Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Laporan Oxfam: Triliuner Kini Menguasai Kekuasaan dan Media

ilustrasi billionaires, orang kaya
ilustrasi billionaires, orang kaya (vecteezy.com/Ahmad Juliyanto)
Intinya sih...
  • Kekayaan triliuner tumbuh di tengah stagnasi kemiskinanDilansir CNBC, laporan Oxfam menunjukkan total kekayaan triliuner global telah mencapai sekitar US$18,3 triliun. Situasi ini menggambarkan betapa cepatnya uang berputar di kalangan elite.
  • Uang besar membuka jalan ke kekuasaan politikTriliuner dinilai memiliki kemampuan memengaruhi kebijakan melalui kedekatan dengan penguasa atau keterlibatan langsung dalam pemerintahan. Suara publik kerap kalah oleh kepentingan elite.
  • Media menjadi alat pengaruh baru kaum super kayaBeberapa triliuner diketahui menguasai media besar di berbagai negara. Opini publik
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayangkan jika segelintir orang super kaya bukan hanya menguasai pasar, tapi juga bisa membentuk opini publik dan kebijakan politik yang memengaruhi hidupmu sehari-hari. Laporan terbaru dari lembaga amal global, Oxfam, mengungkapkan bahwa inilah kenyataan yang sedang kita hadapi. Kekayaan para miliuner atau triliuner dunia telah meroket ke rekor tertinggi, sementara upaya pengentasan kemiskinan justru mandek.

Hal yang lebih mengkhawatirkan, kekuatan finansial itu kini banyak dialihkan untuk menguasai media dan politik. Akibatnya, kesenjangan antara yang super kaya dan masyarakat biasa semakin melebar. Dalam artikel ini, kamu akan diajak memahami bagaimana konsentrasi kekuasaan ini terjadi dan dampaknya bagi kehidupan kita semua.

1. Kekayaan triliuner tumbuh di tengah stagnasi kemiskinan

ilustrasi kawasan kumuh (pexels.com/Maksim Romashkin)
ilustrasi kawasan kumuh (pexels.com/Maksim Romashkin)

Dilansir CNBC, laporan Oxfam menunjukkan total kekayaan triliuner global telah mencapai sekitar US$18,3 triliun. Angka ini melonjak tajam hanya dalam satu tahun terakhir, dengan kenaikan sekitar 16 persen. Sejak 2020, akumulasi kekayaan kelompok super kaya bahkan meningkat lebih dari 80 persen. Situasi ini menggambarkan betapa cepatnya uang berputar di kalangan elite.

Sebaliknya, pengurangan kemiskinan global berjalan sangat lambat. Oxfam menilai tingkat kemiskinan dunia secara umum masih berada di posisi mirip sebelum pandemi. Artinya, pertumbuhan kekayaan ekstrem gak otomatis memperbaiki kehidupan kelompok bawah. Kamu bisa melihat jurang kesejahteraan makin nyata di berbagai negara.

2. Uang besar membuka jalan ke kekuasaan politik

ilustrasi pimpinan politik (vecteezy.com/Irina Kryvasheina)
ilustrasi pimpinan politik (vecteezy.com/Irina Kryvasheina)

Oxfam menyoroti bagaimana kekayaan yang besar sering digunakan untuk mendapatkan akses politik. Triliuner dinilai memiliki kemampuan memengaruhi kebijakan melalui kedekatan dengan penguasa atau keterlibatan langsung dalam pemerintahan. Pengaruh tersebut membuat proses demokrasi gak lagi setara bagi semua warga. Suara publik kerap kalah oleh kepentingan elite.

Direktur Eksekutif Oxfam, Amitabh Behar, menilai dominasi super kaya terhadap politik menciptakan defisit demokrasi berbahaya. Kebijakan publik cenderung dibuat untuk melindungi aset dan kepentingan segelintir orang. Dampaknya, hak-hak masyarakat luas justru terpinggirkan. Kamu akhirnya hidup di sistem yang terasa makin jauh dari kepentingan rakyat.

3. Media menjadi alat pengaruh baru kaum super kaya

Ilustrasi membuka media sosial. (pexels.com/ketut subiyanto)
Ilustrasi membuka media sosial. (pexels.com/ketut subiyanto)

Selain politik, kepemilikan media juga menjadi sorotan penting dalam laporan ini. Beberapa triliuner diketahui menguasai media besar di berbagai negara. Kepemilikan tersebut memberi mereka kendali atas arus informasi dan framing berita. Opini publik pun bisa diarahkan secara halus sesuai kepentingan pemilik modal.

