Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Kunci Startup Tetap Bertahan saat Ekonomi Lesu, Wajib Dicoba Founder
ilustrasi startup (freepik.com/DC Studio)
  • Startup perlu menjaga arus kas dengan mengevaluasi dan memangkas biaya yang tidak mendukung pendapatan, retensi pelanggan, atau operasional penting.
  • Tim ramping, produk minimum, AI, serta freelancer membantu startup tetap produktif, cepat beradaptasi, dan mengatur kapasitas kerja saat pasar melambat.
  • Founder disarankan mempertahankan stabilitas finansial, membangun tim berkomitmen dengan aturan jelas, serta memprioritaskan pelanggan dan validasi produk sebelum mencari pendanaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat kondisi ekonomi sedang lesu, menjalankan startup tentu terasa jauh lebih menantang. Pelanggan bisa jadi lebih berhati-hati mengeluarkan uang, proses penjualan melambat, sementara investor juga semakin selektif menanamkan modal.

Dalam situasi seperti ini, kamu gak bisa lagi mengandalkan optimisme dan pertumbuhan agresif semata. Kamu perlu memastikan setiap keputusan bisnis benar-benar punya alasan yang jelas dan mendukung keberlangsungan perusahaan.

Justru ketika kondisi pasar sedang sulit, fondasi startup akan benar-benar diuji. Kalau kamu bisa melewati fase ini dengan strategi yang tepat, startup-mu punya peluang untuk keluar dari krisis dengan kondisi yang jauh lebih kuat.

1. Perlakukan uang sebagai napas bisnis

ilustrasi berpikir, bisnis, usaha, software, entrepreneur (vecteezy.com/Benis Arapovic)

Ketika ekonomi sedang lesu, uang tunai bukan sekadar angka di rekening perusahaan. Arus kas menentukan seberapa lama startup bisa terus membayar gaji, menjalankan operasional, melayani pelanggan, dan mengembangkan produk. Karena itu, kamu perlu tahu dengan jelas pengeluaran mana yang benar-benar membantu bisnis menghasilkan pendapatan atau mempertahankan pelanggan. Pengeluaran yang gak memberikan dampak nyata sebaiknya mulai dipertanyakan kembali.

Kamu bisa memulainya dengan mengevaluasi berbagai biaya rutin yang selama ini dianggap biasa. Langganan software yang jarang digunakan, layanan yang belum terlalu dibutuhkan, sampai kontrak vendor bisa dinegosiasikan ulang atau dihentikan sementara. Prinsip sederhananya, kalau sebuah pengeluaran gak membantumu mendapatkan, mempertahankan, atau melayani pelanggan dengan lebih baik dalam waktu dekat, pertimbangkan untuk memangkasnya. Dengan begitu, kamu punya ruang bernapas lebih panjang tanpa harus mengorbankan bagian bisnis yang benar-benar penting.

2. Jalankan bisnis dengan tim yang tetap ramping

ilustrasi teamwork (pexels.com/Ivan Samkov)

Saat pasar sulit, kecepatan mengambil keputusan menjadi semakin penting. Struktur organisasi yang terlalu besar bisa membuat keputusan sederhana membutuhkan terlalu banyak tahapan. Sebaliknya, tim kecil dengan pembagian tanggung jawab yang jelas memungkinkan kamu mencoba ide, melihat hasilnya, lalu melakukan perubahan dengan lebih cepat. Kondisi seperti ini juga membuat startup lebih mudah beradaptasi ketika kebutuhan pelanggan berubah.

Kamu juga gak perlu buru-buru membuat produk yang terlalu kompleks hanya demi terlihat lengkap. Bangun versi minimum yang bisa digunakan pelanggan, kemudian lihat respons mereka sebelum menghabiskan lebih banyak waktu dan uang. Dengan cara ini, kamu bisa menguji asumsi bisnis tanpa mempertaruhkan terlalu banyak sumber daya. Jadi, bekerja secara ramping bukan berarti memaksa tim bekerja lebih keras, melainkan menghilangkan proses yang gak perlu.

3. Manfaatkan AI dan tenaga kerja fleksibel

ilustrasi AI, teknologi (vecteezy.com/Ilham Bahrun)

Teknologi AI sekarang bisa membantu startup mengerjakan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Mulai dari membuat konten, mengolah data, membantu layanan pelanggan, sampai mendukung pekerjaan operasional bisa dilakukan dengan bantuan berbagai tools AI. Ini bisa menjadi keuntungan tersendiri ketika kamu harus menjaga biaya tetap rendah. Kamu jadi punya kesempatan untuk mempertahankan produktivitas tanpa harus langsung menambah banyak orang ke dalam tim.

Selain AI, kamu juga bisa mempertimbangkan freelancer atau pekerja kontrak untuk kebutuhan tertentu. Misalnya, kamu hanya membutuhkan seorang desainer untuk proyek selama beberapa bulan, sehingga belum tentu masuk akal merekrut karyawan tetap. Model seperti ini membuat kapasitas tim lebih fleksibel karena bisa dinaikkan atau diturunkan sesuai kebutuhan. Jadi, manfaatnya bukan hanya bisa menghemat biaya, tapi juga membuat startup lebih mudah beradaptasi dengan perubahan pasar.

