Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kilang Minyak Terbakar, PM Australia Jamin Stok Energi Domestik Aman
Bendera Australia (unsplash.com/Amber Weir)
  • Kebakaran di kilang Viva Energy Geelong menurunkan produksi bensin hingga 60 persen, namun tidak ada korban dan perusahaan menjamin harga bahan bakar tetap stabil.
  • Pemerintah Australia mengamankan tambahan pasokan solar dari Brunei dan Korea Selatan serta memberikan jaminan keuangan impor untuk menjaga stok energi nasional tetap aman.
  • Konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak global dan berpotensi menekan ekonomi Australia, sehingga pemerintah memprioritaskan peningkatan ketahanan energi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese, mengunjungi fasilitas kilang minyak Viva Energy di Geelong pada Jumat (17/4/2026). Kunjungan ini bertujuan memberikan kepastian kepada masyarakat dan pasar energi domestik setelah kebakaran di unit pengolahan bahan bakar tersebut.

PM Albanese meninjau kerusakan fasilitas sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap aman, meski operasi kilang berkurang di tengah ketegangan geopolitik. Pemerintah menegaskan tidak akan membatasi atau menjatah pembelian bahan bakar masyarakat. 

1. Kebakaran kilang Geelong turunkan produksi bensin

Kebakaran di kilang Viva Energy, Geelong, terjadi pada Rabu (15/4) malam. Api bermula dari kebocoran katup di unit MOGAS (motor gasoline) akibat kendala mekanis. Tim Fire Rescue Victoria memadamkan api dalam waktu 13 jam.

Insiden ini merusak unit alkilasi, sehingga produksi bensin turun 60 persen dari kapasitas normal. Sebanyak 50 pekerja di lokasi selamat tanpa cedera berkat penerapan prosedur darurat.

"Saat ini kami masih bisa memproduksi sekitar 80 persen solar dan 60 persen bensin. Kami berharap produksi bisa kembali normal dalam beberapa minggu ke depan setelah pemeriksaan keamanan dan perbaikan selesai dilakukan," kata CEO Viva Energy, Scott Wyatt, dilansir The Guardian.

Penurunan produksi ini menjadi tantangan bagi penyalur bahan bakar di tenggara Australia. Kilang Geelong biasanya menyumbang 50 persen kebutuhan bahan bakar Victoria dan 10 persen pasokan nasional. Sebagai langkah keamanan, unit Residue Catalytic Cracking (RCCU) dimatikan sementara. Namun, unit pengolahan utama lain, seperti distilasi minyak mentah dan reformer, beroperasi normal.

"Semua biaya tambahan akibat insiden ini akan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan. Kami jamin tidak akan ada kenaikan harga untuk masyarakat, karena fokus utama kami adalah memastikan pasokan lancar untuk semua pelanggan," kata Scott Wyatt.

2. Pemerintah amankan pasokan bahan bakar tambahan

Untuk mencegah kekurangan pasokan, PM Albanese memperkuat kerja sama energi dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur. Australia telah mengamankan komitmen tambahan 100 juta liter solar dari Brunei dan Korea Selatan untuk operasional angkutan berat dan pertanian. Pemerintah juga memanfaatkan posisi sebagai pengekspor utama gas alam cair (LNG) dan batu bara untuk menjalin kesepakatan pasokan dengan Malaysia melalui Petronas.

"Kejadian di kilang ini tidak akan mengubah rencana keamanan bahan bakar nasional kita. Sistem kita sudah dirancang untuk menghadapi masalah global yang lebih besar, dan kami juga terus berkomunikasi dengan para pemimpin negara tetangga untuk memastikan pasokan penting ke Australia tetap aman," kata Albanese, dilansir Arise News.

Melalui Export Finance Australia, pemerintah memberikan jaminan keuangan untuk pembelian bahan bakar impor, didukung oleh perusahaan BP. Jaminan ini memungkinkan importir seperti Viva, Ampol, dan IOR membeli bahan bakar dalam jumlah besar tanpa terbebani fluktuasi harga yang tajam. Pemerintah juga memastikan stok Avgas untuk pesawat medis dan layanan darurat aman hingga 116 hari ke depan.

3. Konflik Timur Tengah pengaruhi pasokan minyak dan ekonomi Australia

Insiden kilang Geelong terjadi bersamaan dengan tantangan ekonomi akibat konflik di wilayah Timur Tengah. Konflik ini berdampak pada akses Selat Hormuz, jalur bagi 20 persen minyak mentah dunia, yang memicu kenaikan harga dan gangguan pengiriman. Saat ini, Australia hanya memiliki dua kilang beroperasi dan bergantung pada 80 hingga 90 persen impor bahan bakar olahan dari Asia. 

"Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi Australia hingga 0,6 persen pada tahun 2027 karena mahalnya harga minyak berdampak ke berbagai sektor. Oleh karena itu, meningkatkan ketahanan energi menjadi prioritas utama dalam anggaran pemerintah kami," kata Bendahara Negara Australia, Jim Chalmers.

Saat ini, Australia berada pada 'Tahap Dua' rencana keamanan bahan bakar nasional, yang mengimbau masyarakat menghemat bahan bakar secara sukarela. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team