Jakarta, IDN Times - Pembentukan Kementerian Koordinator (Kemenko) Hilirisasi dan Transisi Energi dinilai dapat menjadi momentum untuk mempercepat investasi hilirisasi sekaligus pengembangan energi bersih di Indonesia. Namun, efektivitas kementerian yang berada di bawah koordinasi Bahlil Lahadalia tersebut akan sangat bergantung pada kemampuannya mengurai berbagai hambatan investasi yang selama ini tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga.
Guru Besar sekaligus pakar energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Muhammad Bachtiar Nappu mengatakan, hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan smelter atau fasilitas pengolahan. Investasi membutuhkan ekosistem yang mencakup bahan baku, energi, infrastruktur, pembiayaan, teknologi, tenaga kerja, regulasi hingga akses pasar.
“Pada dasarnya, hilirisasi bukan hanya soal membangun smelter atau pabrik. Hilirisasi membutuhkan sebuah ekosistem,” kata Bachtiar dalam keterangannya, Rabu (10/7/2026).