4. Jangan buru-buru meninggalkan pekerjaan utama

ilustrasi resign (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Kalau kamu sedang membangun startup sebagai founder, mungkin ada dorongan untuk segera meninggalkan pekerjaan utama agar bisa fokus sepenuhnya. Namun, keputusan tersebut sebaiknya gak dilakukan hanya karena merasa harus terlihat serius sebagai seorang founder, ya. Kalau startup belum menghasilkan pendapatan yang stabil, pekerjaan tetapmu sebenarnya bisa menjadi sumber pendanaan paling awal. Penghasilan tersebut dapat membantu membiayai kebutuhan pribadi sekaligus mengurangi tekanan terhadap bisnis.

Dengan kondisi finansial yang lebih stabil, kamu juga punya ruang untuk mengambil keputusan dengan kepala dingin. Kamu gak harus memaksakan startup menghasilkan uang dalam waktu singkat hanya karena kebutuhan hidup bergantung sepenuhnya pada bisnis tersebut. Gunakan waktu di luar pekerjaan untuk membangun produk, menguji pasar, dan mencari pelanggan. Ketika startup sudah menunjukkan pertumbuhan yang nyata dan produknya terbukti diminati pelanggan, modal tambahan dapat digunakan untuk mempercepat sesuatu yang sudah terbukti bekerja.

5. Bangun tim bersama orang yang benar-benar percaya

ilustrasi bisnis startup (magnific.com/rawpixel.com)

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, orang-orang yang berada di belakang startup punya peran besar terhadap daya tahan bisnis. Kamu membutuhkan co-founder, penasihat, maupun anggota tim awal yang bukan sekadar bekerja karena menerima gaji. Orang yang benar-benar percaya terhadap tujuan perusahaan biasanya lebih siap menghadapi ketidakpastian dan ikut mencari solusi ketika keadaan gak sesuai rencana. Komitmen seperti ini bisa menjadi aset yang sulit dibeli hanya dengan uang.

Namun, rasa percaya tetap perlu dibangun dengan aturan yang jelas sejak awal. Kamu perlu menyepakati pembagian peran, ekspektasi, kepemilikan saham, hingga target yang ingin dicapai bersama. Jangan mengandalkan anggapan bahwa semua orang pasti memiliki pemahaman yang sama hanya karena mereka terlihat antusias saat pertama bergabung. Semakin jelas kesepakatannya, semakin kecil kemungkinan muncul konflik ketika startup mulai menghadapi tekanan.

6. Tunda pendanaan sampai kamu punya daya tawar

ilustrasi presentasi (freepik.com/DC Studio)

Mendapatkan suntikan modal memang bisa membuat startup terlihat lebih siap berkembang. Namun, menggalang dana terlalu cepat juga bisa membuatmu kehilangan fleksibilitas, terutama kalau bisnis sebenarnya belum membuktikan bahwa modelnya dapat berjalan. Ketika kamu mencari investor dalam kondisi sangat membutuhkan uang, posisi negosiasimu biasanya menjadi lebih lemah. Karena itu, sebisa mungkin jangan menjadikan pendanaan sebagai solusi pertama setiap kali startup menghadapi masalah.

Kamu bisa membangun bisnis secara bertahap dengan mengutamakan pelanggan, pendapatan, dan validasi produk terlebih dahulu. Ketika startup sudah menunjukkan bahwa produknya memang dibutuhkan pasar, modal tambahan dapat digunakan untuk mempercepat sesuatu yang sudah terbukti bekerja. Pendekatan ini juga membuatmu lebih disiplin dalam menggunakan uang sejak awal. Jadi, waktu terbaik untuk mencari pendanaan bukan ketika startup sedang kehabisan napas, melainkan ketika bisnis sudah memiliki fondasi yang membuat investor melihat adanya peluang pertumbuhan.

Ekonomi yang lesu memang bisa membuat banyak startup kesulitan bertahan. Namun, kondisi seperti ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mengetahui apakah bisnis yang kamu bangun benar-benar memiliki fondasi yang kuat. Fokus pada arus kas, menjaga tim tetap ramping, memanfaatkan teknologi, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti bisa membantu startup melewati periode sulit. Kamu juga perlu membangun tim yang solid dan gak terburu-buru mencari pendanaan hanya karena ingin tumbuh lebih cepat.

Pada akhirnya, bertahan ketika pasar sedang sulit bukan berarti harus berhenti berkembang. Kamu hanya perlu lebih selektif menentukan bagian mana yang layak dipertahankan, dikembangkan, atau dihentikan. Kalau startup-mu mampu membangun bisnis yang sehat saat kondisi pasar sedang gak bersahabat, kamu akan punya fondasi yang jauh lebih kuat ketika ekonomi kembali membaik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article