Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kapan Diskon Justru Bisa Membuat Bisnis Kehilangan Pelanggan?

5 min read
Kapan Diskon Justru Bisa Membuat Bisnis Kehilangan Pelanggan?
ilustrasi berbelanja produk diskon (unsplash.com/Arturo Rey)
  • Diskon terlalu sering bisa membuat pelanggan terbiasa menunggu promo.

  • Potongan harga besar dapat menurunkan persepsi kualitas dan nilai produk.

  • Promo yang tidak tepat bisa membuat pelanggan lama merasa kurang dihargai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Diskon sering menjadi cara cepat untuk menarik perhatian konsumen. Harga yang lebih murah bisa membuat orang yang awalnya hanya melihat-lihat akhirnya memasukkan produk ke keranjang. Bagi bisnis, promo juga bisa membantu meningkatkan penjualan dalam waktu singkat sekaligus mengurangi stok barang yang terlalu lama ada di gudang.

Namun, memberikan diskon bukan sekadar soal menurunkan harga. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan agar promo tetap memberikan manfaat bagi bisnis sekaligus menarik bagi pelanggan. Pasalnya, diskon yang dilakukan tanpa perencanaan tepat justru bisa membuat pelanggan makin menjauh. Lantas, kapan diskon justru bisa membuat bisnis kehilangan pelanggan?

  1. 1. Pelanggan jadi terbiasa menunggu diskon

    ilustrasi belanja daring
    ilustrasi belanja daring (freepik.com/freepik)

    Salah satu risiko terlalu sering memberikan diskon adalah pelanggan belajar untuk tidak membeli dengan harga normal. Misalnya, sebuah toko fashion rutin mengadakan promo diskon 50 persen setiap bulan. Lama-kelamaan, pelanggan merasa tidak perlu terburu-buru membeli karena yakin promo serupa akan datang lagi.

    Kebiasaan ini bisa membuat promosi berikutnya kehilangan efek urgensinya. Diskon yang awalnya terasa menarik justru dianggap sebagai hal biasa. Akibatnya, bisnis mungkin perlu memberikan potongan harga yang lebih besar untuk mendapatkan respons yang sama dari pelanggan.

    Contohnya bisa terjadi pada bisnis skincare yang rutin memberikan diskon setiap tanggal gajian. Pada awalnya, pelanggan mungkin merasa mendapatkan kesempatan membeli produk dengan harga lebih murah. Namun, setelah beberapa bulan, mereka bisa memilih menunggu tanggal tersebut daripada membeli ketika produk sedang dijual dengan harga normal.

  2. 2. Harga murah bisa memengaruhi persepsi kualitas

    ilustrasi fashion buyer
    ilustrasi berbelanja produk fashion (pexels.com/RDNE Stock project)

    Harga juga sering digunakan konsumen sebagai salah satu petunjuk untuk menilai kualitas sebuah produk. Ketika barang yang sebelumnya dianggap premium terlalu sering dijual dengan harga sangat murah, nilai yang dirasakan pelanggan bisa ikut menurun. Hal ini harusnya menjadi perhatian bagi bisnis yang menjual produk atau layanan dengan mengandalkan eksklusivitas, keahlian, kualitas bahan, atau kepercayaan. Misalnya, restoran premium, klinik kecantikan, hotel, konsultan, hingga brand fashion tertentu perlu berhati-hati ketika menggunakan diskon besar sebagai strategi pemasaran.

    Diskon yang terlalu ekstrem bahkan bisa membuat sebagian konsumen bertanya-tanya. Apakah kualitasnya berubah? Bukan berarti bisnis premium tidak boleh memberikan promo. Hanya saja, bentuk keuntungannya tidak harus selalu berupa potongan harga besar. Bonus produk, layanan tambahan, paket bundling, upgrade fasilitas, atau benefit khusus member bisa menjadi alternatif untuk memberikan nilai lebih tanpa membuat harga produk terlihat terlalu rendah.

