan energi dari negara lain, yakni dengan mendongkrak nilai impor minyak dari Amerika Serikat (AS) sebesar 118,2 persen.

Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan bahwa Jepang tidak menghadapi ancaman kekurangan bahan bakar dalam waktu dekat. Pemerintah optimistis mampu mengamankan lebih dari 70 persen pasokan BBM untuk Juni melalui rute selain Selat Hormuz, yang diperkuat dengan pelepasan cadangan minyak darurat negara. Takaichi mengatakan Jepang dapat mempertahankan pasokan energi hingga awal 2027.

2. Neraca perdagangan tetap surplus

Ilustrasi perdagangan. (pexels.com/Frans Van Heerden)
Ilustrasi perdagangan. (pexels.com/Frans Van Heerden)

Meski diterpa krisis energi, Jepang berhasil mencatatkan surplus perdagangan sebesar 301,9 miliar yen (sekitar Rp33,7 triliun) pada April. Jumlah tersebut menandai surplus selama tiga bulan berturut-turut.

Hasil positif ini didorong oleh kenaikan ekspor yang tercatat tumbuh 14,8 persen (menjadi 10,51 triliun yen atau Rp1.176 triliun). Ini disebabkan kuatnya permintaan global terhadap semikonduktor dan perangkat elektronik terkait kecerdasan buatan (AI) di Asia, sedangkan impor meningkat 9,7 persen. Selain itu, berkurangnya volume pembelian membuat nilai impor minyak global Jepang turun sekitar 50 persen menjadi 454,2 miliar yen (Rp50,4 triliun), sehingga tidak menimbulkan dampak negatif pada neraca perdagangan.

3. Risiko stagflasi dan sektor otomotif

Ilustrasi pabrik mobil. (unsplash.com/carlos aranda)
Ilustrasi pabrik mobil. (unsplash.com/carlos aranda)

Pakar memperingatkan risiko jangka panjang bagi ekonomi Jepang, jika blokade Selat hormuz terus berlanjut. Hal ini dapat memicu kenaikan harga energi hingga mengganggu produksi industri, terutama sektor otomotif dan kimia.

Meskipun ekspor makro tumbuh, perdagangan Negeri Sakura dengan Timur Tengah merosot tajam sebesar 55,5 persen. Sektor otomotif menjadi yang paling terdampak. Sebab, ekspor mobil penumpang ke kawasan tersebut jatuh hingga 90,4 persen. Produsen raksasa seperti Toyota Motor Corp dan Nissan Motor Corp dilaporkan telah memangkas pengiriman mereka ke wilayah konflik.

"Kelangkaan minyak dan nafta akan menyebabkan pemangkasan produksi, yang berpotensi memicu pengurangan produk dan lonjakan harga barang," kata Takahide Kiuchi, ekonom eksekutif di Nomura Research Institute, dikutip dari Nippon.com.

Menurut Kiuchi, kondisi stagflasi (kombinasi dari pertumbuhan ekonomi yang lambat dan inflasi tinggi) dikhawatirkan dapat memperlemah daya beli konsumen serta keuntungan korporasi di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More