Lenyapnya Kelas Menengah AS: Data Federal Beberkan Fakta Pahit

- Kelompok 1% teratas menguasai 18% pendapatan nasional, sementara kelas menengah tergerus di antara kelompok ekstrem.
- Kebijakan pajak dan bantuan sosial hanya memperlambat ketimpangan, tidak menghentikannya.
- Pendapatan kelompok ultra kaya naik lebih dari tujuh kali lipat, menciptakan jurang ekonomi yang makin lebar.
Bayangkan kamu adalah bagian dari mesin ekonomi terbesar di dunia, bekerja keras dan berharap kehidupanmu semakin membaik dari tahun ke tahun. Tapi, apa yang terjadi jika ternyata potongan kue ekonomi yang kamu dapat justru semakin mengecil?
Dilansir fortune.com, laporan terbaru dari Congressional Budget Office (CBO) Amerika Serikat mengungkap fakta pahit yang dialami kelas menengah selama empat dekade terakhir. Data dari 1979 hingga 2022 menunjukkan terjadi perubahan besar dalam peta ekonomi AS. Intinya, orang kaya semakin kaya, sementara posisi kelas menengah justru tergerus.
Artikel ini akan membahas bagaimana hal itu terjadi dan apa artinya untuk kamu yang mungkin merasa roda ekonomi berputar semakin cepat, namun sulit untuk naik ke level yang lebih sejahtera.
1. Porsi pendapatan semakin dikuasai kelompok teratas

Data CBO menunjukkan kelompok 1% teratas mengalami lonjakan besar dalam penguasaan pendapatan nasional. Pada 1979, bagian mereka sekitar 9% dari total pendapatan sebelum pajak dan bantuan sosial. Pada 2022, angkanya naik menjadi 18%, atau dua kali lipat dalam waktu lebih dari empat dekade. Ini menandakan sebagian besar pertumbuhan ekonomi justru mengalir ke lapisan paling atas.
Sebaliknya, kelompok berpendapatan rendah hanya mengalami sedikit perubahan, dari 5% menjadi 4%. Tekanan terbesar justru dirasakan kelas menengah karena ruang mereka semakin menyempit di antara dua ekstrem. Posisi ini membuat kelas menengah seperti kehilangan pijakan kuat dalam struktur ekonomi nasional.
2. Kelas menengah tetap melemah meski ada pajak dan bantuan sosial

CBO juga menghitung pendapatan setelah pajak dan transfer sosial untuk melihat dampak kebijakan pemerintah. Hasilnya, bagian pendapatan kelompok kelas menengah tetap menurun sekitar enam poin persentase selama 43 tahun terakhir. Pada periode yang sama, bagian pendapatan kelompok 1% teratas justru naik dari 7% menjadi 14%.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan pajak dan bantuan sosial hanya mampu memperlambat ketimpangan, bukan menghentikannya. Bantuan memang membantu kelompok miskin bertahan, tapi kelas menengah gak mendapatkan penguatan posisi ekonomi secara signifikan. Kalau kamu merasa bekerja keras tapi sulit naik kelas secara finansial, data ini menjelaskan kenapa perasaan itu muncul.
3. Pertumbuhan ekstrem terjadi di kalangan ultra kaya

Pendapatan rata-rata memang naik di semua kelompok sejak 1979. Namun, laju kenaikan di puncak piramida jauh lebih cepat dibanding kelompok lain. Untuk kelompok 0,01% teratas, pendapatan setelah pajak dan bantuan sosial meningkat lebih dari tujuh kali lipat.
Perbedaan ini menciptakan jurang ekonomi yang makin lebar dari waktu ke waktu. Ketika kelompok atas melonjak sangat tinggi, kelas menengah terlihat seperti jalan di tempat. Kondisi ini membuat ketimpangan terasa bukan hanya di angka statistik, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pendapat pakar: ilusi merasa tidak lebih sejahtera

Menurut Kent Smetters, profesor di Wharton School dan Direktur Fakultas Penn Wharton Budget Model, ada fenomena psikologi ekonomi yang ikut memengaruhi cara masyarakat memandang kondisi keuangan mereka. Ia dikenal sebagai akademisi yang fokus pada kebijakan fiskal, sistem pajak, dan dinamika ekonomi rumah tangga. Dalam pandangannya, banyak orang gak merasa lebih kaya meski standar hidup sebenarnya meningkat dibanding 20 atau 30 tahun lalu.
Ia menilai perasaan ini muncul karena efek “money illusion”, yaitu ketika kenaikan harga membuat orang sulit merasakan peningkatan pendapatan. Smetters memberi contoh perubahan teknologi pada kendaraan keluarga, di mana dulu orang harus sering menyiapkan dana untuk mobil rusak, sementara sekarang kualitas teknologi membuat hal itu jarang terjadi. Artinya, kualitas hidup meningkat, tapi persepsi masyarakat tetap merasa tertekan karena biaya hidup terlihat makin mahal.
5. Capital gains menjadi mesin utama ketimpangan

CBO menilai sumber utama ketimpangan berasal dari market income, khususnya keuntungan modal atau capital gains. Pendapatan jenis ini jauh lebih besar porsinya bagi kelompok kaya dibanding kelompok lain. Saat pasar saham atau aset naik, lonjakan terbesar otomatis dinikmati mereka yang sudah punya banyak investasi.
Kenaikan market income di kelompok teratas inilah yang mendorong peningkatan ketimpangan sejak akhir 1970-an. Pemerintah mencoba mengimbanginya lewat pajak progresif, sehingga kelompok pendapatan tertinggi kini membayar sekitar 70% dari total pajak federal, naik dari 55% pada 1979. Namun, struktur pajak ini juga membuat negara sulit menambah penerimaan karena beban sudah sangat terkonsentrasi di kelompok kaya.
6. Pandemi memperlihatkan rapuhnya sistem ekonomi

CBO juga mencatat kondisi ekonomi setelah pandemi COVID-19 sangat bergejolak. Pada 2022, pendapatan setelah pajak dan bantuan sosial turun di semua kelompok pendapatan. Bagi kelompok berpenghasilan rendah, penurunan terjadi karena berakhirnya kebijakan sementara seperti kredit pajak anak dan bantuan pemulihan ekonomi.
Bagi kelompok kaya, penurunan disebabkan oleh turunnya capital gains setelah lonjakan besar pada 2021. Meski fluktuasi ini bersifat sementara, tren jangka panjang tetap menunjukkan ketimpangan lebih besar dibanding era 1979. Indeks ketimpangan pendapatan menegaskan jarak antara kelompok kaya dan kelompok lain semakin lebar.
Lenyapnya kelas menengah di Amerika Serikat bukan sekadar perubahan angka statistik, tapi realitas sosial yang berdampak luas. Data federal menunjukkan pertumbuhan ekonomi tidak dibagi secara merata, dengan kelompok super kaya menikmati porsi terbesar dari kue ekonomi. Meski standar hidup meningkat, rasa aman finansial justru makin sulit diraih kelas menengah.
Pendapat pakar memperlihatkan bahwa faktor psikologis dan struktur pasar ikut memperkuat kesenjangan ini. Jika tren ini terus berlanjut, kelas menengah berisiko kehilangan peran pentingnya sebagai fondasi stabilitas ekonomi.











.jpg)






