Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Dapat Uang Lebih Belum Tentu Bikin Orang Langsung Boros?
Ilustrasi mendapatkan bonus (Pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
  • Pengeluaran seseorang dipengaruhi perkiraan pendapatan jangka panjang, bukan hanya jumlah uang yang diterima saat ini.

  • Bonus atau warisan bisa disimpan maupun diinvestasikan karena tambahan tersebut bersifat sementara.

  • Perubahan pendapatan permanen dan kondisi keuangan dapat memengaruhi peningkatan pengeluaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1957

Ekonom Milton Friedman merumuskan hipotesis pendapatan permanen. Teori ini menjelaskan hubungan antara perkiraan pendapatan masa depan dan pola konsumsi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hipotesis pendapatan permanen menjelaskan bahwa pengeluaran dipengaruhi perkiraan pendapatan jangka panjang, bukan hanya pendapatan saat ini.
  • Who?
    Milton Friedman merumuskan hipotesis ini, sementara setiap orang mengatur pengeluaran berdasarkan pandangan mereka terhadap pendapatan masa depan.
  • Where?
    Dalam keputusan konsumsi dan pengaturan pengeluaran seseorang.
  • When?
    Hipotesis ini dirumuskan pada 1957. Dampaknya terlihat ketika pendapatan saat ini berubah atau tambahan uang diterima.
  • Why?
    Karena orang mempertimbangkan pendapatan yang diperkirakan diterima dalam jangka panjang untuk menentukan pengeluaran.
  • How?
    Orang dapat menyimpan atau menginvestasikan bonus dan warisan, menggunakan pinjaman saat pendapatan menurun, atau meningkatkan pengeluaran ketika pendapatan jangka panjang meningkat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Orang mengatur uang bukan hanya dari uang yang baru diterima. Mereka juga memikirkan uang yang mungkin didapat nanti. Bonus atau warisan bisa disimpan, bukan langsung dibelanjakan. Milton Friedman menjelaskan hal ini lewat hipotesis pendapatan permanen. Pengeluaran dapat berubah kalau pendapatan masa depan dianggap lebih tinggi dan stabil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemahaman tentang pendapatan permanen menunjukkan bahwa tambahan uang tidak harus langsung habis untuk konsumsi. Bonus atau warisan dapat disimpan dan diinvestasikan, sementara pengeluaran dijaga tetap stabil. Cara pandang ini juga memperlihatkan bahwa peningkatan belanja dapat mengikuti perubahan pendapatan jangka panjang yang lebih tinggi dan stabil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Hipotesis pendapatan permanen atau Permanent Income Hypothesis menjelaskan seseorang biasanya mengatur pengeluaran berdasarkan perkiraan pendapatan yang akan mereka terima dalam jangka panjang. Jadi, bukan cuma melihat berapa uang yang masuk sekarang.

Dilansir Investopedia, sederhananya, seseorang akan memperkirakan berapa banyak pendapatan yang bisa mereka dapatkan sepanjang hidup. Perkiraan itulah yang kemudian menjadi dasar untuk menentukan berapa banyak uang yang bisa dibelanjakan.

Karena itu, tambahan uang yang sifatnya hanya sementara, seperti bonus, belum tentu membuat seseorang langsung meningkatkan pengeluaran. Ketika pendapatan yang diterima saat ini lebih besar daripada pendapatan yang diperkirakan dalam jangka panjang, sebagian orang justru cenderung menyimpan uang tersebut.

Sebaliknya, ketika pendapatan saat ini lebih rendah dari yang diperkirakan, seseorang bisa menggunakan pinjaman untuk menjaga pengeluarannya.

1. Gaji bulan ini bukan satu-satunya patokan

Ilustrasi upah (IDN Times)

Hipotesis pendapatan permanen dirumuskan ekonom Milton Friedman pada 1957. Teori ini menjelaskan perubahan pola konsumsi sulit diperkirakan karena bergantung pada cara setiap orang melihat pendapatan mereka pada masa depan.

Teori tersebut juga berkaitan dengan kebijakan ekonomi. Ketika sebuah kebijakan berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat, kenaikan itu belum tentu langsung membuat mereka meningkatkan belanja.

Menurut hipotesis ini, pengeluaran konsumen baru dapat meningkat ketika pekerja mengubah perkiraan terhadap pendapatan di masa depan. Jadi, kenaikan pendapatan yang hanya dianggap sementara belum tentu langsung mengubah pola konsumsi.

Pandangan Friedman berbeda dari ekonomi Keynesian yang melihat konsumsi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pendapatan setelah pajak yang diterima seseorang saat ini.

Friedman berpendapat orang cenderung menjaga pengeluarannya tetap stabil. Dengan cara itu, konsumsi tidak harus ikut naik turun setiap kali pendapatan mengalami perubahan dalam jangka pendek.

2. Dapat bonus atau warisan belum tentu langsung dibelanjakan

ilustrasi bonus (IDN Times/Aditya Pratama)

Perkiraan akan mendapat uang tambahan juga bisa memengaruhi cara seseorang mengatur pengeluaran. Misalnya, seorang pekerja sudah tahu kemungkinan akan mendapat bonus pada akhir periode pembayaran.

Informasi tersebut bisa membuatnya mengubah pengeluaran bahkan sebelum bonus diterima karena sudah memperkirakan akan ada tambahan uang. Namun, bonus itu juga belum tentu langsung dibelanjakan. Karena sifatnya hanya tambahan dalam jangka pendek, pekerja tersebut bisa memilih menyimpannya.

Hal yang sama bisa terjadi ketika seseorang mengetahui akan menerima warisan. Dana yang akan diterima memang bisa memengaruhi rencana keuangannya. Namun, dia juga bisa memilih mempertahankan pola pengeluaran seperti sebelumnya dan menyimpan aset tambahan tersebut.

Dana itu juga dapat diinvestasikan agar berkembang dalam jangka panjang, bukan langsung digunakan untuk membeli barang atau jasa yang hanya digunakan sekali.

3. Kondisi keuangan juga berpengaruh

ilustrasi tabungan emas (IDN Times/Nathaniel Tegar)

Kondisi likuiditas seseorang juga dapat memengaruhi cara mereka melihat pendapatan masa depan. Orang yang tidak memiliki aset mungkin sudah terbiasa berbelanja tanpa terlalu mempertimbangkan pendapatan yang mereka terima sekarang ataupun yang akan datang.

Namun, kondisi tersebut bisa berubah seiring waktu. Misalnya, seseorang mendapat kenaikan gaji secara bertahap atau memperoleh pekerjaan jangka panjang dengan gaji yang lebih tinggi dan stabil.

Ketika perkiraan pendapatan jangka panjang meningkat, pendapatan permanennya juga ikut berubah. Dalam kondisi tersebut, pengeluaran seseorang dapat ikut meningkat secara proporsional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article