Ketika media berada di tangan elite, ruang kritik berisiko menyempit. Informasi yang kamu konsumsi belum tentu sepenuhnya netral atau berimbang. Oxfam menilai konsentrasi media di tangan super kaya sebagai ancaman serius bagi kebebasan berekspresi. Dalam jangka panjang, demokrasi bisa melemah tanpa disadari.

4. Kebijakan ekonomi cenderung berpihak pada elite

ilustrasi ekonomi dunia (pexels.com/Monstera Production)
ilustrasi ekonomi dunia (pexels.com/Monstera Production)

Laporan Oxfam juga mengkritik kebijakan ekonomi negara maju yang dinilai terlalu memanjakan kelompok kaya. Beberapa aturan pajak justru memberi keuntungan tambahan bagi mereka yang berpenghasilan sangat tinggi. Di Amerika Serikat misalnya, kebijakan pajak terbaru disebut meningkatkan pendapatan kelompok kaya jutaan dolar. Sementara itu, mayoritas warga kesulitan menjaga kualitas hidup layak.

Data dari Ludwig Institute for Shared Economic Prosperity menunjukkan banyak warga Amerika gak mampu memenuhi standar hidup minimal. Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa kebijakan fiskal belum berpihak pada masyarakat luas. Saat elite mendapat keringanan pajak, ruang anggaran publik ikut menyempit. Kamu akhirnya merasakan dampaknya lewat layanan sosial yang terbatas.

5. Ketimpangan memicu gejolak dan kemarahan sosial

ilustrasi unjuk rasa (pexels.com/Kelly)
ilustrasi unjuk rasa (pexels.com/Kelly)

Oxfam mencatat meningkatnya protes besar di berbagai negara akibat tekanan ekonomi. Dalam satu tahun, lebih dari seratus aksi signifikan terjadi di puluhan negara. Banyak protes tersebut dihadapi dengan kekerasan oleh aparat. Kondisi ini mencerminkan akumulasi kemarahan publik akibat ketidakadilan ekonomi.

Amitabh Behar menyampaikan bahwa kemiskinan ekonomi menciptakan kelaparan, sementara kemiskinan politik melahirkan kemarahan. Pernyataan ini menggambarkan keterkaitan kuat antara ketimpangan dan instabilitas sosial. Kamu bisa melihat bagaimana tekanan biaya hidup mendorong masyarakat turun ke jalan. Tanpa perubahan kebijakan, konflik sosial berpotensi terus berulang.

6. Seruan Oxfam untuk membatasi dominasi triliuner

ilustrasi mata uang dolar Amerika (unsplash.com/Viacheslav Bublyk)
ilustrasi mata uang dolar Amerika (unsplash.com/Viacheslav Bublyk)

Sebagai langkah solusi, Oxfam mendesak pemerintah menyusun rencana nasional pengurangan ketimpangan. Pajak terhadap super kaya dianggap penting untuk menekan konsentrasi kekuasaan. Selain itu, pemisahan tegas antara uang dan politik perlu diperkuat. Perlindungan kebebasan berekspresi juga menjadi sorotan utama.

Oxfam turut memperingatkan dampak pemangkasan bantuan internasional oleh negara kaya. Laporan tersebut memperkirakan jutaan kematian tambahan bisa terjadi jika tren ini berlanjut hingga 2030. Isu ini menunjukkan bahwa ketimpangan bukan sekadar statistik. Dampaknya nyata dan menyentuh kehidupan jutaan orang, termasuk kamu.

Laporan Oxfam menggambarkan dunia di mana kekayaan ekstrem berubah menjadi alat kekuasaan. Triliuner gak hanya menguasai pasar, tapi juga memengaruhi politik dan media.

Kondisi ini memperlebar kesenjangan serta melemahkan demokrasi. Tanpa kebijakan tegas, ketimpangan berisiko makin sulit dikendalikan. Dengan memahami situasi ini, kamu bisa lebih kritis melihat hubungan antara uang, kekuasaan, dan masa depan keadilan sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Buah Manis Transformasi, BRI Dinobatkan sebagai Bank of The Year 2025

21 Jan 2026, 17:19 WIBBusiness