ilustrasi sumur bor lepas pantai (unsplash.com/thsalles)
Secara kimiawi, sebagian besar minyak mentah terdiri dari karbon sebesar 85 persen dan hidrogen sebanyak 12 persen. Sementara itu, sisa persentasenya merupakan campuran dari sulfur, oksigen, nitrogen, serta helium. Komposisi unsur-unsur inilah yang nantinya menentukan tingkat kemudahan proses pemurnian minyak, terutama terkait seberapa banyak residu atau sisa yang dihasilkan setelah penyulingan.
Industri minyak akan jauh lebih mudah mengolah bahan mentah jika kandungan sulfurnya sangat minim. Guna menyeragamkan standar, bursa NYMEX menetapkan bahwa sebuah minyak mentah dapat dikategorikan sebagai sweet crude jika kandungan sulfurnya tidak melebihi angka 0,42 persen.
Secara historis, penentuan kadar sulfur dilakukan dengan metode konvensional sebelum adanya teknologi modern. Para pencari minyak pada masa lampau harus mencicipi minyak tersebut secara langsung.
Jika minyak terasa agak manis dan tidak berbau menyengat, maka minyak tersebut dianggap rendah sulfur. Sebaliknya, jika terasa asam dan beraroma seperti telur busuk, maka kandungan sulfurnya tergolong tinggi. Dari kebiasaan mencicipi inilah istilah sweet (manis) dan sour (asam) mulai digunakan hingga saat ini.