  3. 3. Pelanggan lama bisa merasa kurang dihargai

    ilustrasi perempuan sedang berbelanja
    ilustrasi perempuan sedang berbelanja (freepik.com/freepik)

    Ada situasi lain yang cukup sering terjadi. Seorang pelanggan membeli produk hari ini dengan harga normal, lalu keesokan harinya melihat barang yang sama dengan diskon 40 persen. Wajar jika pelanggan tersebut kemudian merasa kurang beruntung.

    Masalah bisa menjadi lebih besar ketika bisnis justru memberikan keuntungan terbesar kepada pelanggan baru. Misalnya, pembeli baru mendapatkan voucher besar, gratis ongkir, dan berbagai bonus. Sementara, pelanggan lama yang sudah berkali-kali bertransaksi tidak mendapatkan keuntungan yang sebanding.

    Jika terus terjadi, pelanggan lama bisa merasa bisnis hanya mengejar pembeli baru. Padahal, mempertahankan pelanggan yang sudah mengenal dan mempercayai produk juga penting bagi keberlangsungan bisnis. Karena itu, promo sebaiknya tidak hanya digunakan untuk menarik pelanggan baru. Bisnis juga bisa memberikan poin loyalitas, akses promo lebih awal, gratis ongkir, hadiah ulang tahun, sampel produk, atau paket khusus untuk pelanggan yang sudah rutin berbelanja.

  4. 4. Pemburu diskon belum tentu menjadi pelanggan setia

    ilustrasi diskon
    ilustrasi diskon (unsplash.com/Artem Beliaikin)

    Diskon memang bisa mendatangkan banyak pembeli dalam waktu singkat. Namun, jumlah transaksi yang meningkat belum tentu berarti jumlah pelanggan setia juga bertambah. Sebagian konsumen memang sangat sensitif terhadap harga. Mereka bisa saja membeli produk ketika sedang mendapatkan voucher besar, kemudian berpindah ke toko lain begitu menemukan penawaran yang lebih murah.

    Kondisi ini menjadi masalah jika biaya untuk mendapatkan pelanggan tersebut cukup besar. Bisnis mungkin harus mengeluarkan uang untuk iklan, voucher, subsidi ongkir, dan potongan harga, tetapi pelanggan yang datang hanya melakukan satu kali pembelian. Misalnya, toko online berhasil mendapatkan ribuan pembeli melalui diskon besar. Jika sebagian besar dari mereka tidak pernah kembali kecuali ada voucher baru, artinya kampanye tersebut belum tentu memberikan keuntungan jangka panjang.

  5. 5. Diskon membuat harga normal terlihat tidak wajar

    ilustrasi perempuan sedang berbelanja
    ilustrasi perempuan sedang berbelanja (unsplash.com/Arturo Rey)

    Promosi yang terlalu sering juga bisa mengubah cara pelanggan melihat harga normal. Jika sebuah produk hampir selalu mendapatkan potongan 30–50 persen, konsumen mungkin mulai bertanya-tanya apakah harga awalnya memang realistis. Misalnya, sebuah produk selalu ditampilkan dengan harga Rp200 ribu, tetapi hampir setiap minggu dijual Rp100 ribu. Lama-kelamaan, pelanggan bisa menganggap Rp100 ribu sebagai harga sebenarnya. Harga Rp200 ribu justru terlihat seperti angka yang sengaja dinaikkan untuk membuat diskon tampak lebih besar.  

    Ketika hal seperti ini terjadi, bisnis akan lebih sulit menjual produk dengan harga normal. Konsumen sudah terlanjur memiliki patokan harga yang lebih rendah. Akibatnya, harga normal bisa terasa terlalu mahal meskipun sebenarnya masih sesuai dengan nilai produk.

    Pada akhirnya, masalahnya bukan terletak pada diskon itu sendiri, melainkan strategi yang digunakan. Promo yang terlalu sering dapat membuat pelanggan terbiasa menunggu, menurunkan persepsi terhadap nilai produk, bahkan membuat pelanggan lama merasa kurang dihargai. Bisnis tidak harus selalu menjadi yang paling murah untuk mempertahankan pelanggan. Yang lebih penting adalah membuat konsumen merasa mendapatkan nilai yang sepadan dengan uang yang mereka keluarkan, baik ketika sedang ada diskon maupun saat produk kembali ke harga normal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More