Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Sweet Crude, Jenis Minyak Mentah Berkualitas Tinggi
ilustrasi sumur minyak mentah (freepik.com)
  • Sweet crude adalah minyak mentah dengan kadar sulfur rendah, bernilai ekonomi tinggi, dan lebih efisien diolah dibandingkan sour crude yang memiliki kandungan sulfur tinggi.
  • Standar NYMEX menetapkan sweet crude memiliki sulfur maksimal 0,42 persen; dulunya penentuan dilakukan secara manual lewat rasa dan aroma untuk membedakan minyak manis dan asam.
  • West Texas Intermediate (WTI) menjadi contoh utama light sweet crude karena ringan, rendah residu, serta aktif diperdagangkan di pasar global seperti NYMEX.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dalam industri pertambangan minyak, istilah sweet crude merujuk pada jenis minyak mentah yang memiliki kandungan sulfur sangat rendah. Jenis ini dinilai memiliki nilai ekonomi yang tinggi serta lebih efisien saat diolah.

Hal tersebut dikarenakan keberadaan sulfur yang tinggi dapat menurunkan kualitas serta jumlah produksi pada produk turunan minyak, mulai dari bensin, solar, hingga bahan baku plastik.

Dilansir Investopedia, karakteristik sweet crude ini berbanding terbalik dengan sour crude, yang cenderung kurang diminati di pasar global karena kadar sulfurnya yang tinggi.

1. Mekanisme dan standar penentuan sweet crude

ilustrasi sumur bor lepas pantai (unsplash.com/thsalles)

Secara kimiawi, sebagian besar minyak mentah terdiri dari karbon sebesar 85 persen dan hidrogen sebanyak 12 persen. Sementara itu, sisa persentasenya merupakan campuran dari sulfur, oksigen, nitrogen, serta helium. Komposisi unsur-unsur inilah yang nantinya menentukan tingkat kemudahan proses pemurnian minyak, terutama terkait seberapa banyak residu atau sisa yang dihasilkan setelah penyulingan.

Industri minyak akan jauh lebih mudah mengolah bahan mentah jika kandungan sulfurnya sangat minim. Guna menyeragamkan standar, bursa NYMEX menetapkan bahwa sebuah minyak mentah dapat dikategorikan sebagai sweet crude jika kandungan sulfurnya tidak melebihi angka 0,42 persen.

Secara historis, penentuan kadar sulfur dilakukan dengan metode konvensional sebelum adanya teknologi modern. Para pencari minyak pada masa lampau harus mencicipi minyak tersebut secara langsung.

Jika minyak terasa agak manis dan tidak berbau menyengat, maka minyak tersebut dianggap rendah sulfur. Sebaliknya, jika terasa asam dan beraroma seperti telur busuk, maka kandungan sulfurnya tergolong tinggi. Dari kebiasaan mencicipi inilah istilah sweet (manis) dan sour (asam) mulai digunakan hingga saat ini.

2. Pengaruh densitas terhadap kualitas minyak

Ilustrasi Sumur Minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain faktor sulfur, densitas atau tingkat kepadatan juga menjadi indikator utama dalam menentukan kualitas minyak mentah. Berdasarkan standar dari American Petroleum Institute (API), minyak dikelompokkan menjadi kategori "ringan" (light) atau "berat" (heavy) dengan membandingkannya terhadap massa jenis air.

Dalam skala API, minyak yang memiliki densitas setara dengan air diberi nilai API Gravity sebesar 10. Skala ini bekerja secara terbalik:

  • Light Crude: Memiliki nilai API Gravity lebih dari 10, sehingga dapat mengapung di air.

  • Heavy Crude: Memiliki nilai API Gravity kurang dari 10, sehingga akan tenggelam jika berada di dalam air.

Perlu dicatat tidak semua minyak ringan otomatis masuk kategori sweet. Namun, sebagian besar minyak berat (heavy crude) cenderung bersifat sour karena biasanya mengandung sulfur tinggi serta unsur logam seperti nikel.

Industri lebih memprioritaskan minyak ringan karena kemudahannya dalam proses pengolahan, penyulingan, hingga mobilisasi atau pengangkutan.

3. West Texas Intermediate sebagai contoh utama

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/ Erik Mclean)

Jenis minyak mentah yang dianggap paling ideal di pasar global adalah light sweet crude. Kombinasi antara massa yang ringan dan kadar sulfur yang rendah membuatnya sangat efisien karena hanya menyisakan sedikit residu serta lebih praktis dalam jalur distribusi.

Contoh yang paling populer dari jenis ini adalah West Texas Intermediate (WTI). Minyak asal Amerika Utara ini dikenal lebih ringan dan memiliki tingkat "kemanisan" yang lebih baik jika dibandingkan dengan jenis Brent maupun Dubai crude.

Popularitas WTI juga didorong oleh lokasinya yang diproduksi dan diolah di kawasan yang sama, serta menjadi komoditas yang aktif diperdagangkan di pasar berjangka seperti NYMEX.

Editorial Team