Harta Karun China, Cadangan Tembaga dan Emas Raksasa Ditemukan

- China menemukan deposit tembaga-polimetalik porfiri di Chating, Anhui, dengan potensi awal lebih dari satu juta ton tembaga dan 200 ton emas; bagian terdalam masih diteliti.
- Lokasi di Delta Sungai Yangtze didukung industri peleburan, kabel, dan energi baru, serta berpotensi memasok pengolahan terdekat dan mengurangi ketergantungan China pada impor konsentrat tembaga.
- Eksplorasi lebih lanjut hingga 3.000 meter direncanakan setelah temuan ini menunjukkan potensi mineralisasi di cekungan vulkanik sekitar Xuancheng, Nanling, Lishui, dan Liyang.
Jakarta, IDN Times – China menemukan cadangan tembaga dan emas dalam jumlah besar di Chating, Xuancheng, Provinsi Anhui, yang berada di bagian tengah dan hilir Sungai Yangtze. Laporan China Central Television (CCTV) yang dikutip South China Morning Post menyebut kementerian terkait pada Selasa (1/9/2026) menilai temuan deposit tembaga-polimetalik porfiri itu sebagai terobosan penting untuk membangun basis produksi tembaga dan emas berskala super besar di China Timur.
Hasil perhitungan awal menunjukkan potensi lebih dari satu juta ton tembaga dan 200 ton emas, sementara bagian deposit yang lebih dalam masih dalam tahap penelitian. Jumlah tersebut setara dengan gabungan beberapa tambang tembaga besar yang masing-masing memiliki lebih dari 500 ribu ton. Temuan ini sekaligus melampaui 10 tambang emas besar dengan kapasitas setidaknya 20 ton.
1. Lokasi temuan menopang kebutuhan industri China

ilustrasi tambang (pexels.com/Tom Fisk) Posisi deposit di Delta Sungai Yangtze menawarkan dukungan logistik karena kawasan tersebut telah memiliki industri peleburan, manufaktur kabel, serta sektor energi baru. Tembaga dibutuhkan untuk jaringan listrik, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan pusat data kecerdasan buatan. Sementara itu, emas digunakan dalam elektronik kelas tinggi, peralatan kedirgantaraan, serta cadangan bank sentral.
Badan bijih utama di kawasan itu memiliki panjang 1,2 kilometer dan lebar 1,1 kilometer. Tim eksplorasi telah melakukan lebih dari 70 pengeboran dalam empat bulan. Salah satu pengeboran mencapai kedalaman lebih dari 2 ribu meter, dengan interval mineralisasi paling tebal mencapai 1.370 meter.
Kementerian Sumber Daya Alam (KSDA) menyebut terobosan tersebut penting untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri China.
“China memiliki permintaan yang kuat terhadap tembaga dan tetap sangat bergantung pada pasokan eksternal, namun deposit Chating di Anhui menunjukkan bahwa negara ini masih memiliki potensi eksplorasi domestik yang cukup besar,” kata KSDA, dikutip South China Morning Post.
China harus mengimpor lebih dari 80 persen konsentrat tembaganya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pemerintah meluncurkan kampanye eksplorasi mineral nasional pada 2021 untuk mengurangi ketergantungan itu. Dalam program ini, Chating ditetapkan sebagai proyek prioritas dalam pencarian tembaga, emas, tanah jarang, antimon, dan sumber daya strategis lainnya.
2. Eksplorasi Chating memperjelas potensi mineral

ilustrasi area tambang (pexels.com/Tom Fisk) Eksplorasi di Desa Shangchang memperjelas keberadaan potensi mineral pada bagian yang lebih dalam maupun kawasan di sekitarnya. Pemimpin teknis eksplorasi sekaligus Wakil Direktur Laboratorium Prediksi dan Evaluasi Bumi Dalam di Akademi Ilmu Geologi China, Lin Bin, menjelaskan manfaat strategis dari temuan tersebut.
“Menemukan deposit tembaga-emas sebesar ini di jantung Delta Sungai Yangtze memberikannya keunggulan geografis dan infrastruktur yang sangat kuat,” kata Lin, dikutip Global Times.
Lin menyebut kadar emas di kawasan itu relatif tinggi, sementara mineral ikutan seperti perak dan sulfur dapat dipulihkan secara bersamaan sehingga satu tambang menghasilkan beberapa produk. Pengembangan kawasan tersebut diharapkan dapat memasok pabrik pengolahan terdekat dan memangkas biaya angkutan jarak jauh. Langkah ini juga diyakini dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor.
3. Temuan Chating membuka peluang eksplorasi lanjutan

Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran) Penemuan tersebut mematahkan pandangan geologi tradisional yang menyebut cekungan vulkanik luas jarang memiliki endapan tembaga-emas porfiri berukuran besar. Fenomena itu menunjukkan adanya potensi mineralisasi yang berkaitan dengan Orogeni Yanshanian di sepanjang Sungai Yangtze. Hal ini membuka peluang temuan serupa di cekungan vulkanik Xuancheng dan Nanling di Anhui, hingga Lishui dan Liyang di Jiangsu.
Proyek pengeboran ilmiah hingga kedalaman 3 ribu meter direncanakan untuk memetakan struktur sistem secara menyeluruh sekaligus membentuk “model Chating” bagi eksplorasi mendatang. South China Morning Post juga mencatat peringatan Badan Energi Internasional (IEA) mengenai ancaman defisit pasokan tembaga global hingga 25 persen dari permintaan pada 2035. Di saat yang sama, harga tembaga di Bursa Logam London (LME) menembus 14.294 dolar AS (setara Rp251,7 juta) per ton dan emas spot mencapai sekitar 4.430 dolar AS per troy ons.





















